
Pesepak bola Timnas Putri Indonesia Emily Julia Frederica menutup wajahnya usai kalah dari Timnas Putri Pakistan. (ANTARA)
JawaPos.com-Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo tampil dengan pendekatan yang sangat realistis dalam mendorong terealisasinya Liga Putri Indonesia. Dengan tegas namun santai, Menpora muda ini justru mengadvokasi filosofi ‘sederhana dulu tidak apa-apa’ - sebuah pendekatan yang mungkin terdengar kontroversial di telinga para perfeksionis sepak bola, namun sangat masuk akal untuk kondisi Indonesia saat ini.
"Ya, ini nanti akan kami tanyakan juga. Karena kami juga ingin Liga Putri ini segera diselenggarakan," tegas Dito saat ditemui di Jakarta, Rabu (9/7). Pernyataan simpel ini sebenarnya mengandung makna mendalam - bahwa pemerintah serius ingin melihat sepak bola putri Indonesia bangkit dari keterpurukan.
Yang menarik dari sikap Menpora adalah keberaniannya melawan kultur ‘gengsi’ yang sering menghambat progress di Indonesia. Ketika ditanya soal format komunikasi dengan PSSI, Dito justru menekankan pendekatan praktis ketimbang kemewahan yang sering jadi obsesi penyelenggara.
"Mungkin nanti saya akan memberikan masukan ke PSSI bahwa mungkin ya bisa diselenggarakan juga secara praktis. Jadi mungkin jangan yang bersifat megah dulu," ujar pria yang dikenal memiliki background bisnis ini.
Filosofi ‘sederhana dulu gapapa’ ini sebenarnya sangat relevan dengan kondisi sepak bola putri Indonesia yang sudah terlalu lama terpuruk. Sejak Liga Putri terakhir digelar pada 2019, para pemain putri Indonesia seolah terlupakan dalam ekosistem sepak bola nasional. Rencana PSSI yang terus mundur - dari 2026 ke 2027 - menunjukkan betapa sulitnya merealisasikan kompetisi yang "sempurna" menurut standar mereka.
Dito sepertinya memahami bahwa yang dibutuhkan saat ini bukanlah turnamen megah dengan fasilitas mewah, melainkan platform kompetisi yang bisa segera memberikan kesempatan kepada atlet-atlet putri untuk menunjukkan kemampuan mereka.
"Ini kan kita memulai untuk memberikan pemicu dan juga suntikan agar atlet-atlet putri bola se-Indonesia ini bisa terpantau juga," ungkapnya dengan penuh semangat.
Pendekatan pragmatis Menpora ini mencerminkan pemahaman yang matang tentang kondisi riil sepak bola Indonesia. Daripada menunggu kondisi yang ‘ideal’ - yang mungkin tak akan pernah datang - lebih baik memulai dengan apa yang ada dan mengembangkannya secara bertahap.
Yang paling penting dari sikap Dito adalah pengakuannya bahwa kompetisi resmi dapat menggugah motivasi para atlet. Ini bukan sekadar turnamen, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan sepak bola putri Indonesia. "Ya, ini nanti kita akan membahas dengan PSSI," pungkasnya dengan nada optimis.
Dengan pendekatan tersebut, Menpora Dito sebenarnya sedang mengajarkan pelajaran berharga: bahwa kesempurnaan adalah musuh dari kemajuan. Daripada terus bermimpi tentang Liga Putri yang sempurna namun tak kunjung terealisasi, lebih baik memulai dengan format sederhana yang bisa segera dijalankan. Lagipula, siapa bilang yang sederhana tidak bisa berkembang menjadi luar biasa? (*)

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
