Diego Mauricio, bomber Persebaya Surabaya, saat bermain bersama Ronaldinho di Flamengo. (X India Times)
JawaPos.com — Di Flamengo, Diego Mauricio sempat merasakan satu lapangan dengan Ronaldinho. Pengalaman langka itu membuat namanya langsung melejit sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan asal Brasil.
Kebersamaan dengan Ronaldinho membuat Diego belajar banyak soal teknik, mental, dan gaya bermain khas pemain top dunia. Tak heran bila sejak awal kariernya, ia mendapat sorotan besar dari publik sepak bola Brasil.
Diego Mauricio memulai karier di akademi Flamengo pada 2006 sebelum menembus tim utama empat tahun kemudian. Debut profesionalnya terjadi melawan Grêmio Prudente di Stadion Maracanã pada 2010.
Tak butuh waktu lama baginya untuk mencatatkan gol perdana. Pada 21 Juli 2010, ia menjebol gawang Avaí dan semakin memantapkan posisinya di skuat utama Flamengo.
Selama membela klub asal Rio de Janeiro tersebut, Diego tampil sebanyak 78 kali di semua kompetisi. Catatannya mencakup 8 gol, 8 assist, 5 kartu kuning, serta 3.120 menit bermain.
Perjalanan Diego kemudian membawanya ke berbagai belahan dunia. Pada 2012, ia pindah ke Rusia untuk memperkuat Alania Vladikavkaz sebelum sempat dipinjamkan ke Sport Recife dan bergabung dengan Vitória serta Bragantino.
Petualangannya berlanjut ke Asia dan Timur Tengah. Diego sempat merumput bersama Al Qadsiah di Arab Saudi, Shijiazhuang Ever Bright di Tiongkok, lalu mencicipi atmosfer Liga Korea Selatan bersama Gangwon FC dan Busan IPark.
Meski berpindah-pindah klub, kualitasnya sebagai striker haus gol tetap terjaga. Pada 2020, ia kembali ke Brasil untuk memperkuat CSA sebelum akhirnya memilih hijrah ke India.
Keputusannya menuju Indian Super League terbukti tepat.
Bersama Odisha FC, Diego menjelma menjadi mesin gol mematikan dan sukses merebut gelar Golden Boot pada musim 2022/2023 dengan torehan 12 gol dari 21 pertandingan.
Prestasi itu membuatnya masuk daftar pencetak gol terbanyak liga. Bahkan, ia membantu Odisha FC meraih Super Cup India serta dinobatkan sebagai Hero of the Tournament berkat performa konsistennya.
Gaya bermain Diego yang mengandalkan kecepatan, kekuatan fisik, dan finishing tajam membuatnya mendapat julukan “Drogbinha”. Julukan itu lahir karena permainannya dianggap mirip dengan legenda Chelsea, Didier Drogba.
Diego juga dikenal fleksibel karena mampu bermain di banyak posisi. Selain sebagai penyerang tengah, ia juga piawai ditempatkan di sayap kiri maupun kanan.
Kini di usia 34 tahun, ia datang ke Indonesia untuk memperkuat Persebaya Surabaya. Kehadirannya diumumkan resmi pada 19 Agustus 2025 menjelang penutupan bursa transfer.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
