Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 April 2025 | 15.29 WIB

Keharuan saat Misa Oktaf Paskah di Katedral Surabaya: Panjatkan Doa Lintas Iman untuk Paus Fransiskus yang Wafat

Warga Surabaya mengikuti misa Oktaf Paskah dengan intensi khusus mendoakan Paus Fransiskus yang wafat pada Senin (21/4). (Juliana Christy/JawaPos.com) - Image

Warga Surabaya mengikuti misa Oktaf Paskah dengan intensi khusus mendoakan Paus Fransiskus yang wafat pada Senin (21/4). (Juliana Christy/JawaPos.com)

JawaPos.com — Suasana haru menyelimuti Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya pada Selasa (22/4) sore.

Saat mentari mulai tenggelam dan cahaya lembut menembus kaca-kaca patri, lonceng gereja berdentang memanggil umat untuk sebuah perayaan yang istimewa: Misa Oktaf Paskah dengan intensi khusus mendoakan Paus Fransiskus yang wafat sehari sebelumnya.

Perayaan Ekaristi dimulai pukul 18.00 WIB, dipimpin langsung oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo.

Dalam homilinya, Mgr. Agustinus mengajak seluruh umat untuk tidak hanya mengenang sosok Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik, tetapi juga sebagai pribadi yang telah menyentuh hati banyak orang, lintas agama dan keyakinan.

“Yang hadir malam ini bukan hanya umat Katolik,” ungkap Uskup. “Tetapi juga saudara-saudari Kristiani dari gereja lain, umat Muslim, Hindu, dan Buddha, serta berbagai kalangan masyarakat. Ini bukan hanya bentuk duka cita, tapi juga penghormatan dan apresiasi atas figur rohaniwan besar yang telah wafat,” lanjutnya.

Ruang dalam Katedral dipenuhi aroma dupa dan alunan lagu rohani. Beberapa umat tampak meneteskan air mata, sementara yang lain terdiam khusyuk. Di antara mereka, anak-anak muda, lansia, hingga tokoh lintas agama duduk berdampingan dalam damai.

“Beliau adalah teladan kepemimpinan yang langka,” tutur Mgr. Agustinus. “Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin yang progresif, dekat dengan kaum miskin, yang terpinggirkan, serta selalu menghadirkan wajah Tuhan yang penuh cinta dan pengampunan,” jelasnya.

Meski kecil kemungkinan, saat ditanya apakah ada kemungkinan calon Paus berasal dari Indonesia, ia menjawab dengan rendah hati.

“Secara manusiawi, peluangnya kecil. Tapi kuasa Tuhan tidak terbatas. Siapa pun yang akan dipilih nanti melalui konklaf, kami percaya, itu pilihan yang tepat sesuai tanda-tanda zaman,” ucapnya.

Di luar gereja, lilin-lilin dinyalakan dan diletakkan di pelataran. Suasana hening dan damai menyelimuti, seolah setiap cahaya adalah doa bagi kepergian Bapa Suci.

Yogi (23), pemuda Katolik dari kawasan Tegalsari, ikut hadir dan mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap Paus Fransiskus.

“Beliau seperti wajah Yesus. Mau merangkul siapa pun—LGBT, yang berdosa, berbeda iman. Beliau tidak menghakimi, tapi menyapa dan memberkati. Itu yang membuat saya merasa diterima,” ujar Yogi dengan mata berkaca-kaca.

Misa ini menjadi simbol kuat bahwa kasih, kepedulian, dan spirit lintas iman bisa menyatu dalam duka dan doa bersama. Sosok Paus Fransiskus tak hanya dikenang sebagai pemimpin umat Katolik, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan yang universal.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore