Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Februari 2020 | 00.17 WIB

Silaturahmi Budaya

CANDRA MALIK - Image

CANDRA MALIK

SILATURAHMI, ada pula yang menyebutnya silaturahim, sesungguhnya keniscayaan. Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Kalau proses mengenakan baju harus dimulai dari menanam pohon kapuk, betapa panjangnya perjalanan dari hulu ke hilir.

Meski memang demikian adanya, kita sepatutnya senantiasa berterima kasih kepada siapa pun yang diam-diam atau terang-terangan terlibat di dalam rangkaian kegiatan dari awal sampai pakaian menutup tubuh kita dengan baik dan pantas.

Saya ingat petuah Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan tentang mengapa kita sebaiknya mendoakan keberkahan kepada sebanyak-banyak pihak sebelum mulai makan. Sebab, dari sepiring nasi yang kita nikmati terdapat jasa para petani yang memulai proses sejak menanam pagi.

Dalam setiap sesapan kopi yang kita teguk terkandung usaha dan doa orang-orang yang sedari muda hingga tua merawat perkebunannya, mengolah biji-biji kopi, hingga indah menyuguhkannya.

Saya sedang sowan di kediaman Kiai Haji Ahmad Riyadh Mushoffa Al Hafidz, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sragen, Jawa Tengah, saat menulis kolom ini. Beliau menerima saya dengan hangat di Pondok Pesantren Manba’uth Thoyyibah di Desa Jambangan, Mondokan, Sragen, yang diasuhnya. Kepada teman-teman yang ikut, saya mengatakan, ’’Sungguh nikmat sowan kiai di pesantren. Membawa kesalahan dan keburukan pun, niscaya kita diterima baik.’’

Para kiai niscaya tidak suka menyalahkan atau menjelekkan. Yang salah dibenarkan dengan baik, yang jelek juga dibaikkan dengan benar. ’’Perbedaan tidak bisa ditolak, tidak pula bisa dilawan. Harus diterima, disyukuri, dan dirawat baik-baik,’’ ungkap Kiai Mushoffa. Dan, para pendiri bangsa dan negara ini telah menyepakati bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia telah final dengan semboyan pemersatu Bhinneka Tunggal Ika dan ideologi bangsa Pancasila.

Saya mengajak Ifan Seventeen, vokalis band yang diterjang tsunami di Pantai Anyer pada akhir 2018. Ifan menjadi satu-satunya yang selamat ketika para personel lain wafat dalam peristiwa tersebut. Dia girang bukan main sampai-sampai mengaku bahwa dia ternyata juga seorang santri. ’’Sudah dua tahun ini saya mengaji kepada Kiai Munif di Pesantren Girikusumo, Mranggen, Demak. Dari beliau, saya menerima ijazah salawat. Salawat itulah yang saya baca,’’ jelasnya.

Ya, Ifan berulang-ulang melafalkan salawat ketika tubuhnya diempas air bah dari laut dan dilempar hingga ke tengah. Timbul dan tenggelam, diayun-ayun antara hidup dan mati, Ifan bersyukur masih diberi kekuatan mengingat Allah dan rasul-Nya. ’’Saya tidak berhenti bersalawat. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya,’’ lanjutnya. Kini, saat hidupnya masih diperpanjang Tuhan, Ifan semakin yakin bahwa silaturahmi memang memperpanjang usia dan memberkahinya.

Yang layak disyukuri pula, silaturahmi itu sesungguhnya roh bagi tubuh anak bangsa Nusantara. Silaturahmi adalah budaya kita yang diperkuat pula oleh ajaran agama. Bukan hanya agama tertentu, setiap agama selalu mengajari kita untuk menghargai satu sama lain, menghormati perbedaan, dan merawat keberagaman dalam keberagamaan. Saya, bahkan kita semua, harus berterima kasih kepada mendiang Kiai Ahmad Shiddiq yang pernah berpetuah tentang persaudaraan.

Beliau berpesan, kita sesungguhnya adalah saudara. Jika bukan saudara satu agama, kita saudara satu bangsa. Jika pun bukan saudara satu bangsa, kita adalah saudara satu kemanusiaan. Kita sama-sama manusia yang dimuliakan oleh Tuhan dengan akal budi pekerti dan kebudayaan. Oleh karena itulah, budaya silaturahmi wajib dijaga dan dilestarikan setiap waktu sebagai ikhtiar seluruh elemen bangsa. Tugas ini berlaku untuk setiap anak manusia di muka bumi.

Santri dan warga membawa tiga ratus obor dari pesantren menuju Lapangan Desa Jambangan malam tadi. Mereka tunjukkan kepada kita, setidaknya kepada saya, desa adalah milik kita bersama. Ketika kemajuan peradaban terus-menerus mengarah ke perkotaan, bukan berarti desa tertinggal, apalagi terbelakang. Satu sama lain saling menguatkan, bukan justru melemahkan. Peradaban manusia berpusat bukan di wilayah tertentu, tapi di hati kita sendiri.

Kerukunan dan kedamaian inilah kekayaan terindah suatu bangsa. Jika itu terkoyak oleh sentimen politik, apalagi oleh kepentingan sesaat yang sesat, bangsa dipertaruhkan. Pijar obor yang beriringan ke lapangan desa mewarnai ratusan warga yang berkumpul menyatukan hati dalam doa bersama ialah ikhtiar yang membahagiakan. Kami malam tadi juga bernyanyi bersama, selain mengaji dan bersalawat. Dengan mendengarkan kiai berpetuah, semoga hidup semakin berkah. (*)




*) Candra Malik, budayawan

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore