
Newcastle United saat meraih Carabao Cup. (Istimewa)
JawaPos.com - Padatnya kalender kompetisi kembali menjadi sorotan dalam sepak bola modern. Liga Inggris terutama menjadi sorotan utama dengan banyak agenda pertandingan.
Banyak klub harus membagi fokus antara liga domestik, piala lokal, dan juga kompetisi Eropa. Di tengah tuntutan tersebut, muncul pertanyaan penting: Apakah memprioritaskan kompetisi tertentu menjadi jalan realistis untuk raih prestasi?
Pandangan ini muncul setelah pernyataan bek Newcastle United, Dan Burn. Ia mengatakan timnya belum berada pada level untuk bersaing juara Premier League.
Menurut Burn, kompetisi Piala Liga justru jadi target paling masuk akal bagi klub-klub elite. Pendekatan ini dianggap realistis di tengah persaingan yang ketat.
Pendekatan itu bukan tanpa alasan. Realitas kekuatan finansial dan kedalaman skuad membuat persaingan liga semakin timpang.
Klub seperti Manchester City, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea mampu jalani musim di berbagai ajang dengan kualitas stabil. Sementara tim dengan sumber daya terbatas harus pikir lebih realistis agar tidak kehabisan energi sebelum musim selesai.
Strategi fokus pada kompetisi Piala Liga terbukti hasilkan trofi dalam beberapa musim terakhir. Newcastle United sukses menjuarai Carabao Cup musim lalu dan mengakhiri penantian panjang trofi sejak 1969.
Crystal Palace juga jadi sorotan setelah menaklukkan Manchester City di final FA Cup. Mereka meraih gelar besar pertama kali dalam sejarah klub.
Menariknya, keberhasilan di piala tidak selalu sejalan dengan performa di liga. Newcastle dan Crystal Palace tetap finis di papan tengah sesuai ekspektasi awal musim.
Bagi pendukung, trofi sering kali punya nilai emosional jauh lebih besar dibanding selisih posisi di klasemen. Hal ini membuat fokus pada piala jadi pilihan banyak tim.
Fenomena serupa terlihat di kompetisi Eropa. Tottenham Hotspur dan Manchester United sempat korbankan performa mereka di liga demi fokus Liga Europa.
Meski finis di posisi bawah klasemen Premier League, keberhasilan melaju jauh di Eropa memberi mereka tiket Liga Champions bagi Tottenham. Ini juga menyelamatkan Manchester United dari penampilan buruk Liga Inggris.
Secara statistik, fokus di banyak kompetisi memberi konsekuensi besar. Analisis menunjukkan semakin banyak pertandingan Eropa, semakin besar penurunan poin di liga domestik.
Akumulasi kelelahan, rotasi pemain, dan perjalanan jauh jadi faktor sulit dihindari. Kondisi tersebut memaksa klub atur strategi rotasi dengan cermat.
Karena itu, manajemen skuad jadi kunci utama. Tidak hanya soal kedalaman pemain, tapi juga fleksibilitas dalam setiap posisi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
