
Pemain Maesa (hijau) ketika menghadapi Farfaza FC (putih) di Kompetisi Kapal Api Persebaya (KKAP) 2018. (Persebaya.id)
JawaPos.com — Maesa, sebuah nama yang kini dikenal dalam kancah sepak bola Surabaya, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan para pelaut asal Manado.
Klub ini tidak hanya menjadi simbol dari perpaduan etnis dan kebersamaan, tetapi juga telah melahirkan salah satu bintang Persebaya Surabaya era 1990-an, yaitu Dodik Suprayogi.
Kehadirannya dalam Kompetisi Kapal Api Persebaya (KKAP) musim 2017 telah mencerminkan semangat persatuan yang selalu dijaga sejak awal berdirinya.
Maesa berdiri berkat inisiatif para pelaut asal Manado yang bermukim di Surabaya. Meskipun awalnya berbasis komunitas pelaut Minahasa, Maesa berkembang menjadi klub sepak bola dengan etos keterbukaan yang kuat.
Slogan yang dipegang teguh oleh klub ini adalah "Si Tou Timou Tumou Tou", sebuah pepatah Minahasa yang berarti "manusia hidup untuk manusia lain". Ini menggambarkan filosofi hidup para pendiri klub yang ingin menciptakan persatuan dalam keberagaman.
Pada awal perkembangannya, kendati awalnya didirikan para pelaut asal Manado yang berdomisili di Surabaya. Namun, seiring berjalannya waktu, klub ini menjadi wadah bagi pemain dari berbagai latar belakang etnis. Para pemain Maesa berasal dari berbagai etnis, seperti Jawa, Madura, Tionghoa, dan Minahasa sendiri.
Filosofi keterbukaan Maesa tercermin dalam setiap aspek klub ini. Sang pemilik klub, Maurits Benhard Pangkey, menjelaskan bahwa "Si Tou Timou" adalah kalimat yang diambil dari salah satu tokoh penting dari Sulawesi Utara, Sam Ratulangi.
Ratulangi adalah seorang pahlawan nasional dan gubernur pertama Provinsi Sulawesi yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Filosofi ini menjadi dasar kuat bagi Maesa untuk terus mengedepankan persatuan melalui olahraga.
"Dengan terbuka, kami juga akan memanusiakan manusia," imbuh pria yang akrab disapa Champ itu dikutip dari koran Jawa Pos edisi 23 Mei 2017.
Partisipasi Maesa di kompetisi sepak bola internal Persebaya, seperti KKAP, menjadi salah satu bukti keberhasilan klub ini dalam mempertahankan eksistensinya.
Meskipun tidak selalu mendominasi kompetisi, Maesa memiliki beberapa prestasi yang patut dibanggakan. Salah satu pencapaian terbaik Maesa adalah menjadi juara di kelas 2 pada masa ketika kompetisi internal Persebaya masih dibagi menjadi kelas utama, kelas 1, dan kelas 2.
Maesa pernah menembus kelas utama dengan status runner-up dari kelas 1. Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Banyak momen, Maesa harus bersaing di kelas 1 dan 2, meskipun hanya beberapa pemain top yang berhasil menembus skuad utama Persebaya. Meskipun begitu, dari rahim Maesa, lahir pemain berbakat yang kemudian mengharumkan nama Persebaya.
Salah satu nama besar yang berhasil dilahirkan oleh Maesa adalah Dodik Suprayogi. Dodik menjadi salah satu produk terbaik klub ini yang berhasil berkostum Persebaya di awal 1990-an.
Meskipun perjalanan Dodik ke Persebaya tidak langsung, karena dia harus bermain di klub lain sebelum akhirnya kembali ke Surabaya, kontribusinya di tim berjuluk Green Force itu tak terlupakan.
Dodik Suprayogi adalah contoh sukses dari pengembangan pemain Maesa yang kemudian berhasil menembus salah satu klub terbesar di Indonesia, Persebaya Surabaya. Bakatnya sebagai pemain sepak bola dilirik oleh Persebaya, dan dia menjadi bagian dari sejarah klub tersebut dalam mencapai kejayaan di era 1990-an.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
