Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Maret 2023 | 02.47 WIB

Tingkat Fatalitas Leptospirosis Bisa Capai 15 Persen

DITELITI: Tim BBTKLPP memasang 150 trap tikus di wilayah yang terserang leptospirosis di Pacitan. (BBTKLPP Surabaya untuk Jawa Pos) - Image

DITELITI: Tim BBTKLPP memasang 150 trap tikus di wilayah yang terserang leptospirosis di Pacitan. (BBTKLPP Surabaya untuk Jawa Pos)

JawaPos.com - Merebaknya persebaran penyakit leptospirosis selama awal 2023 mendapat perhatian Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya. Lembaga tersebut baru saja melakukan penelitian epidemiologi terhadap penyakit yang disebabkan kencing tikus itu.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan sejumlah temuan spesifik. Salah satunya, kawasan paling rawan terjangkit. Diketahui, penyakit itu menyerang petani/warga di sekitar sawah dan kebun. Serta, yang berdekatan dengan sungai yang menjadi daerah endemis kasus leptospirosis.

Atas penelitian tersebut, BBTKLPP membuat sejumlah rekomendasi pencegahan. Yakni, memasang genting kaca di kandang dan dapur warga untuk pencahayaan rumah/kandang warga. Serta, selalu menjaga kebersihan.

’’Lalu, warga yang beraktivitas di sawah/kebun diimbau menggunakan sepatu bot maupun alas kaki. Tujuannya, mencegah terpapar bakteri yang mencemari air,’’ kata Kepala BBTKLPP Surabaya Rosidi Roslan kepada Jawa Pos kemarin.

Dari penelitian tersebut, BBTKLPP juga merekomendasikan tenaga kesehatan di seluruh kabupaten/kota untuk melakukan deteksi dini. Sebab, kasus fatalitas (kematian) pasien yang terpapar leptospirosis diawali karena telat penanganan.

’’Seperti di Pacitan. Saat kondisi pasien sudah parah, baru berobat ke rumah sakit,’’ paparnya. BBTKLPP Surabaya telah melakukan job training pada nakes di puskesmas-puskesmas Pacitan mengenai pengenalan gejala leptospirosis tersebut.

Sementara itu, pakar mikrobiologi Universitas Airlangga (Unair) Agung Dwi Widodo menyatakan, sebenarnya obat penyakit tersebut sudah ada. ’’Kuncinya tidak telat penanganan, pasien bisa diselamatkan,’’ katanya.

Sebab, jika terlambat, pasien sulit tertangani. Tingkat fatalitas leptospirosis sendiri cukup tinggi. Berkisar 5 hingga 15 persen. ’’Angka ini cukup tinggi. Maka, harus ada penanganan menyeluruh,’’ paparnya.

Sebagaimana diberitakan, selama Januari–Maret 2023, ditemukan 249 kasus leptospirosis di Jatim. Sembilan pasien di antaranya meninggal. Penyakit itu terdeteksi menyebar di tujuh daerah. Yakni, Pacitan, Kabupaten dan Kota Probolinggo, Gresik, Lumajang, Tulungagung, dan Sampang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore