
Photo
JawaPos.com-Ramli Al Rashid tidak ingin manfaat lari dia rasakan sendiri. Melalui Virtuathlon, dia ingin mengajak masyarakat bergerak untuk sehat. Selain itu, dengan mengikuti charity run, Ramli bisa berbagi dengan sesama.
Ramli menghabiskan masa kecil di Sukabumi, Jawa Barat. Terbiasa hidup di daerah pegunungan, dia sudah hobi lari. Dia menekuni atletik sejak remaja. Mengikuti lari jarak menengah, Ramli mewakili sekolah hingga tingkat provinsi.
Ketika kuliah di Jakarta, hobinya beralih ke sepak bola dan futsal. Waktu itu juga belum ada tren lari seperti sekarang. Baru sekitar 2013 Ramli aktif lari lagi. Tidak sekadar tren, lari juga membawa perubahan dalam hidupnya.
Dia mengikuti race pertamanya, UI Run for River, dengan jarak 10 km pada 2014. ’’Ternyata saya masih bisa lari walaupun sudah lama vakum. Waktu itu saya sudah kerja. Olahraga gym. Setidaknya secara stamina masih ada modal,’’ ungkap pria 30 tahun itu.
Titik tersebut menjadi awal dari petualangannya menggeluti lari. Perlahan dia mulai naik tingkat ke half marathon, full marathon, hingga ultramaraton. Kemudian, pada 2017, dia mendirikan platform Virtuathlon.
Hingga dua tahun terakhir, Ramli lebih intens ke arah ultramaraton. Bagi dia, ada pengalaman berbeda ketika dia bisa melahap rute lebih dari 42,195 km. ’’Ada experience beda ketika melintasi satu kota ke kota yang lain. Selain itu, kalau lari ultra itu nggak perlu cepat-cepat. Jadi, kita bisa mengatur waktu sendiri,’’ jelas Ramli.
Beberapa race ultra yang Ramli ikuti berupa charity run. Meski tidak semua finis, Ramli tetap bangga karena ada sesuatu yang bisa dia berikan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.
Seperti saat mengikuti NusantaRun Chapter 6 dari Dieng, Wonosobo, ke Gunungkidul, Jogjakarta, sejauh 169 km. Sayang, Ramli terhenti di Km 166 karena melebihi cut-off time.
Meski agak kecewa, itu adalah kali pertama Ramli bisa lari di atas jarak 160 km. Kondisinya juga masih baik. Dia juga berhasil mengumpulkan donasi kurang lebih Rp 10 juta.
’’Bisa mengalahkan limit yang sebelumnya nggak saya bayangkan. Ekspektasi saya paling endurance sampai 100 km. Ternyata bisa lebih itu yang bikin saya happy meski nggak finis. Amaze-nya di situ,’’ kata alumnus Universitas Paramadina tersebut.
Setelah ultramaraton, sebenarnya tahun ini Ramli berencana mencicipi experience baru dengan ultratrail. Sayang, pandemi Covid-19 membuat rencananya tertunda.
’’Beralih ke titik baru dengan pengalaman baru. Buat saya race ultra tidak membosankan. Malah bisa melepas stres ketika sudah suntuk bekerja,’’ pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
