Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 April 2020 | 01.34 WIB

Richard Mainaky Percaya Praveen/Melati Bisa Meraih Emas Olimpiade

Photo - Image

Photo

JawaPos.com – Olimpiade Tokyo 2020 memang baru diadakan tahun depan. Namun, hal itu tidak mengurangi optimisme pelatih ganda campuran pelatnas Richard Mainaky.

Dia percaya pasangan andalannya, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani, mampu meraih emas. Gelar All England 2020 yang diraih Maret lalu menjadi salah satu dasar kepercayaan diri Richard.

Selain itu, dia menyebut ganda campuran memiliki karisma untuk meraih medali. Sejak Olimpiade 2000 di Sydney, sektor itu begitu sering menyumbangkan medali buat kontingen Indonesia.

Mulai Tri Kusharjanto/Minarti Timur (perak Olimpiade 2000), Nova Widianto/Liliyana Natsir (perak Olimpiade Beijing 2008), sampai yang terakhir Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang merebut emas Olimpiade Rio 2016.

’’Bahkan, Praveen/Debby (Susanto) dulu gagal pada perempat final Olimpiade Rio 2016 karena bertemu teman sendiri. Makanya, saya punya keyakinan nanti Praveen/Melati minimal bisa raih medali,’’ papar Richard kemarin.

’’So far, kami lihat dulu perkembangannya,’’ tambah pelatih berusia 55 tahun itu.

Saat ini Praveen/Melati (yang akrab disebut PraMel) menduduki peringkat keempat dunia. Pasangan yang debut pada 2018 itu diharapkan bisa mempertahankan posisi. Soal peluang naik ke ranking tiga, Richard masih memantau perkembangan ke depan. Dia berharap keadaan kembali normal dan turnamen bisa digelar lagi.

’’Lihat dulu jadwal kualifikasi dan kejuaraan apa lagi yang akan diikuti. Kalau bisa meraih beberapa gelar, mungkin bisa naik ke peringkat ketiga,’’ jelas Richard.

Di kalangan badminton lovers, ada mitos bahwa juara All England biasanya tidak bisa meraih medali Olimpiade di tahun yang sama. Kutukan itu pernah dialami Tontowi/Liliyana. Pasangan yang akrab disapa Owi/Butet tersebut menjuarai All England 2012. Nah, pada Olimpiade London, mereka gagal meraih medali.

’’Selama saya melatih mitos itu tidak pernah ada dalam benak saya. Dulu kan ada juga mitos, katanya All England itu sangar. Tetapi, saya bisa mengantar Owi/Butet hat-trick. Sampai sekarang, selama saya jadi pelatih, sudah ada lima gelar,’’ papar Richard.

’’Nggak pernah saya memikirkan itu (mitos),’’ tambahnya, lantas tertawa.

Di sisi lain, Melati mengatakan, dengan mundurnya Olimpiade, dirinya memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Dia tidak khawatir peak performance-nya dan Praveen akan lewat setelah menjuarai All England.

’’Dilihat dari situasi seperti ini, ya berpikir positif saja. Semua pemain juga pasti kena. Kalau tidak ada virus, mungkin bisa sesuai rencana,’’ ucap Melati.

Pemain juga berusaha memetik sisi positif dari ditundanya Olimpiade. Dia bisa memperbaiki banyak hal. Sebab, meski juara All England, secara penampilan dia dan Praveen belum konsisten.

’’Tentu, saya bisa bersiap lebih siap lagi. Ini bakal jadi Olimpiade saya yang pertama. Perencanaan banyak ditunda memang. Sama saja sebenarnya. Jalankan saja,’’ lanjutnya.

Seperti sang pelatih, Melati menanggapi dengan tenang mitos juara All England.

’’Olimpiade mundur tahun depan. Jadi, ibaratnya kutukan terlewat kan,’’ kata Melati.

’’Tapi, itu cuma mitos. Balik lagi dengan usaha dan takdir yang Di Atas. Kalau rezeki kan enggak ke mana-mana,’’ tambah pemain binaan PB Djarum Kudus tersebut.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore