Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Februari 2017 | 18.08 WIB

Melawan Alienasi Lingkungan

Anas Ahmadi - Image

Anas Ahmadi


ISU lingkungan memang tak se-ngetren isu politik. Kita bisa mencermati bagaimana respons masyarakat tatkala hutan terbakar (sengaja dibakar atau terbakar). Hutan dieksploitasi habis-habisan. Kesannya, kita tidak sepanik ketika harga BBM naik atau munculnya isu tentang rasial.



Padahal, hutan adalah masa depan manusia. Tanpa hutan, manusia tidak akan berdaya apa-apa. Bayangkan, jika kelak semua hutan gundul, penyuplai oksigen tiada. Bisa dipastikan manusia menjemput ajalnya. Ataukah, kita berandai-andai seperti film anak, Dr Seuss The Lorax (2012), yang mengisahkan Thneedville, kota yang penuh dengan rumput plastik, ikan plastik, pohon plastik, dan bunga plastik. Dalam kehidupan keseharian, mereka harus membeli oksigen galon. Pertanyaannya, berapa banyak uang yang harus dihabiskan untuk membeli oksigen?



Studi yang dilakukan Jacoby (2001), White (2008), dan Liddik (2011) menunjukkan bahwa eksplorasi dan eksploitasi lingkungan (environment) setiap tahun semakin meningkat. Eksplorasi dan eksploitasi lingkungan itu, kata Cianchi (2015), disebut ’’green criminology’’.



Indonesia juga tidak lepas dari permasalahan perusakan lingkungan. Hidayat (2016), Praja (2016), dan Fauzi dkk (2010) mengidentifikasi bahwa deforestasi dan pembakaran hutan di Indonesia semakin lama semakin parah.





Alienasi dan Keseharian Kita



Istilah alienasi (alienation) mulanya dikenalkan dalam bidang ekonomi. Marx (1932) dalam bukunya, The Economic and Philosophical Manuscripts, menyebut alienation of the workers yang meliputi kesendirian (loneliness), objektifikasi buruh (objectification of labor), dan perbudakan (bondage). Pada tahun-tahun berikutnya, Fromm menggunakan istilah alienasi dalam bidang psikologi yang diadaptasi dari Marx.



Karena itu, sebagai seorang psikoanalis, Fromm dianggap psikoanalis-Marxian karena karya-karyanya dipengaruhi pemikiran Marx. Agak berbeda dengan Marx dalam memandang alienasi, Fromm (1947) dalam bukunya, Man for Himself, memaparkan bahwa tidak hanya dalam ekonomi manusia mengalami alienasi, tetapi juga dalam hubungan (relation) antara manusia dengan manusia yang lain.



Manusia modern tercerabut akarnya dari rasa sensibilitas kebersamaan dengan manusia yang lain. Mereka lebih suka dengan hal-hal yang memprivasi daripada yang bersifat komunal. Dari konteks ekonomi, filsafat, dan psikologi, alienasi dalam pandangan Jaeggi (2014) yang ditulis dalam bukunya, Alienation, memiliki core yang sama. Yaitu, a relation of relationlessness, relasi tanpa relasi.



Fromm (1976) dalam artikelnya, The Will to Live, mengamati kerusakan lingkungan yang sebenarnya dapat mengancam kehidupan di bumi. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan manusia. Namun, mereka kadang tidak melakukan apa-apa. Mereka lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada kesejahteraan masyarakat.



Kerusakan lingkungan tersebut sebenarnya disebabkan alienasi manusia terhadap lingkungan. Hailwood (2015) dalam bukunya, Alienation and Nature in Environmental Philosophy, mengungkapkan bahwa alienasi lingkungan berkaitan dengan hubungan relasional manusia dengan lingkungan, baik human maupun nonhuman (binatang, tumbuhan, hutan, laut). Terma kunci alienasi lingkungan berkaitan dengan keterasingan manusia pada lingkungan.



Baiklah, mari kita bersama-sama melihat beberapa fakta alienasi lingkungan di Indonesia. Pertama, hasil riset Yokom (2015) tentang Kerusakan Lingkungan Akibat Pembangunan Rakyat menunjukkan bahwa pembangunan perumahan rakyat pada era Presiden Jokowi memakan 5.068 km2. Akibat perluasan perumahan, luas hutan akan semakin berkurang 200 km2/tahun. Artinya, program kerja Presiden Jokowi untuk membuat rumah murah dimungkinkan menambah kerusakan lingkungan, khususnya di Pulau Jawa.



Kedua, laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup (2013) menunjukkan bahwa pencemaran air sungai dari tahun ke tahun meningkat. Simak saja, air sungai Jakarta yang kadar pencemarannya mencapai 80 persen. Dengan demikian, kadar pencemaran air sungai di Jakarta termasuk kategori parah.



Ketiga, pemberitaan di Jawa Pos (19/1) yang berjudul Kurus karena Kurang Terurus yang memaparkan kondisi binatang di Kebun Binatang Bandung yang mengenaskan. Kondisi itu mengingatkan kita pada kebun binatang lainnya. Misalnya, kasus daging untuk konsumsi binatang, tetapi dijual kepada penjual rawon.



Tiga fakta tersebut menunjukkan bahwa manusia modern memang benar-benar teralienasi dari lingkungan. Manusia lebih berorientasi pada kepentingan dirinya daripada kepentingan alam (nature) sebagai kesatuan yang holistis.



Manusia dalam konteks ini lebih mengikuti mazhab psikologi humanistik yang berfalsafah bahwa manusia adalah penguasa alam. Padahal, jika merujuk pada ecopsychology, psikologi lingkungan (environmental psychology), manusia adalah bagian dari lingkungan.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore