
Situasi pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta berakhir dengan kericuhan oknum suporter dengan memasuki area lapangan di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. (ANTARA)
JawaPos.com – Kericuhan yang ditimbulkan oknum suporter usai pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta menjadi perbincangan publik sejak tadi malam. Semua perhatian kini tertuju pada aksi anarkis yang berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (23/9) malam.
Pertandingan sarat gengsi dan rivalitas tinggi memang berakhir tidak baik. Terdapat kericuhan suporter yang terjadi usai laga tersebut, di mana laga berkesudahan dengan skor 2-0 untuk kemenangan Persib atas Persija.
Tapi, kerusuhan itu terjadi bukan karena pertandingan. Meski jalannya laga penuh tensi tinggi dan total 7 kartu kuning serta 2 kartu merah dikeluarkan, duel Persib vs Persija tetap berakhir dengan aman.
Kericuhan itu terjadi tak lama setelah wasit Muhammad Nazmi dari Malaysia meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Tanda-tanda ricuh dilaporkan sudah muncul dari situasi dan kondisi tribune yang tak kondusif.
Berikut JawaPos.com coba merangkum kronologi dan deretan fakta kericuhan suporter usai laga Persib vs Persija:
Oknum suporter kemudian menerobos masuk ke lapangan. Para pemain Persib maupun Persija pun langsung digiring masuk ke lorong ganti agar tak jadi korban kericuhan. Suasana di stadion pun langsung berubah.
Oknum suporter itu masuk ke lapangan dan langsung mengejar steward yang bertugas di sisi lapangan. Ya, petugas keamanan menjadi sasaran amukan para oknum penonton. Mereka dikejar dan diburu untuk dipukuli dan ditendang.
Situasi itu membuat pihak kepolisian dan TNI turun tangan untuk meredam kericuhan. Aparat pun berhasil memukul mundur oknum suporter dan kondisi perlahan kondusif.
Tak lama setelah kejadian, PSSI melalui anggota komite eksekutif (Exco) Arya Sinulingga menyatakan bahwa tindakan anarkis kekerasan itu sudah masuk ranah hukum.
"Ini memang masuk ranah hukum, ya masuk ranah hukum. Diharapkan kalau ada tindakan kriminal harus diselesaikan secara hukum," kata Arya dalam keterangan resminya, Senin (23/9).
Selain itu, Arya dan PSSI meminta kepada klub yang terlibat untuk bertanggung jawab. Federasi tak ingin klub malah 'lepas tangan'.
"Tapi di sisi lain klub harus bertanggung jawab juga terhadap kondisi ini, tidak boleh lepas tangan. Jadi, kita harapkan klub secepatnya juga menyelesaikan masalah ini, masalah mereka dengan suporter," imbuh Arya Sinulingga.
PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator penyelenggara Liga 1 Indonesia mengecam keras kericuhan yang terjadi usai pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta. LIB menilai tindakan anarkis yang dilakukan oknum suporter dapat merusak citra sepak bola Indonesia.
"Dengan tegas kami sangat menyesalkan munculnya insiden tersebut," ucap Direktur Operasional LIB, Asep Saputra, Senin (23/9) malam WIB.
Menindaklanjuti insiden itu, PT LIB akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mengusut tuntas kasus ini dan memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terlibat. "Kami berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak," sambung Asep.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
