Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Agustus 2024 | 16.40 WIB

Kisah Heroik ‘The Great Wall’ Milik Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia Era 1970-an Bernama Loa Kwi San

Loa Kwi San atau Lukman Santoso adalah legenda Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia di era 1970-an. (JawaPos.com) - Image

Loa Kwi San atau Lukman Santoso adalah legenda Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia di era 1970-an. (JawaPos.com)

JawaPos.com — Loa Kwi San, atau lebih dikenal sebagai Lukman Santoso, adalah salah satu bek terbaik yang pernah dimiliki Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia pada era 1970-an.

Julukan ‘The Great Wall’ atau Tembok Besar pantas disematkan padanya karena ketangguhan luar biasa di lini belakang yang membuatnya menjadi benteng tangguh tak tergantikan di masa kejayaan Green Force.

Kala itu pada Januari 2017, saat usianya menyentuh angka 72 tahun, Lukman Santoso masih terlihat aktif menjaga kebugaran. Meskipun telah jauh dari masa-masa kejayaannya, semangatnya masih tetap hidup.

Dari halaman rumahnya di Perumahan Delta Dieng, Malang, pria asli Ngawi itu kerap menunjukkan keahlian mengolah bola kepada cucunya. Kecepatan, kelincahan, hingga tembakan kencang yang masih dia miliki membuat banyak orang kagum akan kemampuan sepak bola yang tidak memudar meskipun usianya sudah menua.

Lukman Santoso mulai merumput bersama Persebaya Surabaya sejak 1969. Menempati posisi bek tengah, dia membawa angin segar bagi skuad Green Force yang saat itu mulai mempersiapkan diri menghadapi persaingan di kompetisi nasional.

Dia diambil langsung oleh legenda Persebaya Surabaya, Januar Pribadi, yang melihat talenta luar biasa dari Lukman Santoso. Dengan tinggi badan mencapai 182 cm, Lukman Santoso sangat dominan dalam duel udara, dan itu membuat lawan-lawan Persebaya Surabaya sulit untuk menembus lini pertahanan.

"Dulu lompatan saya tinggi. Lawan sulit menang saat duel bola atas,” ujarnya Lukman Santoso dikutip dari Koran Jawa Pos edisi 21 Januari 2017.

Kehadiran Lukman Santoso di Persebaya Surabaya menjadi faktor utama keberhasilan tim tersebut menduduki posisi puncak dalam kompetisi PSSI 1973. Tidak hanya kuat dalam bertahan, Lukman Santoso juga dikenal sebagai pemain yang memiliki mentalitas juara.

Kemampuan luar biasanya ini tidak hanya membuat Persebaya Surabaya menjadi salah satu tim dengan pertahanan terbaik, tetapi juga membuat Lukman Santoso menjadi figur yang disegani di kancah sepak bola nasional.

Bahkan, Rusdi Bahalwan, salah seorang legenda Persebaya Surabaya yang merupakan junior Lukman Santoso, hampir tidak pernah bermain gara-gara kemampuan The Great Wall. "Dia cadangan saya, jarang main. Saya cedera, baru dia main,” katanya.

Rusdi Bahalwan akhirnya juga menjelma menjadi pemain hebat dan tactician legendaris dalam sejarah Green Force.

Walau begitu, kepiawaian Lukman Santoso dalam mengolah bola turut membuka jalan bagi dirinya membela Timnas Indonesia. Pada 1964, saat masih berusia 19 tahun, Lukman Santoso dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan di Diklat Salatiga.

Setahun kemudian, Lukman Santoso menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia yang berlaga di ajang Ganefo (Games of the New Emerging Forces) di Korea Utara.

Meski tidak membawa prestasi besar, pengalaman bermain di ajang internasional sangat berarti bagi Lukman Santoso. Bahkan, momen saat menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ di lapangan masih membekas di hatinya.

"Di sana saya nangis mendengar lagu Indonesia Raya kami nyanyikan. Semua negara yang hadir menghormati Indonesia. Walaupun memang tidak ada prestasi, kami tidak pernah menang saat itu," kenang pemain yang sempat mengenakan ban kapten di beberapa pertandingan untuk Timnas Indonesia itu.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore