
TIDAK ADA AKTIVITAS: Sutadji Puspo Pinardi memperlihatkan 2 figur wayang Brotoseno (kiri ) dan Kumbokarno di Kampoeng Seni kemarin. Dia merupakan satu dari lima seniman yang masih bertahan. (Boy Slamet/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kampoeng Seni atau Pasar Seni di kawasan perumahan Pondok Mutiara kini merana. Tempat yang digadang-gadang menjadi salah satu ikon Kota Delta itu lesu. Tak banyak seniman yang bertahan. Kemarin hanya lima orang yang terlihat masih aktif.
Salah satunya Amdo Brada. Kondisi studio milik pria 59 tahun tersebut tidak seperti beberapa tahun lalu. Sepi. Tidak ada anak-anak yang belajar melukis atau membuat seni rupa. Atau seniman yang berkumpul.
Teras rumah Amdo yang biasa ramai dan banyak barang berserakan jadi rapi. Tumpukan lukisan yang dulu bersandar di dinding tidak ada lagi. Karyanya disimpan di dalam rumah. Salah satunya gambar perahu dalam ukuran yang sangat besar. ”Kalau mau ada yang beli, saya jual Rp 3 juta saja,” kata pria yang dijuluki kepala suku Kampoeng Seni itu, lantas tertawa.
Dia mengakui bahwa Kampoeng Seni saat ini mati suri. Tidak ada aktivitas seniman seperti dulu lagi. Jumlah seniman yang bertahan bisa dihitung dengan jari. Padahal, dulu kampung yang terdiri atas ruko yang dijadikan studio para seniman itu berjumlah puluhan.
Amdo menyebut ada sekitar 36 seniman yang tinggal di sana. Sekarang sudah banyak yang pergi. Tidak dapat membeli ruko yang mereka tinggali. Selain itu, ada yang telah meninggal dunia.
Hilangnya ”napas” kampung juga disebabkan minimnya warga yang membeli karya seni para seniman. Kenyataan tersebut tak sesuai dengan tujuan didirikannya Kampoeng Seni pada 2005. Kala itu, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso memiliki mimpi bahwa kawasan tersebut bisa menjadi daya tarik wisata di Kota Delta. Tidak sekadar berbelanja barang-barang seni, warga juga bisa belajar tentang kesenian.
Bukan hanya seni lukis, melainkan juga kesenian lainnya. Misalnya, seni wayang yang ditekuni Sutadji Puspo Pinardi. Laki-laki 75 tahun itu piawai memainkan wayang kulit. Bahkan, dia ahli membuat wayang dari kardus. Di depan rumahnya ada tulisan Padepokan Seni dan Kreasi. Namun, padepokan yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya tersebut kini sepi.
Hal yang sama terjadi di sanggar lukis milik Irwanto. Sanggar yang juga dijadikan tempat tinggal itu masih menyimpan banyak lukisan. Tapi, siang hingga sore tidak tampak warga yang belajar di sana. ”Dulu ramai. Banyak yang belajar,” ucap Irwanto.
Seniman 65 tahun itu mengatakan, saat baru diresmikan 14 tahun lalu, Kampoeng Seni sangat ramai. Para seniman semangat untuk berkreasi. Mereka juga berkolaborasi membuat pameran. Irwanto dan seniman lain berharap Kampoeng Seni bisa hidup lagi. ”Ada kepedulian dari pemerintah agar semangat kami berkreasi tetap ada,” lanjut Amdo. Kemarin Amdo masih membeli kanvas. Untuk membuat lukisan. Tujuan mempertahankan jiwa seni dalam hatinya tetap berkobar. Tak padam dan mati seperti suasana Kampoeng Seni.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
