Pelatih Manchester United Ruben Amorim. (X/@PremierLeague)
JawaPos.com – Tekanan memuncak jelang final Liga Europa, tetapi Manchester United justru memilih tetap memercayai Ruben Amorim. Dewan direksi menegaskan pelatih asal Portugal itu takkan dipecat meski Setan Merah kalah dari Tottenham Hotspur di Bilbao, 21 Mei mendatang. Keputusan ini terasa mengejutkan, mengingat United baru saja menelan kekalahan liga ke-17 musim ini ketika dibungkam West Ham United 0-2 di Old Trafford, hasil yang kian menenggelamkan mereka di papan bawah klasemen.
Kepercayaan ini bak taruhan besar. Di satu sisi, Amorim belum pernah kalah dalam 14 laga Liga Europa—sembilan menang, lima imbang—membuat United tinggal selangkah lagi meraih tiket otomatis Liga Champions. Di sisi lain, performa liga mereka anjlok drastis; finis di posisi ke-16 atau bahkan ke-17 bukan skenario yang mustahil. Fans pun terbelah antara optimisme Eropa dan pesimisme domestik.
The Guardian melaporkan bahwa Sir Jim Ratcliffe bersama jajaran petinggi Ineos sudah memutuskan: apa pun hasil di San Mamés, Amorim tetap melanjutkan proyek jangka panjang yang baru dimulai November 2024. Keyakinan itu didasari performa solid di kompetisi kontinental, key performance indicator yang dijadikan tolok ukur utama musim ini.
Ironisnya, statistik Premier League benar-benar mencoreng wajah klub. Tujuh belas kekalahan menyamai rekor terburuk MU sejak liga berganti format 1992. Kelemahan bertahan, pergeseran formasi, dan inkonsistensi individu membuat mereka hanya mengumpulkan 39 poin sampai pekan ke-36. Semua catatan minor itu seolah lenyap tiap kali laga berganti anthem Liga Europa, di mana Bruno Fernandes dkk tampil disiplin, efisien, dan taktis.
Amorim juga dinilai pantas mendapat pemakluman. Ia datang menggantikan Erik ten Hag dengan skuad tercabik-cabik: Antony dan Marcus Rashford dipinjamkan, moral tim drop, dan anggaran transfer Januari hanya cukup merekrut satu nama—wing-back Denmark, Patrick Dorgu. Transformasi total dalam enam bulan jelas mustahil.
Meski begitu, kritik terhadap pendekatan taktisnya tak sedikit. Formasi 3-4-3 yang rigid membuat kreativitas pemain tertentu tereduksi. Kobbie Mainoo misalnya, kerap kebingungan mencari ruang di lini tengah yang padat. Publik Old Trafford mulai bertanya: sampai kapan pragmatisme ini diterapkan jika hasil liga tak kunjung membaik?
Ratcliffe berkali-kali menekankan pentingnya keputusan rasional: belanja sesuai kebutuhan, bukan nama besar; mempertahankan pelatih, bukan memecat “demi menenangkan Twitter”. Ia tentu tak ingin mengulangi blunder musim lalu, kala Ten Hag diselamatkan trofi Piala FA tapi justru dihadiahi dana besar, lalu dipecat pada Oktober 2024 setelah start buruk.
Kala itu, MU menggelontorkan lebih dari £150 juta—termasuk gaji staf anyar—hanya untuk memutus kontrak di awal musim. Pengeluaran “hangus” itu membuat neraca keuangan klub tertekan. Jika Amorim diberi cek kosong musim panas ini lalu gagal di paruh pertama 2025-26, sejarah bisa terulang.
Menurut laporan SportBible, biaya pesangon Amorim jika dipecat sebelum kontraknya habis 2027 mencapai £13,5 juta. Tambahkan staf teknis dan kompensasi lain, total dana “buang” MU untuk memecat manajer sejak 2013 bisa mendekati GBP 90 juta—sebuah angka yang menyaingi biaya rekrutmen pemain bintang.
Fokus pertama Amorim adalah menyatukan skuad. Struktur gaji harus dirapikan agar ruang ganti tak terbelah, perekrutan musim panas harus presisi pada pos bek tengah dan penyerang target man. Selain itu, Ratcliffe menuntut penerapan sports-science mutakhir guna menekan angka cedera yang selama ini merusak ritme tim.
Dengan final Liga Europa tinggal sepekan, keputusan “tetap percaya” menjadi pesan jelas: Bilbao adalah fondasi, bukan pertaruhan terakhir. Jika trofi datang, kepercayaan diri tim melonjak. Jika kalah, Amorim tetap memegang kendali, tapi ekspektasi publik kian membumbung—dan tak ada pelarian lagi di kompetisi domestik musim depan.
Apa pun hasilnya nanti, United memasuki musim panas dengan persimpangan besar. Menjaga kontinuitas di kursi manajer ibarat menanam bibit: butuh kesabaran, tanah subur, dan pemangkasan tepat waktu. Ratcliffe telah memilih memupuk, bukan menebang.
Namun, Old Trafford bukan kebun percobaan; trofi dan posisi liga tetap jadi ukuran akhir. Amorim kini punya mandat sekaligus beban: mengembalikan kejayaan Setan Merah tanpa mengulang drama kursi panas yang telah menelan banyak nama besar sebelum dirinya. Jika ia berhasil, kisah kontras antara petaka liga dan euforia Eropa musim ini akan dikenang sebagai titik balik, bukan sekadar anomali statistik.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
