
TEMU KANGEN: Dahlan Iskan bernostalgia dengan para pemain leganda Persebaya.
JawaPos.com- Sosok Dahlan Iskan tak bisa dilepaskan dari Persebaya Surabaya. Ada banyak kenangan tak terlupakan ketika Dahlan menjadi manajer dan ketua umum Persebaya. Termasuk bagi para legenda Green Force. Minggu (11/6) mereka pun melepas rindu. Kangen-kangenan bersama sembari berbuka puasa.
Banyak mantan pemain Persebaya yang menyempatkan hadir dalam momen istimewa tersebut. Mereka tidak hanya datang dari Surabaya. Ada yang sehari-hari menetap di Gresik, Malang, dan Mojokerto.
Para mantan pemain yang datang juga lintas generasi. Bukan hanya mereka yang pernah dipimpin langsung oleh Dahlan di era 1987–1991.
Legenda Persebaya paling senior yang hadir adalah J.A. Hattu. Dia sudah berusia 80 tahun. J.A. Hattu tak lain adalah ayahanda bintang Persebaya Ferril Raymond Hattu. Ayah dan anak itu sama-sama hadir di rumah Dahlan. Selain J.A. Hattu, hadir pula sejumlah nama yang cukup senior seperti Anjik Ali Nurdin, Budi Santoso, dan Sapoen Husein. Selain itu, juga ada Subodro.
Yang lebih muda tak ketinggalan. Mereka datang dari angkatan 1980-an dan 1990-an. Misalnya, Muharom, Maura Hally, Yusuf Ekodono, Ibnu Graham, Seger Sutrisno, dan Margono Asnan.
Beberapa pemain punya kenangan khusus dengan Dahlan dan keluarganya. Salah satunya Seger Sutrisno. Seger sampai memberikan dua foto khusus saat Persebaya berlaga di Piala Marah Halim pada 1990. Perhelatan Marah Halim memang menyimpan kenangan tersendiri bagi Seger.
”Saat itu Pak Dahlan dan Bu Dahlan ikut hadir di Medan dan Malaysia. Di Medan, Bu Dahlan, Pak Bodro (Subodro), dan saya sempat kena lemparan air kencing dari suporter,” kenang Seger.
Bagi Seger, sosok Dahlan bukan ketua umum biasa. Hubungannya dengan pemain sudah seperti bapak dan anak. ”Kalau saat itu Persebaya tidak dipegang Pak Dahlan, ya mungkin sudah buyar,” lanjut Seger.
Dahlan Iskan memang pernah didapuk mengurusi Green Forcepada 1987–1991. Sebelum itu, kondisi Persebaya memang makin suram. Pada musim kompetisi 1985, tim Bajul Ijo bahkan duduk di peringkat kesembilan dari sepuluh kontestan.
Melihat kondisi itu, Dahlan Iskan dan Wali Kota Surabaya saat itu dr Poernomo Kasidi pun turun tangan. Mereka berembuk dengan stakeholder untuk memikirkan bagaimana sepak bola Surabaya agar bisa kembali bangkit.
Jawa Pos lantas mengambil peran dalam bentuk pemberitaan di media. Ketika itu Jawa Pos yang masih dipegang langsung oleh Dahlan juga turut mengoordinasi gerakan yang diberi nama Tret-tet-tet. Gerakan itu memobilisasi ribuan suporter untuk menonton laga tandang Persebaya. Gerakan-gerakan yang dibuat Dahlan dan Jawa Pos terbukti bisa membuat Persebaya makin besar dan digilai banyak orang. (rul/bjg/fim)

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
