Proliga 2025 akan bergulir mulai 3 Januari hingga 11 Mei mendatang. (Dimas Ramadhan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Ketua Umum PP PBVSI, Imam Soedjarwo buka suara soal kritik dan saran yang dilontarkan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia (RI), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait penyelenggaraan Proliga. Salah satunya mengenai ketimpangan gaji pemain antarklub.
SBY sebelumnya secara mengejutkan mengeluarkan cuitan di media sosial X pribadinya terkait olahraga bola voli. Dia menguatarakan pendapat dan pandangannya soal perkembangan voli nasional
Pria berusia 75 tahun itu mengaku sudah aktif dalam dunia bola voli nasional selama lima tahun terakhir. Termasuk membentuk klub Jakarta LavAni untuk berkompetisi di Proliga sejak 2022. Hasilnya LavAni sukses keluar sebagai juara 2022 dan 2023.
Saat ini, SBY merupakan pemilik sekaligus dewan pembina klub Jakarta LavAni. Dia pun kerap menyambangi latihan dan menyaksikan pertandingan LavAni jika bermain di Proliga maupun Livoli.
Jelang Proliga 2025, SBY menyoroti berkurangnya jumlah peserta untuk kategori putra. Hanya ada lima tim yang berpartisipasi. Yakni Jakarta Bhayangkara Presisi, Jakarta Lavani Livin Transmedia, Palembang Bank Sumsel, Jakarta Garuda Jaya, dan Surabaya Samator.
Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding musim lalu. Sebab, ada tiga tim Proliga 2024 yang memutuskan absen di Proliga 2025. Yaitu Jakarta STIN BIN, Jakarta Pertamina Pertamax dan Kudus Sukun Badak.
SBY mengaku sedih dengan penurunan jumlah peserta Proliga 2025 di kategori putra. Dia pun menyatakan bahwa PP PBVSI harus menelaah dan mencari tahu penyebab penurunan jumlah peserta.
Suami almarhumah Ani Yudhoyono itu khawatir alasan kontestan tak berminat ikut Proliga 2025 karena berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan.
"Kalau jumlahnya makin besar atau kelewat besar, saya kira klub yang ada sulit untuk membiayainya. Tidak semua klub memiliki kemampuan pembiayaan yang tinggi," cuit SBY dalam akun X pribadinya, Sabtu (14/12).
"Klub-klub yang dibentuk oleh BUMN tertentu, pasti memiliki batas anggaran yang bisa dikeluarkan. Termasuk tentunya LavAni yang pembiayaannya atas dasar sponsorship," tambahnya.
SBY menyinggung soal adanya kabar burung yang menyebut bahwa gaji pemain asing yang melonjak sangat tajam hingga melebihi kemampuan klub-klub di Indonesia. "Saya menyarankan agar PBVSI memikirkan adanya salary cap atau batas maksimal gaji bagi pemain asing," ucapnya.
Menurut SBY, gaji pemain asing yang sangat luar biasa besar tidak tepat dan justru menimbulkan kesenjangan yang makin tinggi dengan gaji atlet lokal yang prestasinya juga tidak selalu kalah dengan atlet asing.
"Peningkatan gaji atlet asing yang tidak dibatasi ini, patut diduga menyebabkan demotivasi di kalangan klub bola voli di Tanah Air karena merasa tidak mampu lagi untuk bersaing di kancah Proliga," terangnya.
"Untuk kita ketahui bersama, kebijakan menetapkan salary cap ini juga lazim diterapkan di negara-negara lain," tulis SBY menambahkan.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
