
Danang Pamungkas dalam Fly on Earth yang menjadi karya terbarunya. (Qnul RJT for Jawa Pos)
JawaPos.om – Perjalanan menekuni dunia tari Danang Pamungkas tidak bisa dibilang singkat. Koreografer dan penari asal Solo ini cukup banyak merasakan ragam panggung dan proses berkesenian baik di dalam maupun luar negeri. Pengembaraan Danang pada akhirnya memberikan banyak pengalaman ketubuhan yang penting baginya. Dari tari klasik Jawa hingga balet khas Eropa ada dalam perpustakaan gerak di tubuh Danang.
Pengembaraan yang cukup panjang itu pada akhirnya bermuara pada perenungan tentang konsep pentingnya kembali ke awal. Pada karya teranyarnya, Danang mengelaborasi ide kembali ke awal tersebut ke dalam susunan koreografi berjudul Fly on Earth. Pada karya ini Danang menghadirkan rupa gerak berpijak dari akar ketubuhannya sebagai penari yang besar dalam tradisi Jawa.
Namun demikian, Fly on Earth sama sekali bukan karya tari yang menampilkan koreografi khas tarian Jawa. ’’Fly on Earth berangkat dari pengalaman dan perjalanan tubuh yang menyatu dengan berpijak dari mana ketubuhan kita mulanya bertolak,’’ kata Danang. Dengan pendekatan semacam itu, Fly on Earth otomatis mustahil bisa disebut sebagai tari Jawa walau ada nuansa itu di sana. Di saat sama, karya ini tak mungkin pula ditandai sebagai sebuah reportoar balet walaupun ada tanda-tanda kehadirannya.
’’Karya ini saya susun terinspirasi oleh perkataan Lim Hway Min saat saya masih bekerja di Cloud Gate Dance Company Taiwan,’’ katanya. Menurut Danang, pada sebuah makan siang seniman tari terkemuka di Taiwan itu menyebut pentingnya untuk kembali ke dasar masing-masing penari. Dari dasar itulah seorang penari akan mengetahui di mana dirinya berada dan hendak ke mana.
’’Karya ini adalah saat di mana tubuh saya kembali ke tubuh tradisi namun dengan tradisi yang berbeda . Tradisi yang tercipta setelah sekian jengkal perjalanan,’’ kata Danang. Lewat karya ini Danang seolah ingin menyampaikan bagaimana dirinya mesti terbang namun di saat sama memilih untuk tetap membumi. Fly on Earth Danang ciptakan untuk memenuhi panggilan terbuka bagi para seniman tari yang diadakan Kemendikbud. Karya ini akan disajikan secara daring dan dapat dinikmati siapa saja tanpa harus membeli tiket pertunjukan. (tir)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
