Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 November 2022 | 02.21 WIB

Pecco Menjadi Juara dengan Cara yang Tidak Biasa

PENCAPAIAN BESAR: Selebrasi Francesco Bagnaia setelah memastikan diri menjuarai MotoGP musim ini di Valencia kemarin. (AFP) - Image

PENCAPAIAN BESAR: Selebrasi Francesco Bagnaia setelah memastikan diri menjuarai MotoGP musim ini di Valencia kemarin. (AFP)

JawaPos.com – Pembalap yang terkenal kalem itu tak bisa membendung air matanya. Sesaat setelah melewati garis finis di Sirkuit Ricardo Tormo kemarin (6/11), Francesco Bagnaia meminggirkan motornya. Dia menunduk. Menggeleng-gelengkan kepala.

Seakan belum percaya sejarah besar baru saja dia ukir di balapan MotoGP terakhir musim ini tersebut.

Ya, perjalanan hebat Bagnaia di MotoGP musim ini diakhiri dengan cara yang sejatinya tidak diharapkannya.

Finis di posisi ke-9 sama sekali bukan hasil yang dia inginkan. Tapi itu sudah cukup mengantarnya merengkuh gelar juara dunia MotoGP pertamanya sepanjang karier.

Gelar itu sekaligus menjadi akhir penantian panjang Ducati meraih gelar juara dunia keduanya sepanjang sejarah di balapan kelas para raja. Kali terakhir pabrikan Italia tersebut menjadi juara dunia 15 tahun silam melalui Casey Stoner.

”Ini balapan terberat yang pernah aku jalani. Sebenarnya aku ingin finis di lima besar. Tapi, intinya adalah pada akhirnya aku meraih gelar juara dunia. Benar-benar hari yang indah," ucap Bagnaia dalam wawancara di parc ferme seusai balapan.

Pembalap Monster Energy Yamaha Fabio Quartararo yang datang ke Valencia tak bisa berbuat banyak.

Pembalap asal Prancis tersebut hanya finis di posisi ke-4. Hasil itu tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan poinnya atas Bagnaia di klasemen pembalap.

Perjalanan Bagnaia merengkuh gelar juara dunia pertamanya tahun ini memang sungguh tidak mudah.

Di paro pertama musim ini performa pembalap 25 tahun tersebut drop. Di sepuluh balapan pertama, dia sempat gagal finis empat kali.

Tapi, catatan itu juga yang akhirnya membuat Bagnaia menjadi juara dunia 2022 dengan cara yang tidak biasa.

Dia pun kini tercatat sebagai pembalap yang sanggup menjadi juara dunia MotoGP dengan comeback perolehan poin terbesar.

Itu setelah dia sempat tertinggal 91 poin dari pemuncak klasemen Quartararo di pertengahan musim.

Bagnaia kini juga tercatat sebagai pembalap pertama yang sanggup menjadi juara dunia MotoGP meski sempat gagal finis sampai lima kali dalam satu musim.

Dalam 20 balapan yang dia jalani musim ini, Bagnaia gagal finis di GP Qatar, Prancis, Catalunya, Jerman, dan Jepang.

Gelar juara dunia yang diraih Bagnaia ini juga menggambarkan persaingan pembalap yang makin cair. Bagnaia membuat MotoGP selalu memiliki juara dunia berbeda dalam empat tahun belakangan.

Tiga musim terakhir pembalap yang menjadi juara dunia adalah Marc Marquez (2019), Joan Mir (2020), dan Quartararo (2021). Kenyataan itu sekaligus membuat peta persaingan musim depan makin menarik untuk dinanti.

Rentetan 21 race MotoGP musim 2023 akan dimulai di Portugal pada 26 Maret tahun depan.  

 

 

 

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore