Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Februari 2025 | 18.44 WIB

Duka Mendalam Nurkiman, Mantan Pemain Berbakat Persebaya Surabaya yang Kehilangan Penglihatan di Usia 22 Tahun

Nurkiman jadi salah satu pemain berbakat Persebaya Surabaya yang harus pensiun dini karena aksi suporter yang kebablasan. (Youtube @omahbalbalan)

JawaPos.com — Tragedi yang menimpa Nurkiman, mantan pemain Persebaya Surabaya, menjadi kisah yang tak terlupakan dalam dunia sepak bola Indonesia. Di usia 22 tahun, ia harus mengubur mimpi besarnya karena kehilangan penglihatan akibat kekerasan suporter.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada laga Liga Dunhill antara Persebaya Surabaya dan Persema Malang di Stadion Gajayana, Malang, Selasa 26 Desember 1995. Pertandingan yang berlangsung panas itu berujung pada kejadian tragis yang membuat karier Nurkiman terhenti.

Usai pertandingan, rombongan tim Persebaya Surabaya segera meninggalkan stadion menggunakan bus. Perjalanan pulang yang seharusnya menjadi waktu beristirahat malah berubah menjadi momen paling menyakitkan bagi Nurkiman.

Nurkiman duduk di dekat jendela, berdampingan dengan Mursyid Effendi. Tanpa diduga, sebuah batu yang ditembakkan dengan ketapel oleh oknum suporter lawan menghantam kaca bus hingga pecah.

Pecahan kaca berhamburan dan mengenai mata kiri Nurkiman. Luka yang ditimbulkan sangat serius, hingga menyebabkan gangguan penglihatan yang parah.

"Setelah laga kami pulang dengan bus, tapi jalannya melambat karena di pinggir jalan banyak suporter Malang. Di tikungan dilempari batu, saya tengok ke kiri, kaca pecah diketapel, di sebelah kanan saya itu Mursyid," kata Nurkiman dalam wawancara di kanal YouTube Omah Bal-Balan, Minggu (23/2/2025).

"Busnya tidak ada kaca film, sehingga membuat mata kiri saya terkena serpihan kaca hingga cacat sampai sekarang," lanjutnya dengan nada sedih.

Setelah kejadian tersebut, Nurkiman segera dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Sayangnya, kondisi matanya sudah sangat parah dan sulit disembuhkan.

Pernyataan dokter menjadi pukulan berat bagi Nurkiman. Di usia yang masih muda, ia harus menerima kenyataan pahit karier sepak bolanya harus berakhir.

"Usia saya saat itu baru 22 tahun, susah, kacau hati saya mendengar kabar itu, bahwa saya tidak bisa lagi bermain bola. Nggak karu-karuan sepanjang perjalanan ambulans," ungkapnya penuh emosi.

Hingga saat ini, serpihan kaca masih bersarang di bola mata kirinya. "Sampai sekarang di dalam mata kiri saya masih ada serpihan kacanya. Kata dokter kalau diambil bola mata bisa gembos. Saya masih sempat bermain tapi setengah kompetisi, karena memang pandangan terbatas," tambahnya.

Meski sempat berusaha kembali ke lapangan, keterbatasan penglihatannya membuat Nurkiman tak bisa bermain maksimal. Akhirnya, ia memutuskan untuk pensiun dini setelah setengah musim.

Setelah meninggalkan dunia sepak bola, Nurkiman melanjutkan hidup dengan bekerja di PDAM Kota Surabaya. Pekerjaan itu sudah menjadi sampingan yang ia jalani sebelum insiden tragis tersebut terjadi.

Kisah tragis Nurkiman menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga keamanan dalam sepak bola. Peristiwa ini menjadi luka mendalam, bukan hanya bagi Persebaya Surabaya, tetapi juga seluruh pecinta sepak bola Indonesia.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore