Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 05.46 WIB

Kisah yang Dapat Dipetik dari Piala Presiden 2025, Belajar Transparansi hingga Bangun Ekonomi Kerakyatan Lewat UMKM

Gerai pelaku UMKM di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. (Dimas Ramadhan Wicaksana/JawaPos.com) - Image

Gerai pelaku UMKM di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. (Dimas Ramadhan Wicaksana/JawaPos.com)

JawaPos.com – Piala Presiden 2025 telah berakhir, di mana Port FC keluar sebagai pemenang setelah mengandaskan wakil Inggris, Oxford United. Di luar keberhasilan klub asal Thailand tersebut, terselip kisah yang dapat dijadikan pembelajaran.

Turnamen bertajuk pramusim seperti Piala Presiden memang menghadirkan sejumlah fakta yang jarang diketahui publik. Selain kemenangan 2-1 Port FC, tak banyak yang mengetahui bahwa turnamen ini ternyata menjadi penggerak roda perekonomian secara signifikan.

Jika diterapkan secara kontinu, tak menutup kemungkinan akan menjadi sumber pendapatan, baik pemasukan bagi masyarakat setempat maupun negara secara luas.

Contoh kecil ketika pelaku UMKM begitu menikmati keuntungan dengan adanya Piala Presiden 2025. Di tengah aktivitas pertandingan sepak bola di Bandung, tepatnya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), penjualan pelaku UMKM turut terdongkrak.

Keuntungan mereka makin bertambah karena lebih dari 100 pelaku UMKM mendapatkan ruang gratis untuk berjualan di GBLA. Walau omzet mereka terbilang variatif, tapi setidaknya mereka mendapatkan pendapatan bersih hingga jutaan rupiah per hari.

“Kami bersyukur dengan adanya turnamen ini (Piala Presiden 2025). Momen ini membuat kami selaku pelaku UMKM mendapatkan tempat gratis, dan momen mencari keuntungan dengan berjualan,” tutur Ibu Sri, yang berjualan souvenir khas Bandung.

Belajar Transparansi

Paling menyita perhatian tentu saja transparansi dalam menggelar sebuah event. Dan, dana miliaran rupiah yang diperoleh dari pihak sponsor dapat dikelola dengan baik.

Ya, tahun ini, pihak panitia tak mengandalkan uang dari APBD maupun APBN. Semua berasal dari sponsor yang diaudit secara independen.

Ketua Steering Committee, Maruara Sirait, menjelaskan dana sponsor mencapai Rp 68 miliar. Dan, tidak ada dana masuk dari pemerintah untuk menggelar event ini. Fakta ini tentu saja menjadi terobosan yang jarang terjadi dalam penyelenggaraan ajang olahraga di Indonesia.

Seluruh dana terkumpul itu dialokasikan untuk semua sesi acara, mulai hadiah juara, subsidi tim peserta, hingga kesuksesan acara nonpertandingan seperti hiburan, keamanan, hingga fasilitas UMKM.

Karena itu, pihak panitia tidak memungut uang sepeser pun dari pelaku UMKM. “Kalau Persib masuk pasti lebih ramai lagi gitu kan? Tapi, ya lumayan lah. Jujur aja kalau Persib masuk pasti lebih rame lagi. Tapi, kan kita gak ngatur skor,” ungkap Maruara.

“Bebas. Ya, itu adalah fair play. Jadi, kita tentu senang karena kita kan tidak pungut uang sewa. Tidak kasih uang sewa. Supaya mereka gembira lah. Seperti pesan presiden kan harus berdampak kepada rakyat kecil. Ya, kepada ojek-ojek, kepada hotel, perumahan yang ada. Mungkin sewa-sewa, kemudian buat makanan-makanan, pedagang kaki lima, asongan. Harus ada dampaknya bagi ekonomi lokal. Harus ada masyarakat. itu pesan Presiden Prabowo yang kami harus jaga,” tambahnya.

Yang jelas, penyelenggaraan Piala Presiden 2025 dapat dijadikan contoh kongkret bahwa pertandingan sepak bola itu bisa bersih, profesional, dan yang lebih penting masalah transparansi.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore