Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Agustus 2018 | 00.13 WIB

Jalan Berliku Dua Atlet Indonesia Menuju Kesuksesan

Irfan Jaya, striker Timnas U-23 Indonesia di pentas Asian Games 2018 - Image

Irfan Jaya, striker Timnas U-23 Indonesia di pentas Asian Games 2018

JawaPos.com - Keberhasilan atau kesuksesan tak didapat secara instan. Perlu perjuangan dan melalui jalan berliku. Itu pula yang dirasakan dua atlet Indonesia yakni Irfan Jaya di cabang sepak bola dan Sang Ayu Ketut Sidan Wilantari di cabor pencak silat.


Irfan Jaya seperti diketahui saat ini menjadi bagian dari Timnas Indonesia di Asian Games 2018. Sebelum menjadi andalan Merah Putih, Irfan harus berjuang untuk meraihnya. Semuanya berawal dari sepatu sepak bola seharga Rp 23 ribu yang kala itu terhitung mahal.


Sementara itu, Ayu yang berasal dari sebuah desa kecil, berjuang keras untuk bisa meraih mimpi. Ayu tak patah semangat demi mengharumkan bangsa Indonesia.


Nama Irfan Jaya memang mencuat setelah berhasil membawa Persebaya Surabaya jadi juara Liga 2 musim lalu. Berhasil membawa tim legenda itu promosi lagi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Bukan hanya itu, pemain 22 tahun tersebut juga berhasil menyabet penghargaan sebagai Pemain Terbaik Liga 2 2017. Kini, dia menjadi andalan Timnas U-23 Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018.


Irfan Jaya lahir di salah satu desa kecil bernama Bonto Maccini di Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kabupaten itu sebelumnya tercatat sebagai satu dari 199 kabupaten tertinggal di Indonesia. Sejak 2010, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal mengeluarkan Bantaeng dari daftar kabupaten tertinggal.


Karir Irfan sebagai pesepak bola juga tidak semulus yang dibayangkan. Sempat mendapat penolakan dari orang tuanya ketika memutuskan menjadi pemain sepak bola. Namun, Irfan yang keras kepala dan tidak kenal menyerah akhirnya bisa membuktikan dirinya bisa berjaya.


Ya, sama halnya dengan banyak orang tua lainnya, pria kelahiran 1 Mei 1996 itu diharapkan orang tuanya menjadi polisi. Orang tuanya juga tidak tega melihat Irfan yang badannya kecil terjatuh setelah ditekel lawan. "Tapi, saya inginnya menjadi pemain bola. Kalau jadi polisi, saya pendek juga," katanya, lantas tertawa.


Beruntung, sang kakak, Muhammad Ali, menyadari kemauan Irfan menjadi pesepak bola. Dari hasil arisan keluarga, sang adik pun dibelikannya sepatu bola untuk kali pertama. Sepatu bola yang dibeli di pasar terdekat seharga Rp 23 ribu. Mereknya Puma, tentu bukan sepatu bola orisinal.


Irfan yang kala itu masih duduk di kelas I sekolah dasar senang sekali dengan hadiah tersebut. Setiap hari dia memakainya. Kebetulan, di depan rumahnya ada lapangan sepak bola. Tiap kali pulang sekolah, lapangan itu selalu jadi tempat bermainnya. Berbekal sepatu bola hadiah sang kakak dan sebuah bola, Irfan mulai bermimpi menjadi pemain hebat sejak saat itu.


Nah, di lapangan itu juga, dia menimba ilmu. Bersama SSB Sinoa, skill-nya dipoles. Beberapa pertandingan tarkam yang diikuti memberikan banyak pengalaman padanya. Kesempatan kian terbuka lebar setelah Irfan lolos seleksi untuk ikut Pekan Olahraga Daerah (Porda) Bantaeng. Kebetulan, Kabupaten Bantaeng menjadi tuan rumah kejuaraan itu pada 2014 lalu. Irfan yang jadi salah satu pemain depan andalan akhirnya berhasil membawa Bantaeng jadi juara.


Dari situ, suami Sri Lestari tersebut akhirnya memperkuat PON Remaja I mewakili Sulawesi Selatan di Jawa Timur pada tahun yang sama. Sayang, Sulsel gagal jadi juara. Tapi, karirnya terus menanjak tahun berikutnya setelah masuk tim Persiban Bantaeng untuk ikut turnamen Sulsel Super Liga (SSLU21).


Persiban yang sama sekali tidak diprediksi bisa banyak bicara di kejuaraan itu memberi kejutan. Irfan yang jadi andalan berhasil membawa Persiban tembus 8 besar. Dia juga menjadi top scorer di turnamen tersebut.


Setelah itu, Irfan dilirik PSM U-21 yang akan mempersiapkan tim jelang Indonesia Soccer Championship pada 2016. Anak bungsu dari sembilan bersaudara itu pun terus membuktikan diri sebagai pesepak bola masa depan. Meski tidak berhasil membawa PSM U-21 juara, Irfan menjadi top skorer dengan raihan 14 gol.
Dari situ, Irfan dirilik banyak klub. Kedekatan dengan Iwan Setiawan akhirnya membawanya berkostum Persebaya Surabaya di Liga 2 musim 2017 lalu. Iwan kebetulan jadi pelatih Persebaya di awal musim lalu sebelum akhirnya digantikan Alfredo Vera.


Sejak saat itulah, Indonesia mengenal Irfan. Kecemerlangannya pun membawanya berkostum timnas Indonesia untuk kali pertama. Di bawah asuhan Luis Milla, dia jadi salah satu pemain yang masuk skuad di Asian Games 2018.


Irfan bersyukur atas apa yang sudah diraihnya selama ini. Hal itu tidak terlepas dari dukungan dan doa orang tua serta orang-orang terdekatnya. Juga bagi suporter Persebaya yang selama ini selalu mendukungnya. "Ini belum apa-apa, saya belum bisa memberikan prestasi untuk tim ataupun negara. Saya akan terus berusaha keras dan tidak cepat puas. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan," harapnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore