Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Januari 2020, 02.45 WIB

Puisi

CANDRA MALIK - Image

CANDRA MALIK

SETIAP penulis sesungguhnya menulis tentang dirinya sendiri. Jikapun menulis tentang seseorang, penulis menuliskan pengindraan, pikiran, dan perasaannya tentang seseorang itu.

Tentang dirinya sendiri. Persepsinya. Sesedikit apa pun, objektivitas tercampur subjektivitas. Tak jelas takarannya. Sebab, hanya penulis itu sendiri yang betul-betul tahu, meski dia belum tentu pula menyadari itu. Tak ada yang benar-benar murni dan bebas nilai.

Selain kolom yang sedang Sampean baca ini, saya menulis esai di media massa lain, cetak maupun elektronik. Beberapa tahun silam, saya menulis cerita pendek. Belum jelas mengapa saya tiba-tiba berhenti.

Tapi, saya duga, ini gara-gara saya mulai menulis novel. Yang tidak berubah adalah saya tak putus menulis puisi. Banyak yang bertanya, apakah saya mengalami seluruh puisi itu. Tidak saya jawab. Tapi, saya diajari prinsip tasawuf: tak mengenal jika tak mengalami.

Bahkan, meski tiap-tiap genre penulisan memiliki tingkat kesulitan masing-masing, saya beranggapan bahwa menulis puisi adalah yang paling sukar. Tak hanya bahwa saya harus berhadapan dengan kata, juga makna, namun saya harus menghadapi potensi dusta atas tiap kemungkinan yang akan saya tuliskan.

Setiap penyair wajib jujur, setidaknya itulah yang saya yakini. Sebab, menulis puisi tak cuma memanis-maniskan kata, menata kalimat, dan mengumpan tafsir.

Beberapa kali saya diminta teman-teman untuk memberikan materi pelatihan menulis di sejumlah kelas online. Tentu saya suka dengan fenomena merebaknya minat pada dunia perpuisian, untuk tak terlampau dini menyebutnya sebagai kepenyairan.

Tapi, yang tak bisa saya bayangkan, bagaimana proses berpuisi dapat kita pelajari tanpa perjumpaan? Saya mengalami, beberapa puisi saya hanya dianggap lembar kertas dan dibuang Mas Willy. Sakit, tapi menguatkan.

Masih saya kenang pula sesaat belajar dari Mas Danarto. Dan, beberapa kali sekadar menyantap sate klathak Pak Bari di Pasar Wonokromo, Jalan Imogiri, Jogjakarta, bersama Agus Noor dan Butet Kartaredjasa.

Entah ingat entah tidak Pak Sapardi Djoko Damono saat saya sowan kepadanya sebelum memasuki pintu gerbang sastra. Prof Budi Darma juga adalah begawan sastra yang saya datangi untuk memohon restu. Begitu pula Mas Goenawan Mohamad di Utan Kayu.

Zaman telah berubah. Kini, kita bisa belajar kepada siapa pun, tentang apa pun, di mana pun, kapan pun, bagaimana pun, dengan relatif mudah. Teknologi komunikasi telah meringkas jarak dan memperpanjang waktu. Video konten bisa kita tonton berkali-kali.

Tapi, nir kehadiran dan perjumpaan lahiriah dalam makna yang sesungguhnya. Jikapun ada kelas-kelas menulis dengan tatap muka, peserta tidak benar-benar diajari nyantrik, apalagi diajak menghidupkan kata-kata.

Namun, tak ada yang salah dengan semua itu. Tiap-tiap generasi memiliki peradaban. Mempunyai cara sendiri menguatkan akar, menumbuhkan pokok, membentangkan batang dan ranting, menyegarkan daunan, dan mengembangkan bunga, hingga pada akhirnya membuahkan hasil.

Saling belajar antargenerasi tentu sangat baik. Panggung-panggung dalam skala apa pun dibutuhkan untuk melahirkan penyair-penyair era baru, sekaligus untuk merawat silaturahmi kita.

Cara tampil memang kian beragam. Siapa pun kini dapat menciptakan panggungnya sendiri sekaligus publik penikmatnya. Tak jarang pula, ada yang belum menulis puisi tapi sudah lebih dulu jatuh cinta pada buku-buku puisi karya penyair pujaannya.

Lalu, senang membacakan puisi-puisi itu dalam berbagai kreasi pertunjukan, termasuk di dalamnya melalui media daring. Ada yang memanfaatkan media sosial untuk berlatih, ada yang bermaksud menampilkan karya.

Tapi, apakah puisi masih dibutuhkan oleh zaman yang terus melesat ini, Sampean yang lebih tahu jawabannya. Kini, yang juga bertebaran adalah kutipan-kutipan bijak. Siapa pun sah merasa bisa belajar banyak dari para arif via petuah-petuahnya yang sampai kepada kita. Siapa pun punya hak mengabaikan proses bagaimana para arif menjadi dirinya hingga pada taraf mumpuni menuliskan pengalaman dan perenungan. Tak ada perintah, tak pula ada larangan.

Pada akhirnya, segala yang kita mulai akan kepada kita pula kembali. Waktu selalu tepat, dan oleh karena itulah disebut tepat waktu. Tidak pernah terlalu cepat, juga tak pernah terlambat. Tiada yang benar-benar instan.

Masing-masing dari kita menjalani proses; baik itu yang kita namai coba-coba ataupun yang mereka namai gagal. Keberhasilan tak mudah dimonopoli oleh diri sendiri, apalagi oleh penyair. Publiklah yang menilai apakah suatu puisi menyentuh hati atau tidak.

Jikapun kemudian suatu puisi diletakkan pada takdir yang tak pernah diduga oleh penyairnya, misalnya dijadikan kata-kata mutiara di undangan pernikahan, moto di halaman awal karya tulis akademik, teks di dinding-dinding mural, atau lirik lagu, saya rasa di situlah letak keindahannya.

Namun, tetap saja tak ada yang abadi, termasuk puisi. Karena itu, saya memuisi lebih untuk menulis penanda perjalanan. Meski lekang, setidaknya ia pernah saya kenang. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore