Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Juni 2025 | 21.58 WIB

Kisah Sedih Pelatih Kiper Persebaya Surabaya Felipe Americo Martins, Gagal Jadi Penjaga Gawang karena Postur Tubuh

Pelatih kiper Persebaya, Felipe Americo Martins mengaku sudah menjadi juru taktik penjaga gawang sejak usia 20 tahunan saat masih di Brasil. (Instagram Felipe Americo) - Image

Pelatih kiper Persebaya, Felipe Americo Martins mengaku sudah menjadi juru taktik penjaga gawang sejak usia 20 tahunan saat masih di Brasil. (Instagram Felipe Americo)

‎JawaPos.com - Persebaya Surabaya turut merombak juga pelatih kiper saat resmi mengontrak Eduardo Perez sebagai juru taktik baru. Posisi yang sebelumnya dijabat oleh Benjamin van Breukelen, kini beralih kepada Felipe Americo Martins.

‎Mungkin banyak yang belum mengenal Felipe Americo Martins, apalagi pelatih kiper Persebaya sejauh ini identik dengan Benjamin van Breukelen. 

‎Kini, dengan adanya pergantian pelatih kiper, diharapkan para penjaga gawang Green Force bisa tampil lebih tangguh musim depan.

‎Ada kisah agak sedih dibalik keputusan Felipe Americo memilih profesi sebagai pelatih kiper. Dalam pengakuannya pada sebuah wawancara, ia sebenarnya memiliki keinginan menjadi kiper.

‎"Saat masih di Brasil, sejak kecil saya suka menjadi kiper saat main sepak bola, dan ingin menjadi kiper profesional. Tetapi karena di Brasil untuk menjadi kiper harus memiliki postur tinggi, sedangkan postur saya kurang tinggi, akhirnya saya harus mengubur impian saya itu," ungkap Felipe pada akun YouTube Tiento Indonesia.

‎Meskipun begitu, ia tetap mengejar karir profesional pada hal-hal yang masih berkaitan dengan kiper, yaitu menjadi pelatih penjaga gawang, bahkan sejak muda.

‎"Saat masih di Brasil juga, ketika berusia sekitar 20 tahun, karena gagal menjadi penjaga gawang, maka aku meniti karir dengan bekerja sebagai pelatih kiper," imbuhnya.

‎Kini, di usianya yang sudah 40 tahun, pengalamannya sebagai pelatih kiper tentu sudah cukup banyak. Ia pun membeberkan apa saja syarat untuk menjadi penjaga gawang handal.

‎"Harus memiliki kondisi fisik yang bagus dan kuat, rutin berlatih setiap hari, pandai membaca pertandingan, lalu pandai menempatkan posisi," terangnya.

‎Ia juga membeberkan tantangan sebagai penjaga gawang, yaitu antisipasi tendangan-tendangan jarak jauh, apalagi oleh pemain-pemain yang memiliki kekuatan dan akurasi tendangan bagus.

‎"(Tantangannya) mengantisipasi tendangan jarak jauh dan juga umpan crossing. Lalu yang tak kalah penting adalah memiliki kemampuan passing jarak jauh kepada rekan setim," jelasnya lagi.

‎Ia juga menilai Indonesia banyak memiliki kiper yang bagus secara kualitas. Beberapa nama yang ia sebutkan antara lain Teja Paku Alam dan Nadeo Argawinata. Dan musim depan ia akan menangani salah satu kiper nasional terbaik, yaitu Ernando Ari.

‎Pelatih kelahiran Brasil ini memang gagal menjadi kiper, tetapi ia cukup sukses berkarir sebagai pelatih penjaga gawang. Ia pun berpesan pada para pemain muda, khususnya yang berposisi sebagai kiper agar menerapkan tiga hal ini.

‎"Untuk pemain muda, kalian harus fokus, kerja keras, dan berani mengejar mimpi. Kalau kalian bisa menjalankan tiga hal itu, kalian bisa menjadi pemain sepak bola yang sukses," ujarnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore