Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Desember 2019 | 04.26 WIB

Memorabilia

CANDRA MALIK - Image

CANDRA MALIK

APA yang selesai setiap kali tahun berakhir? Apakah kenangan termasuk di dalamnya? Atau, jangan-jangan memorabilia pun kita ajak menapaki tahun baru? Akankah kita susun hal-hal yang tak selesai pada tahun ini, bahkan tahun-tahun yang sudah berlalu, dalam bentuknya yang anyar untuk dinamai resolusi? Jika demikian, lantas kapankah kita akan jadi pribadi yang terlepas dari masa lalu? Atau, sebaiknya kita tidak bertanya?

Ada yang menangis ketika tahun berganti. Sebab, ada yang hilang dan takkan kembali. Ada yang datar belaka karena hidup tidak berubah baginya: tidak ada sesuatu selain hanya yang itu-itu. Pun selalu ada yang girang, menatap masa depan yang cerlang, sejak asa membentang. Namun, waktu tetap berjalan tanpa memperhitungkan kita siap atau tidak menghadapinya. Tahun baru toh tidak pernah membutuhkan penyambutan.

Kaleidoskop dibingkai dengan ingatan: kita hitung apa-apa saja kegagalan dalam hidup. Apakah jumlahnya lebih banyak ketimbang keberhasilan? Tentu, tak seluruhnya mampu kita ingat. Dan, bukankah selayaknya justru kita bersyukur dikaruniai keterbatasan untuk merekam seluruh kejadian? Akal manusia tak menyimpan semua. Hati memilih hanya hal-hal yang patut bertahan lama dalam rindu. Itu pun lebih dulu harus disaring oleh lara.

Sebagaimana daunan yang bertumbuh ke arah sinaran cahaya, sepayah apa pun mesti berusaha, manusia juga tidak ingin berada tetap dalam gelap. Tapi bahkan seseorang yang paling ramai pun merasa sepi, merasa tidak benar-benar dimengerti, sehingga ia sibuk mencari perhatian karena mendamba kehangatan. Namun, mari renungkan pelan-pelan: apakah hidup selalu seperti yang kita inginkan? Apakah semua bisa direncanakan?

Pada tahun baru keberapa sebaiknya kita belajar mulai percaya bahwa hari ini adalah hari terbaik untuk mulai mawas diri? Waktu telah berlalu seumur hidup kita, hingga usia yang sekarang, namun ternyata sekali lagi kita terenyak tatkala menyadari dua belas bulan telah habis dan kita merasa belum berbuat banyak. Siapa di antara kita yang memuda? Bukankah setiap kita menua? Ini klise belaka jika kita enggan becermin diri.

Lihatlah sekeliling: berapa kabar kelahiran tersiar sampai ke telinga kita, anak-anak bersorak-sorai merayakan libur sekolah di wahana-wahana rekreasi, gadis-gadis kecil meremaja, sedangkan yang laki-laki mulai berani menjajal nyali agar disebut dewasa. Pernikahan dan perceraian tidak lagi bisa disebut peristiwa sejak keduanya tak henti-hentinya mengada. Orang-orang bahagia, orang-orang menderita, silih berganti saja.

Berita kematian menjadi keseharian. Hari ini, orang lain. Hari esok, siapa tahu giliran kita. Namun, sesungguhnya yang terpenting dari kematian bukan bagaimana hidup berakhir. Melainkan lebih tentang bagaimana hidup berarti. Bermakna bagi yang kita tinggalkan, terutama bagi yang kita sayangi. Bermanfaat bagi mereka yang pernah kita jumpai, kenal, dan kawani. Dan sebelum ajal tiba, kita patut mengerti: selalu ada yang bisa kita syukuri.

Segala yang pergi toh akan kembali, entah bernama kenangan atau berupa kerinduan. Andai kita bersedia menerimanya sebagai pemberian terbaik dari Tuhan, niscaya kita tidak akan memelihara gerutu dan gelisah. Meski tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan dan angankan, kenyataan tetap kenyataan, mustahil dimungkiri kecuali kita maksudkan untuk menyakiti, ya, terutama menyakiti hati kita sendiri, juga orang lain.

Tahun baru bisa kita mulai dengan berhenti. Berhenti berkeluh kesah. Berhenti mencibir. Berhenti mengejek dan mengolok. Berhenti membenci. Berhenti memusuhi. Lalu, mulai berterima kasih dan berbagi. Mulai belajar mengerti dan menghargai. Mulai mengasihi dan menyayangi. Mulai menghidupkan lagi nyala persahabatan yang jilat apinya pernah terhuyung karena persaingan. Dan, yang tak kalah penting dari semua itu: mulai berserah.

Tak ada rumus paling pasti untuk menjadi manusia dewasa. Sering kali kita perlu untuk dibenturkan keadaan meskipun tidak setiap memar perjalanan bisa menyadarkan. Entah berapa kali kita harus terluka oleh gesekan perasaan antarmanusia hingga kita tak lagi berharap pada manusia. Ada kekuatan yang teramat besar yang menyerupai keajaiban, yang karenanya acap kali kita terselamatkan melintasi hari demi hari. Ia bernama iman. (*)




Candra Malik, budayawan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore