Uston Nawawi siap bawa Persebaya Surabaya lolos ke kompetisi Asia musim depan. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Nama Uston Nawawi tak pernah lepas dari Persebaya Surabaya, baik sebagai pemain maupun pelatih. Ia menjadi figur penting yang tetap bertahan dalam lima era kepelatihan berbeda di skuad Green Force sejak era Liga 1 bergulir.
Kehebatannya bukan hanya di masa aktif bermain, tetapi juga saat menjelma menjadi asisten pelatih yang selalu dipercaya tim.
Uston Nawawi menjadi saksi perjalanan taktis Persebaya Surabaya di tangan lima pelatih kepala berbeda dalam kurun waktu enam tahun terakhir.
Ia mulai menjabat sebagai asisten pelatih sejak era Aji Santoso, dan terus dipertahankan oleh pelatih kepala berikutnya seperti Paul Munster, Josep Gombau, Mustaqim, Wolfgang Pikal, hingga kini Eduardo Perez Mora.
Konsistensinya membuatnya sebagai kepingan penting Persebaya Surabaya dalam setiap transisi pelatih.
Keputusan manajemen menunjuk Eduardo Perez Mora sebagai pelatih kepala musim 2025/2026 kembali menegaskan peran vital Uston sebagai pendamping strategis.
Dengan pengalamannya yang mendalam, ia dipercaya mampu menjaga kesinambungan taktik dan karakter tim.
Sebagai pemain, Uston adalah legenda hidup Persebaya Surabaya yang lahir di Sidoarjo pada 6 September 1977. Ia dua kali mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia untuk Persebaya Surabaya pada musim 1996/1997 dan 2004.
Hebatnya lagi, ia tercatat sebagai gelandang tersubur dalam sejarah Persebaya Surabaya dengan torehan 63 gol sepanjang kariernya. Catatan luar biasa ini menempatkan namanya dalam daftar pemain paling berpengaruh di klub.
Masa kecilnya di Dusun Klagen turut membentuk karakternya yang disiplin dan kreatif. Nama-nama besar lahir dari Sidoarjo seperti Hariono, Lucky Wahyu, dan Rendi Irwan—yang semuanya menjadi gelandang berbakat Indonesia.
“Dulu air sungai masih bening dan segar,” kenang Uston tentang masa kecilnya dikutip dari kanal Youtube Omah Balbalan.
Dusun Klagen dikenal sebagai kawah candradimuka gelandang nasional berkat peran sosok Mas Wahyu, ayah dari Lucky Wahyu.
Mas Wahyu selalu mendorong anak-anak bermain sebagai gelandang karena dinilai lebih cepat berkembang secara teknis dan taktis.
Uston memulai langkahnya secara nasional dengan tampil di ajang POPNAS 1995 bersama Charis Yulianto. Penampilannya membuatnya dipanggil untuk bergabung ke proyek PSSI Baretti yang menimba ilmu di Italia.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
