Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Mei 2020 | 03.48 WIB

Melihat Perjuangan Petugas Sembako di Convention Hall Surabaya

HAMPIR SEPANJANG HARI: Petugas mengemas paket-paket bantuan bahan pokok yang dipusatkan di Convention Hall, Jalan Arif Rahman Hakim. (Frizal/Jawa Pos) - Image

HAMPIR SEPANJANG HARI: Petugas mengemas paket-paket bantuan bahan pokok yang dipusatkan di Convention Hall, Jalan Arif Rahman Hakim. (Frizal/Jawa Pos)

Sudah dua bulan ini tidak ada pesta pernikahan di Convention Hall, Jalan Arif Rahman Hakim. Aset Pemkot Surabaya itu disulap menjadi lumbung sembako. Ratusan pegawai dari lintas dinas ditugaskan untuk proses pengemasan.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

Para pemuda-pemudi berbaju batik duduk berpencar di depan Convention Hall Jumat siang lalu (8/5). Tampang mereka masih segar. Pakaiannya juga rapi. Mereka bercengkerama dengan tetap menjaga jarak.

Setelah 10 menit menunggu, terdengar pengumuman dari seorang perempuan dari pengeras suara. Mereka langsung beranjak dari duduknya, lalu menuju pintu masuk. Sebelumnya, mereka mengisi daftar hadir di meja dekat pintu Convention Hall. ”Tolong jaraknya tetap diperhatikan teman-teman,” ujar perempuan tadi dari balik pengeras suara.

Begitu masuk ruangan, mereka langsung menuju pos masing-masing. Ada yang menuju ke area penjahitan karung beras, ada yang menimbang gula. Ada juga yang mengangkut beras pakai troli.

Gedung Convention Hall memang berubah menjadi lumbung. Beras dari berbagai merek ada di sana. Ada yang berkualitas standar. Ada pula yang kualitas istimewa. ”Ini kemarin sumbangan dari komunitas Tionghoa. Beras bagus ini, Bu,” ujar Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya Chandra Oratmangun kepada Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah yang datang berkunjung.

Siang itu, Khusnul sengaja datang sendirian. Tanpa rombongan komisinya. Sebab, siang itu memang tidak ada agenda apa pun di dewan. Di waktu senggangnya, dia ingin memastikan sembako sumbangan donatur tersebut ditangani dengan tepat. ”Sembako ini kan ditunggu warga. Makanya kami harus pastikan kondisinya siap didistribusikan,” ujarnya.

Khusnul berkeliling melihat apa saja yang dilakukan petugas. Mereka yang biasanya bekerja dengan pena atau komputer kini harus banting setir. Mereka harus mengangkat sak- sak beras yang kadang beratnya mencapai 50 kilogram. Dipanggul hingga seluruh badan linu. Karena tidak biasa.

”Kalau sore, beras datang, Bu. Saya melihatnya juga kasihan. Karena mereka tetap teguh berpuasa,” terang Chandra.

Khusnul hanya geleng-geleng kepala karena kagum pada para petugas yang mayoritas dari DP5A itu. Karena semuanya berpuasa, Chandra tidak bisa menyediakan hidangan berupa camilan atau sekadar air dingin untuk mereka.

Chandra lantas memperkenalkan Kabid Perlindungan Perempuan yang selalu mendampinginya kepada Khusnul. Ida Widayati namanya. Dia adalah mantan kepala bidang objek dan promosi Disbudpar Surabaya. Ida Widayati kini ditugaskan di DP5A bersama Chandra. ”Bu Ida ini juga tidak bisa buka bersama keluarganya. Kalau mau buka, pasti dikirim pakai Gofood dari rumah,” ujar Chandra.

Meski begitu, dia terus menguatkan semua jajarannya. Sebab, tugas kemanusiaan itu dapat membantu puluhan ribu keluarga yang kesulitan untuk mencari makan. Aparatur sipil negara yang mengabdi di pemkot harus tetap bersyukur. Sebab, pendapatan mereka tetap stabil di tengah pandemi ini.

Banyak warga yang nasibnya berbalik 180 derajat. Yang tadinya mampu dan berkecukupan kini kesulitan. Bahkan sekadar untuk membeli beras.

Khusnul lantas menanyakan kendala tim yang bekerja di lumbung sembako. Chandra sempat terdiam. Menurut dia, tidak ada kendala berarti. Kecuali datangnya bantuan yang tidak mengenal waktu.

Sering kali Chandra mendapat pemberitahuan bahwa beras diberangkatkan saat malam. Mayoritas berasal dari Malang. Jika konfirmasi pengiriman dilakukan malam, beras baru datang dini hari. Para petugas itu pun harus tetap siaga mengangkut beras dari truk. ”Kita tidak mungkin request harus jam segini. Semua bantuan itu kami terima kapan pun,” kata mantan kepala dinas kebakaran tersebut.

Hingga saat ini total bantuan yang masuk mencapai setengah juta kilogram beras. Angkanya melonjak dua kali lipat jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang hanya 260 ribu kilogram. Diprediksi, angka bantuan itu terus bertambah.

Pengangkutan beras dari truk adalah tugas awal. Masih ada rentetan tugas yang harus mereka hadapi. Mereka harus mengemas beras tersebut dalam paket seberat 10 kilogram. Kemasan plastik itu harus dilubangi agar tidak menggelembung dan memakan tempat.

Paket itu juga harus dijahit satu per satu dengan alat khusus. Jika sudah siap, paket itu akan diletakkan di ujung timur gedung. Beras akan disatukan dengan paket gula, mi instan, kering tempe, dan bumbu pecel.

Di sanalah tempat yang paling dijaga. Jangan sampai paket yang sudah dikemas itu digasak ”pencuri”. Bukan manusia, melainkan semut dan tikus. ”Makanya setiap kami pulang, semuanya harus bersih. Namanya kapur ajaib itu wajib. Nggak boleh lupa,” ujar Chandra.

Sebagian besar paket itu sudah didistribusikan ke kelurahan. Namun, pekerjaan mereka terlihat tiada habisnya. Sumbangan beras terus berdatangan karena kedermawanan warga Surabaya begitu tinggi. Mereka menyumbang secara perseorangan, lembaga, ataupun perusahaan.

Meski begitu, para petugas tidak mengeluh. Mereka justru senang dengan bantuan yang datang. Dari setiap paket yang diedarkan, ada sumbangan tenaga dan waktu yang mereka korbankan. 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=3yevCzxrWLA

https://www.youtube.com/watch?v=CaPEtmCK5Kg

https://www.youtube.com/watch?v=_9F8Pe2Z5VQ

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore