
Photo
JawaPos.com- Melintas di Jalan Satria, Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, terdapat bangunan lama. Salah satu di antara bangunan cagar budaya di Kota Delta. Sayangnya, kondisinya kini makin memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Padahal, berpotensi jadi tempat wisata budaya.
Di depan bangunan itu ada papan berlatar hijau dengan tulisan: Markas Besar Oelama. Di atas tulisan itu ada lambang Nahdlatul Ulama (MBO). Di sisinya, terpasang bendera merah putih.
Kabarnya, bangunan tersebut merupakan salah satu saksi bisu lahirnya peristiwa 10 November 1945. Menjadi tempat rapat atau pertemuan dalam mengatur strategi perjuangan kaum santri melawan penjajah dimulai.
Bangunan MBO itu berciri khas Belanda. Berdiri di sebuah gang kecil, tepat di belakang Pabrik Paku, Kedungrejo, Waru. Dindingnya sudah terkelupas di sana-sini. Batu bata merahnya pun tampak menyapa setiap mata yang memandang.
“Sudah tua sekali. Atapnya bocor kalau hujan, lantainya juga banjir jika hujannya deras. Ya, kondisinya sekarang seperti ini. Eman sebenarnya,” ujar Ahmad Ghozali, penjaga bangunan itu, seperti dilansir Jawa Pos Radar Sidoarjo (9/12).
Melihat kondisi tersebut, siapapun mungkin tidak menyangka bahwa bangunan itu memiliki nilai sejarah besar. Pernah menjadi markas besar para ulama dan santri dalam mengatur strategi pertempuran mempertahankan kemerdekaan.
Ghozali mengungkapkan, dulu bangunan itu sebuah rumah. Pemiliknya dikenal sebagai Haji Rois.
‘’Dari ceritanya, KH Bisri Syansuri atas perintah Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari, Red) berkumpul di rumah ini mengatur strategi perang. Juga, sempat menjadi persinggahan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah selaku pemimpin komando barisan mujahidin saat itu,” imbuhnya.
Ghozali menyayangkan, tak ada renovasi untuk bangunan MBO tersebut. Alasan itulah, yang membuatnya sempat melarang orang yang hendak menggelar kegiatan di bangunan bersejarah itu. ’’Ada yang berniat melakukan kegiatan. Saya larang karena giman, ini membahayakan. Banyak yang runtuh. Saya berharap ada yang peduli dengan ini,” katanya.
Sehari-hari, Ghozali hanya merawat ala kadarnya. Meski tak dibayar, kebutuhan listrik dan kebersihan bangunan itu selalu dipenuhi. ’’’Tapi kalau begini terus, ya lama-lama mungkin saya tinggalin. Bisa mengancam nyawa saya jika sewaktu-waktu roboh,” keluhnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
