Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Juni 2025 | 13.24 WIB

Pasar Tradisional Kian Sepi, Pakar Sebut Pedagang Tak Bisa Lagi Andalkan Cara Lama, Waktunya Digitalisasi

Suasana Pasar Turi Baru yang sepi. (Dokumentasi Jawa Pos) - Image

Suasana Pasar Turi Baru yang sepi. (Dokumentasi Jawa Pos)

JawaPos.com-Kondisi pasar tradisional di beberapa daerah, termasuk Kota Surabaya makin mengenaskan. Suasananya pun jauh dari kata ramai. Aktivitas tawar menawar yang biasa terjadi kini makin jarang dijumpai.

Fenomena ini tak lepas dari faktor perubahan perilaku konsumen yang kini lebih memilih belanja online. Keluhan pedagang Pasar Tambah Rejo terkait sepinya pembeli, viral di media sosial.

Pakar UMKM dan Kewirausahaan dari Universitas Airlangga (Unair) Tri Siwi Agustina menilai, perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja, didorong kehadiran teknologi yang kini menyentuh semua sendi kehidupan.

"Jadi mulai dari kita bangun tidur sampai kemudian tidur lagi, itu nggak lepas dari berbagai macam teknologi yang membantu pekerjaan kita. Termasuk dalam hal konsumen atau pembelanjaan," ucap Siwi.

Sebelum adanya toko online (marketplace), konsumen harus menunggu toko buka untuk berbelanja. Hal ini menjadi satu masalah ketika kebutuhan muncul di malam hari, namun toko belum buka.

Menurut Siwi, transformasi teknologi justru membuka peluang bagi pelaku UMKM yang mau beradaptasi. Melalui optimalisasi platform digital, mereka bisa memperkuat sekaligus memperluas pangsa pasar.

Kendati demikian, masih ada pelaku UMKM, khususnya di Kota Surabaya yang enggan beradaptasi ke platform digital. Umumnya karena faktor usia dan keterbatasan dalam mengakses teknologi.

"Ada pelaku UMKM yang saya bina, dia memotret produk pakai handphone, lalu ditaruh di status WhatsApp, tidak masalah, yang penting mau beradaptasi dulu, itu tetap harus kita support," sambung Tri Siwi Agustina.

Siwi menyoroti perbedaan dalam aspek modal. Di platform digital, aset bangunan bukan menjadi yang utama untuk membuka toko online di marketplace. Yang terpenting adalah punya piranti dan koneksi internet stabil.

Produk yang dijual di platform digital yang tidak bisa disentuh konsumen juga menjadi perhatian. Pelaku UMKM harus bisa mewakili kehadiran produk melalui deskripsi, visualisasi, dan testimoni.

"Sekarang pertanyaannya, para pelaku UMKM ini mau keluar atau tidak dari kendala yang dihadapi? Sebab transformasi digital adalah suatu keniscayaan. Mau dihindari atau beradaptasi, pilihannya cuma dua," tutur Siwi. 

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore