Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Juni 2024 | 23.25 WIB

Fullback Persebaya Surabaya Arief Catur Unggah Solidaritas Pemain Lokal Liga Indonesia, Netizen: Mental Tempe

SOLIDARITAS: Salah satu pemain lokal andalan Persebaya Surabaya, Arief Catur Pamungkas, ikut mengunggah aksi solidaritas pemain lokal di Liga Indonesia. (Instagram Arief Catur Pamungkas) - Image

SOLIDARITAS: Salah satu pemain lokal andalan Persebaya Surabaya, Arief Catur Pamungkas, ikut mengunggah aksi solidaritas pemain lokal di Liga Indonesia. (Instagram Arief Catur Pamungkas)

JawaPos.com — Arief Catur Pamungkas, fullback Persebaya Surabaya, baru-baru ini menarik perhatian netizen dengan unggahannya di Instagram. Dalam unggahan tersebut, dia mengekspresikan solidaritasnya terhadap pemain lokal di Liga Indonesia terkait isu penambahan kuota pemain asing hingga delapan pemain untuk Liga 1 Indonesia 2024/2025.

Melalui akun Instagram resminya, Arief Catur menulis, “Pertanyaan untuk kita semua, apakah ini kompetisi sepak bola Indonesia? #inisepakbolaindonesia?”

Unggahan Arief ini tidak lepas dari kontroversi yang muncul setelah PT Liga Indonesia Baru (LIB) memfinalisasi aturan baru pada akhir Mei 2024. Aturan tersebut memperbolehkan setiap klub mengontrak delapan pemain asing, terdiri dari enam pemain asing bebas dan dua pemain dari Asia. Dari delapan pemain tersebut, yang boleh bermain di lapangan adalah lima pemain asing bebas dan satu pemain Asia, sementara dua pemain lainnya boleh berada di bangku cadangan dan bisa dimainkan menggantikan pemain asing lainnya.

Penambahan jumlah pemain asing ini diyakini sebagai respons terhadap mahalnya nilai kontrak pemain lokal Liga 1, terutama yang telah berlabel Timnas Indonesia. Dengan aturan baru ini, klub-klub diperkirakan akan lebih memilih merekrut pemain asing baru yang gajinya lebih rendah dibandingkan pemain lokal. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemain lokal tentang berkurangnya peluang mereka untuk bermain.

Unggahan solidaritas Arief Catur segera mendapat beragam tanggapan dari netizen. Sebagian besar komentar menunjukkan ketidaksetujuan dan kritik terhadap sikap yang dianggap tidak siap bersaing. Salah satu netizen berkomentar, “Tempe mas mentalmuu raine tok sangar,” yang berarti "Mentalmu seperti tempe, hanya wajahmu yang garang."

Netizen lainnya menambahkan, “Pantas liga 1 Indonesia no 27 di asia.... Mental pemain e koyok ngene @ariefcaturp,” mengkritik mentalitas pemain lokal yang dianggap lemah.

Tidak sedikit juga netizen yang menyarankan Arief dan pemain lokal lainnya untuk meningkatkan kualitas dan bersaing secara profesional daripada mengeluhkan regulasi. “Iki catur mek Formalitas tok rek. Sawangane karo pemain lokal laine wkwk,” ujar netizen lainnya, yang berarti "Ini Catur hanya formalitas saja, tidak enak dengan pemain lokal lainnya."

Sementara netizen lain memberikan motivasi, “Wes ojok wedi persaingan iku pasti, kerja keras & menjadi lebih baik iku pasti. Arek sby prei sambat bro,” yang berarti "Jangan takut dengan persaingan, itu pasti. Kerja keras dan menjadi lebih baik, itu pasti. Anak Surabaya jangan banyak mengeluh, bro."

Reaksi beragam ini menunjukkan bahwa isu penambahan kuota pemain asing memang menjadi topik yang sensitif di kalangan pencinta sepak bola Indonesia. Di satu sisi, beberapa pemain lokal merasa terancam dengan kemungkinan berkurangnya kesempatan bermain. Namun, di sisi lain, ada pandangan bahwa regulasi ini bisa menjadi motivasi bagi pemain lokal untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Arief Catur sendiri, sebagai pemain yang telah cukup lama berkecimpung di dunia sepak bola Indonesia, mungkin merasa perlu menyuarakan kegelisahan ini. Namun, kritik yang datang dari netizen juga bisa menjadi cermin bagi para pemain lokal untuk introspeksi dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Sebagai seorang profesional, tentu ada tanggung jawab untuk terus berusaha menjadi yang terbaik dan menunjukkan performa maksimal di lapangan.

Di sisi lain, pihak manajemen klub juga harus bijaksana dalam mengelola kebijakan perekrutan pemain asing dan lokal. Meskipun pemain asing dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas kompetisi, tetapi pengembangan pemain lokal juga harus tetap menjadi prioritas. Liga Indonesia harus mampu menemukan keseimbangan antara memberikan kesempatan kepada pemain lokal untuk berkembang dan menarik pemain asing berkualitas untuk meningkatkan standar permainan.

Regulasi baru ini sebenarnya bisa menjadi peluang bagi pemain lokal untuk membuktikan kemampuan mereka. Jika mereka mampu bersaing dan menunjukkan performa yang lebih baik, tentunya mereka tetap akan mendapatkan tempat di tim utama. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu netizen, “Kalau bisa jangan ikutan share/gaungkan petisi ini yg menunjukkan tidak mau maju layaknya merasa kalah skill...ayo CATUR kamu bisaaa...aku yakin kau starter dlm team...semangat,” yang berarti "Kalau bisa jangan ikut-ikutan menyebarkan atau menggaungkan petisi ini yang menunjukkan tidak mau maju seperti merasa kalah skill...ayo CATUR kamu bisa...aku yakin kamu starter dalam tim... semangat."

Harapan para pendukung sepak bola Indonesia adalah melihat kompetisi yang semakin kompetitif dengan pemain-pemain yang berkualitas, baik lokal maupun asing. Pengalaman bermain bersama pemain asing yang memiliki level permainan tinggi juga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi pemain lokal.

Pada akhirnya, sikap profesional dan semangat untuk terus berlatih dan memperbaiki diri menjadi kunci utama bagi pemain lokal untuk menghadapi perubahan ini. Dengan demikian, regulasi baru mengenai kuota pemain asing seharusnya tidak menjadi penghalang, melainkan tantangan yang memotivasi untuk menjadi lebih baik.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore