
Luluk Ari Prasetyo dalam Depressed yang dia mainkan di sebuah gudang belum jadi di Ponorogo, Jawa Timur. (Agus Supertramp for Jawa Pos)
JawaPos.com – Pandemi senyatanya berujung pada situasi-situasi yang dekat dengan depresi. Ada kelesuan yang menggamit kegelisahan di tengah keadaan tak menentu seiring terjangan wabah. Bagi koreografer dan penari seperti Luluk Ari Prasetyo, kenyataan semacam itu tak lantas berujung pada keputusasaan. Sebaliknya, realitas pandemi menjadi sumber baginya untuk mencipta karya.
Bertajuk Depressed, karya terbaru Luluk tersebut dia bagikan melalui akun Instagram miliknya. ’’Karya ini adalah syarat untuk memenuhi panggilan terbuka bagi seniman tari terdampak pandemi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,’’ katanya. Berdurasi lima menit, Depressed menunjukkan perbendaharaan gerak tubuh yang gelisah terkurung kenyataan pandemi.
Luluk menyebut Depressed secara organik muncul dari kenyataan-kenyataan yang dia rasakan selama Covid-19 mewabah dan berdampak bagi dirinya. ’’Banyak kesempatan dan peluang yang hilang akibat wabah Korona,’’ katanya. Luluk mestinya berangkat ke Taipei pada Agustus mendatang. Namun, keadaan yang tak menentu belakangan ini menyulitkannya untuk tetap bisa hadir di sana.
Depressed dibuka dengan adegan dalam sebuah gudang yang belum rampung. Pada lantai tanah gudang sempit itu terserak batang-batang padi kering. Tepat di samping jendela tanpa daun, sebuah balai-balai bambu beserta kursi reyot di sudut gudang itu menjadi bagian dari arena pertunjukan Depressed. Pelan-pelan Luluk yang bertelanjang dada dan celana panjang sebelah meliukkan tubuhnya. Kadang cepat, menghentak, diam, lalu lesu bersandar pada dinding sebelum bergerak lagi.
Dengan durasi singkat, Depressed menunjukkan rangkaian gerak tubuh sarat kegelisahan dalam situasi yang jauh dari baik-baik saja. Karya ini tampak menimbang tata cahaya dan suara dengan baik. Bias sinar dari jendela tanpa daun yang menimpa asap tipis dari beberapa batang padi terbakar beriring musik karya Hiroaki Yokoyama menajamkan visualisasi gagasan Depressed. Karya ini juga memperhitungkan peran penting sinematografi untuk presentasi daring. Dalam soal ini, Luluk didukung oleh Agus Supertramp yang bertugas merancang pengambilan gambar hingga penyuntingannya.
’’Saya menemukan tantangan yang menarik saat mengalihwahanakan panggung pertunjukan ke arena daring saat menggarap Depressed,’’ katanya. Penggunaan ruang yang tak harus kaku seturut konvensi ruang pertunjukan, kemungkinan melebarkan irisan antara koreografi dan sinematografi, hingga potensi menemukan keintiman virtual menggantikan keakrabah khas ruang pementasan adalah beberapa tantangan baru bagi Luluk setelah melahirkan Depressed. Menurutnya, bukan tak mungkin karya ini bisa berkembang lebih jauh lagi. (tir)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
