
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Kelam ini,
Bungkam menghardik lancang semesta
Menghujami sumpah serapah pada sampah-sampah tak bertuhan
Penuturan usang lembaran-lembaran naif, aku pungut kembali di antara marah matahari
Lalu sisanya, aku jejalkan pada para bajingan dan kupu-kupu malam
Di sepertiganya,
Kala raga merangkai anarki dengan patah nadi
Aku temui sekumpulan biadab yang tak beradab
Tak lagi dersik melandai hirap sendu sedan atau senyap pada ruas jari buana
Padahal seratus tahun yang lalu
Telah di cambukinya ribuan bintang yang cacat
Dalam segelintir iman yang rusak.
YURITA WINDA ASTARI, tinggal di Lampung.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
