Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Oktober 2021 | 20.55 WIB

Susur Sungai Amstel, Membandingkan dengan Kali Surabaya

Photo - Image

Photo

Selama di Belanda untuk ikut berkampanye tolak pengiriman sampah plastik ke Indonesia, Aeshnina Azzahra Aqilani, pelajar SMPN 12 Gresik, juga melakukan susur sungai. Yakni, kanal atau Sungai Amstel di Amsterdam. Nina, panggilan akrabnya, menceritanya kepada Jawa Pos dengan gaya bertutur saya.

---

Sinar matahari sudah terang. Tapi, terpaan angin yang menyelinap ke badan, terasa begitu dingin. Pakaian rangkap yang saya kenakan tidak cukup kuat menahan dingin itu. Saya pun melihat ke layar aplikasi Android untuk mengecek suhu udara. Rupanya, saat itu di Amsterdam suhu udaranya 9 derajat Celsius. Di kampung asal saya, di Wringinanom, Gresik, suhu udaranya bisa lebih 34 derajat Celsius.

Meski suhu dingin terasa menusuk, saya bersemangat untuk menyusuri Sungai Amstel. Sejak dari rumah, saya memang bertekad untuk bisa menyusuri sungai tersebut.

Saya ingin membandingkan dengan Kali Surabaya. Kali persis di depan rumah saya, yang hampir setiap saat saya jelajahi bersama teman-teman. Membersihkan sampah-sampah plastik, menanam pohon di bantaran, melepas benih ikan hingga menguji kualitas airnya. Untuk mengetahui tingkat pencemarannya. Sebab, air dari Kali Surabaya itu sebagai bahan baku perusahaan daerah air minum (PDAM). Baik Surabaya dan juga Gresik.

Saking seringnya menyusuri Kali Surabaya, saya begitu hafal di luar kepala. Selalu melihat tumpukan sampah. Di mana-mana. Di sepanjang perjalanan penyusuran Kali Surabaya, saya selalu melihat sampah-sampah plastik. Mulai tas kresek, botol plastik, sedotan, popok, sachet, styrofoam, bahkan bangkai hewan mengambang di sungai.

Di bantaran sungai juga banyak warga yang membangun rumah. Mereka memanfaatkan sungai menjadi tempat sampah. Air sungai pun menjadi kotor, keruh, dan bau. Ditambah lagi, masih banyak industri abai. Membuang limbah langsung ke sungai tanpa diolah. Beruntung, walaupun air sungainya kotor, tapi melempar pandang ke kiri dan ke kanan Kali Surabaya, pemandangannya masih indah. Banyak pohon-pohon di bantaran Kali Surabaya.

Berbeda dengan Sungai Amstel. Di tepian sungai itu, sudah terbangun beton. Dampak betonisasi tersebut, sebagian bantaran tak terlihat ada rerimbunan tanaman seperti di Kali Surabaya. Jalan memanjang bersebelahan dengan bantaran sungai. Sepanjang jalan tepi sungai, berderet rumah-rumah tua. Tertata rapi. Vintage. Mata pun terasa segar. Sungguh indah melihatnya.

Beberapa spot untuk parkir sepeda angin. Berjajara. Warga berlalu-lalang naik sepeda. Orang besar, kecil, tua, muda, cowok maupun cewek terlihat begitu riang naik sepeda. Bersepatu, pakai jas, berjaket, membawa tas, pakai topi, tapi mengendarai sepeda. Saya melihat, banyak orang bersepeda dibandingkan naik mobil. Model sepedanya pun beragam. Ada yang seperti trailer membawa muatan gandengan di belakang sepedanya, ada juga sepeda dengan kontaknya di depan.

Saya hanya melihat sampah daun di permukaan Sungai Amstel. Juga, beberapa sampah plastik seperti tas kresek, bungkus makanan, dan gelas kaleng. Namun, jumlahnya amat sedikit. Ada banyak bebek dan burung berenang. Mereka memburu ikan, tanpa takut dengan kehadiran orang. Kapal dan perahu terparkir di pinggir kanal. Rumah kapal yang berhadap-hadapan.

Sungai Amstel bersih. Tentu karena ada upaya serius dari pemerintah kota setempat. Misalnya, menghambat pencemaran sampah plastik dengan menggunakan bubble barrier, yaitu berupa udara yang ditiupkan dari dasar sungai. Sampah menjadi tertahan. Sampah yang terhalau itu kemudian dialirkan menuju keramba apung pendamping. Lalu, sampah-sampah plastik berupa kresek, botol plastik, hingga kaleng diangkat kepermukaan sehingga sungai pun terbebas dari sampah.

Tempat sampah gampang dijumpai di mana-mana. Orang mudah kalau hendak membuang sampah. Tempat sampahnya tertutup dan tertanam di tanah sedalam 2,5 meter. Jadi, kayak botol. Lehernya yang tampak di permukaan kecil, tapi yang di dalam lebih besar volumenya. Truk sampahnya modern. Tidak bolong-bolong sehingga saat mengangkut sampah, tidak kocar-kacir ke jalanan.

Saat susur Sungai Amstel, hari itu saya juga ditemani reporter televisi Belanda, Pointer TV. Mereka mengaku tertarik dengan upaya Saya untuk terus berkampanye tolak pengiriman sampah ke Indonesia. Termasuk dari Belanda dan negara Eropa lain. Di sepanjang perjalanan, saya banyak ngobrol dengan reporter stasiun televisi Belanda tersebut. Termasuk membandingkan kondisi sungai di tempat saya.

Saya juga sempat ditanya wartawan televisi itu tentang tragedi susur sungai Cileueur, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pertengahan Oktober 2021 lalu. Yang membuat 11 anak MTs Harapan Baru meninggal dunia.

Tentu, saya juga turut prihatin atas kejadian tersebut. Saya menjawab, kalau susur sungai atau bersih-bersih sungai tentu harus mengutamakan keselamatan. Misalnya, menggunakan jaket pelampung. Selain itu, mesti ada pendamping atau pemandu. Apalagi, masih anak-anak. Saya dan teman-teman saat susur sungai pun selalu ada mengutamakan keselamatan.

Karena Sungai Amstel bersih dan indah pemandangannya, maka banyak turis asing berwisata mereka naik perahu atau kapal. Biayanya 13,5 Euro per jam. Ada juga duduk-duduk di tepi sungai. Saya pun melamun, kapan bisa seperti itu. Yang pasti, sejauh ini saat menyusuri Kali Surabaya, saya selalu sibuk mengambil sampah. Di Sungai Amstel, saya sibuk berfoto-foto ria. (*)

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore