Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Desember 2024 | 17.14 WIB

Memori Haru Solidaritas Suporter Persebaya Surabaya untuk Tragedi Kanjuruhan, Bonek Kawal Pak Midun Bikin Merinding

Pak Midun saat berfoto bersama para suporter PSIM Jogja Brajamusti dan The Maident di Wisma PSIM Jogja. (Radar Jogja)

 

JawaPos.com — Tragedi Kanjuruhan meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Indonesia. Namun, di balik tragedi tersebut, ada kisah haru yang menunjukkan betapa solidaritas antarsuporter mampu melampaui batas rivalitas.

Pak Midun, seorang pejuang keadilan untuk korban Tragedi Kanjuruhan, menjadi tokoh penting dalam mengawal kasus ini hingga ke tingkat nasional. Dengan semangat tak kenal lelah, ia terus menyuarakan keadilan bagi para korban yang kehilangan nyawa dalam peristiwa memilukan itu.

Perjalanan panjang dari Malang menuju Jakarta untuk mengawal kasus ini menjadi momentum tak terlupakan bagi Pak Midun. Dukungan besar datang dari berbagai kalangan suporter, terutama Bonek, yang dikenal sebagai rival Aremania di lapangan.

Pak Midun mengungkapkan rasa harunya saat melintasi Surabaya dan disambut hangat oleh para Bonek. "Saya merasa hidup di dimensi yang lain. Saat melewati Surabaya, rivalitas seakan tidak ada. Mereka menyambut saya dengan luar biasa, menyediakan minuman, bahkan menemani perjalanan. Saya tidak pernah membayangkan akan mendapat dukungan sebesar ini," katanya penuh emosi, dikutip dari Instagram @panditfootball.

Dukungan dari Bonek menunjukkan Tragedi Kanjuruhan bukan hanya tentang rivalitas Arema FC dan Persebaya Surabaya. Peristiwa ini menjadi pengingat kemanusiaan lebih penting daripada sekadar fanatisme sepak bola.

Solidaritas dari Bonek memberikan kekuatan baru bagi Pak Midun untuk terus melangkah. Baginya, dukungan ini adalah bentuk persatuan yang memperkuat tekadnya memperjuangkan keadilan.

Kisah Pak Midun pun menjadi viral di media sosial, menyentuh hati banyak pencinta sepak bola di seluruh Indonesia. Dalam unggahan Instagram @panditfootball, ia menggambarkan pengalamannya seperti hidup di "dimensi lain" karena sambutan hangat yang tak terduga dari rival abadi Arema tersebut.

"Saya dari tahun kemarin, ini tahun kedua saya melakukan aksi ini. Intinya ini untuk menjalin silaturahmi antarsuporter supaya jangan sampai kejadian itu tidak terulang lagi," katanya dikutip dari Radar Jogja.

Tragedi Kanjuruhan memang meninggalkan banyak luka, terutama bagi keluarga korban yang kehilangan orang-orang tercinta. Namun, perjuangan Pak Midun membuktikan harapan akan keadilan belum sepenuhnya sirna.

Meski proses peradilan sering menuai kritik dan dinilai lambat, ia tetap berkomitmen memperjuangkan hak-hak para korban. Banyak yang menilai proses hukum hanya menyentuh pelaku lapangan, sementara pihak yang lebih berkuasa belum tersentuh hukum.

Pak Midun berharap kasus ini menjadi pelajaran besar untuk semua pihak. Keselamatan dan keamanan suporter di stadion harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan sepak bola di Indonesia.

Rintangan yang dihadapi Pak Midun tidaklah ringan. Ancaman kepada keluarga korban dan saksi membuat perjuangan ini semakin sulit, namun tidak mematahkan semangatnya.

Perjalanan ini bukan hanya tentang keadilan, tetapi juga tentang menyatukan kembali sepak bola Indonesia yang sempat tercoreng oleh tragedi. Solidaritas dari Bonek dan suporter lainnya menunjukkan sepak bola memiliki kekuatan besar untuk mempersatukan.

Bonek, yang biasanya dikenal karena rivalitas mereka dengan Aremania, membuktikan di balik persaingan ada rasa kemanusiaan yang tinggi. Dukungan yang mereka berikan kepada Pak Midun menunjukkan solidaritas lebih kuat dari rivalitas di lapangan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore