
Suko Widodo
Perilaku yang ”dinamis” tersebut mengajarkan bahwa kehadiran faktor di luar kekuatan parpol acap kali lebih menentukan sebuah kemenangan dalam pilkada. Faktor itu adalah modal sosial, yang dalam konteks ini dipahami sebagai norma sosial (social norm) dan jaringan sosial (social network).
Semestinya, bagi partai politik, eksistensi faktor modal sosial inti harus sangat diperhitungkan. Apalagi, dalam masyarakat yang masih belum memiliki kepercayaan terhadap parpol, maka harus segera membangun jaringan atau relasi ke dalamnya.
Studi komunikasi dan jaringan politik yang dilakukan Puskakom Surabaya (2014) menunjukkan bahwa 62,50 persen pemilih menghendaki relasi langsung dengan kandidat dalam proses pemilihan. Itu membuktikan bahwa hubungan sosial, sebagai bagian dari modal sosial, menentukan pilihan publik.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam proses pemenangan politik adalah peran media komunikasi baru. Revolusi komunikasi tahap keempat saat ini –yang ditandai dengan maraknya penggunaan internet dll– menjadikan pola komunikasi bersifat interaktif. Kini, dengan perangkat ponsel dan gadget, seseorang tidak hanya menjadi konsumer informasi, tetapi bisa bertindak sebagai produser informasi. Ini yang disebut pola prosumer (produser sekaligus konsumer) dalam komunikasi terkini, sebagai konsekuensi dari kecanggihan perangkat komunikasi.
Para pemilih yang prosumer itulah yang kini menguasai jaringan sosial. Mereka adalah bagian dari faktor modal sosial baru. Para prosumer tersebut bakal menjadi faktor penting sebuah kemenangan politik. Mereka adalah generasi netizen, yang sekaligus pemilih pemula. Jumlah generasi itu sekitar 18,4 persen (2016), tetapi memiliki jaringan kekuatan yang besar dalam konteks pertukaran arus informasi politik.
Kehadiran generasi netizen, yang kini berperan sebagai prosumer dalam arus informasi pilkada, serta kekuatan jaringannya, adalah bagian dari modal sosial yang baru. Mereka, para netizen tersebut, bisa menjadi ”kawan”, tetapi juga bisa menjadi ”lawan” bagi kandidat. Mereka bisa menjadi pengganda informasi positif, tetapi juga bisa menjadi pengganda informasi negatif bagi kandidat. Bergantung kepekaan dan kemauan kandidat dalam mengelolanya.
Seiring dengan pergeseran perilaku masyarakat dan perkembangan teknologi komunikasi, pola komunikasi politik pun ikut berubah. Selamat datang para prosumer informasi dalam perhelatan politik di Indonesia. Semoga Anda berhasil mengubah dunia politik Indonesia agar lebih baik! (*)
*Dosen komunikasi FISIP Universitas Airlangga

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
