
Oktavianus Fernando (kanan) ketika menjalani latihan bersama Persebaya Surabaya. Ofan legowo ketika tampil bersama skuad EPA Persebaya U-20. (LIB)
JawaPos.com – Setiap pesepak bola, mendapatkan kesempatan bermain menjadi keinginan mutlak. Tapi, bagaimana jika tak kunjung terwujud? Maka, untuk sebagian pemain, tampil di level junior pun disikat.
Fakta itu yang dialami sejumlah pemain yang berkarier di Liga 1 Indonesia musim ini. Tak peduli statusnya sebagai senior atau pemain berpengalaman, asalkan mendapat kepercayaan turun, mereka akan melakukannya.
Tanya saja kepada Oktavianus Fernando. Pemain senior Persebaya Surabaya ini tak peduli tampil bersama pemain yang bisa disebutnya ‘adik’ ketika berlaga bersama skuad Elite Pro Academy (EPA) Persebaya U-20 di EPA Liga 1 U-20 musim ini.
Pemain yang biasa disapa Ofan memang belum mendapatkan kesempatan bermain bersama skuad Green Force di Liga 1 2024/2025. Dia masih kalah bersaing dengan pemain utama lain.
Karena itu, demi menjaga kebugarannya, pemain berusia 30 tahun ini dengan senang hati ketika dilabeli ‘Joker’ alias pemain berusia di atas 20 tahun yang boleh membela tim di EPA Liga 1 U-20.
Selain Ofan, pemain seperti Alfan Suaib, Rizky Dwi, Randy May, dan kiper Aditya Arya juga ikut bermain di tim muda Green Force tersebut.
Bagi sebagian pemain, tak mendapatkan kesempatan bermain di skuad utama tentu saja memberikan dilematis. Perasaan makin campur aduk ketika tim pelatih justru menginstruksikan mereka bermain di level junior.
Pengalaman ini tak hanya dialami pemain yang berkarier di Liga 1 Indonesia. Mereka yang berkiprah di kompetisi elite di Eropa juga pernah mengalami masalah serupa.
Contoh kecil ketika Bastian Schweinsteiger pernah dikucilkan Jose Mourinho ketika menangani Manchester United. The Special One sempat mengirim legenda Jerman itu ke skuad junior Setan Merah.
Imbasnya, Schweinsteiger tak lama membela Man United. Pria yang sudah pensiun itu memutuskan hengkang dari Old Trafford, dan merumput di Amerika Serikat bersama Chicago Fire.
Namun, Ofan bukan Schweinsteiger. Dia justru mendapatkan amanah, yakni membimbing para juniornya. "Sebagai pemain senior saya tetap akan memberikan dukungan dan menjaga kondusivitas tim," tuturnya.
Selain itu, menurut kakak kandung Marselino Ferdinan ini, kebijakan menurunkan mereka di skuad EPA Persebaya U-20 lantaran Paul Munster menginginkan mereka merasakan atmosfer kompetisi.
Karena itu, meski pertama kali bermain di kompetisi kelompok umur, Ofan tak canggung apalagi malu melakukannya. “Itu recovery training buat saya, dikarenakan sebelumnya (melawan Dewa United (27/9)) tidak main," ungkapnya.
Meski bertanding melawan pemain yang usianya jauh di bawahnya, Ofan tetap memberikan kemampuan terbaik. Dia tidak ingin setengah-setengah karena pertandingan di EPA Liga 1 U-20 adalah kesempatan baginya untuk tetap menjaga sentuhan bola. "Juga untuk situasi pertandingan," tegasnya.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
