Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Oktober 2019 | 00.17 WIB

Polisi Pulangkan Sembilan Anggota Geng Kampung Jawara dan All Star

DITERTIBKAN: Anggota geng beserta barang bukti diamankan polisi. Mereka dicegah saat hendak tawuran dengan geng lain. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos) - Image

DITERTIBKAN: Anggota geng beserta barang bukti diamankan polisi. Mereka dicegah saat hendak tawuran dengan geng lain. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

JawaPos.com - Rivalitas geng Kampung Jawara dan geng All Star berbuntut panjang. Sejumlah anggotanya beberapa kali berurusan dengan polisi. Pada Minggu (6/10), misalnya. Dua geng itu nyaris tawuran. Beruntung, aksinya berhasil digagalkan.

Menurut catatan polisi, sembilan anggota geng Kampung Jawara diamankan di Polrestabes Surabaya. Sementara itu, tujuh anggota geng All Star dibawa ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya Iptu Giadi Nugraha menyatakan, pihaknya tidak menahan sembilan anak yang nyaris tawuran itu Mereka dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan. Syaratnya, mereka harus membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Juga, dijemput keluarganya ketika pulang. ’’Unsur pidana mereka belum ada,’’ katanya kepada Jawa Pos kemarin (7/10).

Mereka, kata Giadi, diamankan ketika hendak tawuran. Jadi, belum ada korban. Barang bukti yang disita pun dianggap tidak memenuhi unsur pelanggaran. Sebab, tidak ada senjata tajam (sajam).

Giadi memaparkan, barang bukti dari sembilan anak itu hanya motor yang dipakai sebagai sarana dan ponsel untuk komunikasi. Juga, dua ikat pinggang dengan kepala besi. ’’Memang, ikat pinggang itu bisa dibuat melukai, tetapi kategorinya bukan sajam,’’ jelasnya. ’’Yang jelas belum dipakai untuk memakan korban,’’ tambahnya.

Dia lantas menceritakan kronologi pencegahan tawuran tersebut. Anak buahnya mendapat informasi adanya sekumpulan pemuda di Jalan Simo Pomahan. Jumlahnya sekitar 40 orang. Mereka disebut-sebut sebagai anggota geng Kampung Jawara. ’’Memang biasa kumpul. Namun, jumlahnya tidak sebanyak itu,’’ ucap polisi dengan dua balok di pundaknya tersebut.

Dugaan bahwa mereka akan berulah menjadi kenyataan. Beberapa saat setelah dipantau, gerombolan itu bergeser ke Jalan Demak, lalu melawan arus ke Jalan Pasar Turi. Mereka selanjutnya mengarah ke Jalan Indrapura. ’’Indrapura termasuk salah satu markas All Star. Beberapa anggotanya dilaporkan kerap nongkrong di sana,’’ paparnya.

Giadi dan personelnya tidak mau kecolongan. Mereka langsung menyergap para pemuda itu. Gerombolan anggota geng Kampung Jawara kontan kalang kabut. ’’Lima orang bisa kami amankan,’’ kata alumnus Akpol 2012 tersebut.

Sebagaimana diketahui, semua masih anak-anak. Masing-masing berinisial AH, JL, RZ, HE, dan DS. Tidak lama berselang, pihaknya kembali mengamankan empat orang di Jalan Pesapen. ’’Juga masih bocah semua,’’ lanjut Giadi. Inisialnya IK, BD, DA, dan LY. Inisial terakhir adalah perempuan.

Kepala DP5A Surabaya Chandra Oratmangun mengaku prihatin dengan munculnya geng-geng di metropolis. Terlebih, mayoritas anggotanya masih anak-anak. Misalnya, Geng Kampung Jawara dan All Star.

Chandra menjelaskan, pemerintah selalu memberikan atensi terhadap problem yang melibatkan anak.

Dulu Satu Wadah, Kini Terpecah


Geng Kampung Jawara dan All Star belum lama bermusuhan. Bahkan, beberapa anggotanya pernah berteman. ’’Dulu satu kelompok,” tutur Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya Iptu Giadi. Fakta tersebut, lanjut dia, didapat dari pemeriksaan terhadap anggota geng yang sempat diamankan.

Giadi menjelaskan, anggota dua geng itu terkumpul dalam satu wadah yang sama. Namanya Aliansi. Kelompok tersebut juga bukan gerombolan geng. ’’Dari beberapa wilayah anggotanya,” jelas alumnus Akpol 2012 itu.

Nah, belakangan kelompok tersebut berselisih paham. Kira-kira setahun terakhir. Pemicunya sepele. Ada yang ingin menjadi yang paling disegani dalam kelompok Akhirnya anggota terbagi menjadi dua kelompok. ’’Muncullah nama Kampung Jawara dan All Star,” katanya.

Kampung Jawara menjadi wadah bagi anggota yang tinggal di sekitar Simomulyo. Mereka tidak punya markas tetap, tetapi sering nongkrong di Jalan Simo Tambaan. ’’Nama aslinya itu KP Jawara,” sebutnya. KP adalah singkatan kampung. Jawara adalah representasi superioritas. ’’Nama geng itu dipilih karena menganggap anggotanya adalah jagoan-jagoan dari kampung masing-masing,” ungkapnya.

Di sisi lain, kata Giadi, All Star mengoordinasi mantan anggota Aliansi yang berasal dari Surabaya bagian utara. Misalnya, Jalan Kalimas Baru, Jalan Indrapura, dan Jalan Tembok. ’’Nama All Star diadopsi dari Jakarta. Geng itu asalnya dari ibu kota,” paparnya.

Giadi menerangkan, All Star dipilih sebagai nama karena beberapa anggotanya memang berasal dari Jakarta. Mereka berharap geng bisa disegani seperti All Star asli. ’’Di Jakarta, geng itu sering berulah,” katanya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore