Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Maret 2024 | 23.59 WIB

Mengenang Kisah Kelam Nurkiman, Pemain Persebaya Surabaya yang Kehilangan Penglihatan Gara-gara Ulah Suporter

HARUS KEHILANGAN PENGLIHATAN: Nurkiman (kiri) jadi saksi kebrutalan aksi suporter bisa membahayakan hidup seorang manusia, baik pemain maupun suporter itu sendiri. (X/bonekboys) - Image

HARUS KEHILANGAN PENGLIHATAN: Nurkiman (kiri) jadi saksi kebrutalan aksi suporter bisa membahayakan hidup seorang manusia, baik pemain maupun suporter itu sendiri. (X/bonekboys)

JawaPos.com —Kisah sedih seorang pesepak bola yang harus menghadapi kehilangan penglihatan akibat ulah berbahaya sekelompok suporter masih menyisakan luka mendalam.

Salah satu kisah tragis ini menimpa Nurkiman, mantan pemain Persebaya Surabaya, yang harus merasakan pahitnya kehilangan kemampuan penglihatan setelah menjadi korban serangan brutal suporter.

Insiden tragis itu terjadi pada suatu pertandingan Liga Dunhill II antara Persebaya Surabaya dan Persema Malang di Stadion Gajayana Malang pada 26 Desember 1995. Pertandingan berlangsung dengan sportivitas tinggi dan berakhir imbang antara kedua tim. Namun, apa yang terjadi setelah pertandingan berakhir menjadi titik balik dalam hidup Nurkiman.

Setelah pertandingan usai, ketika bus Persebaya Surabaya hendak meninggalkan stadion, mereka diserang oleh sekelompok suporter Persema yang bertindak brutal. Mereka melempari bus tim dengan batu, tanpa memikirkan keselamatan para pemain di dalamnya. Akibatnya, Nurkiman yang duduk dekat jendela bus menjadi korban serangan tersebut.

“Jalannya bis itu melambat di pinggir jalan itu ada suporter Malang. Terus pas tikungan, bodi bis itu dilempar batu. Saya nengok kiri, langsung kaca pecah. Dapet informasi ternyata diketapel,” ujar Nurkiman melalui Youtube Omah Balbalan, pada Jumat, 30 Juli 2021.

Pecahan kaca akibat lemparan batu dari ketapel yang digunakan suporter Persema mengenai Nurkiman, merobek mata kanannya. Nurkiman merasakan sakit yang luar biasa dan langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Namun, dampak dari serangan tersebut tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis bagi Nurkiman.

Nurkiman, yang saat itu masih berusia 22 tahun, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dia kehilangan kemampuan penglihatannya. Seorang pemain bola muda yang penuh potensi harus mengakhiri mimpinya menjadi pemain sepak bola karena keterbatasan yang dideritanya akibat ulah keji sekelompok suporter.

“Yang terpikirkan kacau, saya udah nggak bisa main bola. Waktu itu usia saya 22 tahun. Dari mobil ambulans sudah kacau saya berpikir ngga bisa bermain bola.” kata Nurkiman.

"Sampai sekarang di dalam mata kiri saya masih ada serpihan kacanya. Kata dokter kalau diambil bola mata bisa gembos. Saya masih sempat bermain tapi setengah kompetisi, karena memang pandangan terbatas," ungkap Nurkiman.

Meskipun sempat mencoba untuk kembali bermain bola setelah insiden tersebut, Nurkiman akhirnya harus berhenti karena keterbatasan penglihatannya. Dia memutuskan untuk fokus pada pemulihan kondisinya dan mencari jalan baru dalam hidupnya setelah kehilangan kemampuan untuk bermain sepak bola.

"Sempat ketemu dengan pelaku, dipanggil di kejaksaan, karena setelah insiden itu malamnya sudah tertangkap polisi. Waktu pertama ya dendam, keluarga mau cari orang itu. Tapi, percuma mata saya juga tidak kembali. Pas ketemu saya maafkan, anaknya masih kecil usia SMP kalau nggak salah," terang Nurkiman.

"Pesan saya, boleh fanatik tapi jangan anarkis. Kalah menang dihargai, pemain sudah berjuang. Kemudian suporter hanya mendukung, selesai pertandingan ya sudah. Suporter sekarang lebih dewasa," pungkas Nurkiman.

Kisah Nurkiman menjadi pelajaran yang menyedihkan tentang bahaya ulah brutal sekelompok suporter yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa tragis tersebut tidak hanya mengakhiri karier sepak bola seorang pemain, tetapi juga meninggalkan luka yang mendalam bagi dirinya dan keluarganya.

Semoga kisah ini dapat menjadi peringatan bagi semua pihak akan pentingnya menjaga sportivitas dan menghindari tindakan kekerasan di dalam dunia sepakbola.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore