
Para siswa di SMPN 52 Surabaya tak sabar mencicipi menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Juliana Christy/Jawa Pos)
JawaPos.com – Harapan besar terpancar dari wajah para siswa di Kota Surabaya saat mendengar kabar tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan segera hadir di sekolah mereka.
Program yang dirancang Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung kebutuhan nutrisi anak-anak ini menjadi topik hangat di kalangan siswa yang tak sabar ingin merasakannya.
“Pengin segera, pengin dapat makanannya,” kata Nayya, salah satu siswa yang antusias menunggu pelaksanaan program ini. Baginya, makanan dari MBG adalah sesuatu yang sangat berarti, terutama karena sarapan bukanlah hal yang rutin ia dapatkan setiap pagi.
Jihan, teman sekelasnya, juga mengungkapkan hal serupa. “Apapun aku makan sih, apalagi kalau makanan sehat. Rasanya nggak terlalu ngaruh, yang penting dapat makanannya, bisa hemat uang jajan,” katanya.
Bagi Jihan dan banyak siswa lain, program ini tidak hanya menjadi sumber gizi, tetapi juga membantu meringankan beban pengeluaran harian mereka.
Di SMPN 52 Surabaya, tempat Nayya dan Jihan bersekolah, program MBG menjadi sangat relevan. Sebagian besar siswa di sekolah ini berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Kepala SMPN 52, Sulastri, menyampaikan bahwa banyak siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan, dengan uang saku yang hanya cukup untuk membeli jajanan ringan seperti cimol atau pentol. Oleh sebab itu, program ini sangat dinantikan oleh mereka.
Sulastri juga menekankan rasa syukur yang ditunjukkan oleh para siswa, meski dengan menu sederhana sekalipun.
“Anak-anak kami sangat bersyukur. Bahkan kalau lauknya hanya tahu atau tempe saja, mereka sudah senang. Bagi mereka, ini adalah sesuatu yang istimewa karena banyak dari mereka yang sulit mendapatkan makanan bergizi di rumah,” jelasnya.
Namun, pelaksanaan program ini tetap membutuhkan persiapan yang matang. Dengan jumlah siswa mencapai 590 orang di SMPN 52, keberagaman kebutuhan mereka, seperti alergi makanan atau preferensi tertentu, harus diperhatikan.
“Pendataan itu penting. Survei awal mengenai kesehatan dan kebutuhan siswa itu agar menu yang diberikan tepat sasaran dan tidak ada makanan yang terbuang sia-sia,” ujar Sulastri.
Selain memberikan makanan, program ini juga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi. “Kami ingin anak-anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga memahami bagaimana makanan sehat dapat membantu mereka belajar lebih baik dan tumbuh dengan sehat,” tambahnya.
Antusiasme yang ditunjukkan oleh Nayya, Jihan, dan siswa lainnya mencerminkan betapa pentingnya program MBG ini bagi mereka. Bagi para siswa, makanan bergizi bukan hanya soal kenyang, tetapi juga soal semangat untuk belajar dan meringankan beban keluarga.
