
CANDRA MALIK
ENTAH sudah seberapa sering kita dengar ungkapan rasa, ’’Kami rindu Gus Dur.’’ Tidak terasa, sudah satu dasawarsa bapak bangsa ini wafat.
KH Abdurrahman Wahid niscaya tidak akan pernah tergantikan. Tapi, betapa sering pula kita mengharapkan sosok Gus Dur berikutnya akan muncul. Sampai suatu ketika, saya mengatakan, ’’Sudahlah. Tidak perlu lagi berharap dan bertanya kapan Gus Dur baru akan muncul. Masing-masing dari kita harus melanjutkan perjuangan beliau.’’
Siapakah yang harus dan bisa meneruskan Gus Dur? Apakah harus seorang gus pula? Selama ini, dalam pemahaman umum, gus ialah panggilan penghormatan untuk putra kiai yang disematkan sebelum namanya.
Ia memperoleh gelar sosial itu sejak dilahirkan. Jika kepercayaan masyarakat meningkat didasarkan atas akhlak, ilmu, dan amalnya, seorang gus bisa kemudian ditahbiskan jadi kiai. Bisa jadi, gus itu menerimanya. Bisa pula, ia lebih suka tetap dipanggil, ’’gus!’’
Namun, tak setiap gus semasyhur Gus Dur. Pun tidak setiap gus mengenal sesama gus, sebagaimana tidak setiap kiai kenal dengan sesama kiai, meski dalam urusan ini kurang tepat menggunakan ungkapan, ’’Hanya wali yang mengenal sesama wali.’’
Sama halnya dengan kehidupan pada umumnya, kita bisa saling kenal, bahkan akrab, terutama karena bergaul di lingkungan pergaulan yang sama. Tapi, tidak sepergaulan bukan berarti tidak bisa mulai berkenalan dan bersahabat.
Sudah sama kita tahu, Gus Dur adalah putra KH Wahid Hasyim, menteri agama pertama Republik Indonesia, dan cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kalau berharap Gus Dur berikutnya dilahirkan dari nasab seningrat itu, akankah utopia elitis seperti itu yang kita kehendaki?
Sikap hidup Gus Dur yang membumi, dekat dengan rakyat kecil, dan memperjuangkan kemanusiaan tak meninggalkan jejak tinggi hati. Gus Dur itu kiai umat, presiden rakyat.
Semasa hayat, Gus Dur lebih suka dipanggil ’’gus’’ daripada ’’kiai’’. Salah satu alasannya, kiai harus benar-benar berikhtiar untuk bisa tetap berkata dan berbuat benar, sedangkan gus masih boleh salah. Sepintas, ini seperti pembenaran bagi Gus Dur untuk bisa leluasa membikin manuver dan mudah dimaafkan jika salah. Padahal, ini pun cara menunjukkan betapa sebaik-baik dirinya tidak lantas tak tersentuh oleh kedaifan, tetap bisa salah, dan bukan pemegang otoritas kebenaran.
Gus Dur adalah penanda zaman. Ia lahir di zaman saat sosoknya memang dibutuhkan oleh zamannya. Kini, pada zaman yang tidak lagi sama, figur guru dan bapak bangsa tak bisa dibayangkan berhenti pada siluet Gus Dur.
Lebih dari itu, janganlah melihat sosok Gus Dur sebatas pada puncak pencapaian tertingginya sebagai manusia. Sebagaimana kita, ia peristiwa seumur hidup, sejak lahir hingga wafat. Pun, Gus Dur disempurnakan Tuhan dengan ketidaksempurnaannya.
Indonesia, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, kebaikan dan keburukannya, serta kelebihan dan kekurangannya, telah dibaca dengan relatif jernih oleh Gus Dur, juga oleh para begawan negeri ini. Tidak setiap anak bangsa dan warga negara bisa memahami apa-apa yang Gus Dur pahami. Sering kali, kita justru salah mengerti dan menyalah-nyalahkan Gus Dur atas hal-hal yang tidak kita mengerti itu. Beberapa hal barulah kita mengerti akhir-akhir ini.
Cita-cita Gus Dur, jika pun itu memang cita-citanya, untuk terus berjuang demi Indonesia sungguh tak lekang oleh waktu. Pada setiap Desember selama sepuluh tahun ini, rakyat dari berbagai lapisan dan kalangan, bukan hanya nahdliyin, mengadakan Haul Gus Dur di mana-mana. Tidak cuma di Ciganjur dan Tebu Ireng. Pemikiran-pemikiran Gus Dur kembali dibicarakan, koleksi humor suami Nyai Sinta Nuriyah ini lagi-lagi dihidupkan, dan jasa-jasa besarnya terus diriwayatkan.
Empat putri Gus Dur; Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid; tak lelah membawa nama bapaknya, beserta pelajaran-pelajaran hidupnya, untuk kita teladani bersama. Kelas Pemikiran Gus Dur diselenggarakan di daerah-daerah. Buku-buku tentangnya terus-menerus dituliskan, dibacakan, dan didiskusikan. Satu dekade telah berlalu dan semoga kita tak sebatas merawat romantisme belaka. Kita, masing-masing dari kita, harus betul-betul terlibat.
Sangat manusiawi jika pandangan kita tidak sejernih Gus Dur dalam melihat Indonesia. Sangat wajar jika pemikiran kita tidak pula sehebat Gus Dur dalam memikirkan negeri ini. Tidak perlu merasa kecil hati jika tangan kita tidak seringan tangan Gus Dur dalam mengemban amanah memperjuangkan dan memerdekakan manusia dan kemanusiaan. Yang lebih penting dari semua itu adalah kita harus bersedia betul-betul terlibat menjaga Indonesia dan merawat keindonesiaan kita.
Jangan lagi bertanya siapa pengganti Gus Dur karena ia hanya dilahirkan sekali dan tak tergantikan. Tapi, mari kita saling bertanya: siapa yang wajib menjaga Indonesia? Lalu, mari saling menjawab: kita!
Semasa hidup, Gus Dur telah merintis penyelesaian atas banyak persoalan di negeri ini. Namun, tak seluruhnya telah benar-benar selesai. Dan, persoalan-persoalan baru pun bermunculan. Oleh karena itulah, tak bisa ditunda lagi: kita harus terlibat menyelesaikan masalah. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
