Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Oktober 2022 | 20.22 WIB

Masjid Al Akbar Surabaya

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

Masjid Al Akbar Surabaya


pengantin lima kubahmu yang biru

menggenapi keganjilan angin Pagesangan

yang habis gegas mencium subuh yang basah

 

;alun suara muazin meyakinkan bulan tanggal tua yang ceking

memahat bayangannya ke datar dinding –dingin dan hening

 

getar suara pembaca kunut jatuh ke lembah dada

sebagai bunga jingga dari lambung cakrawala

 

kilas sisa fajar turut menggaris menara tunggal

yang tak henti iktidal

–di antara cengkeram jemari suhu dan runcing kuku waktu

 

selempung waktu karib mengalahkan humus di bagian kiri dadaku

saat kutatap ornamen mimbarmu yang dijejaki sentuh halus perajin Madura

seperti tikai harakat fathah dan karah –damai dalam pelukan huruf hijaiah.

 

Surabaya, 2022

---

Masjid Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan


di ujung subuh, samar antara kedip mata, ujung daun-daun salak

menulis pecahan senyap di dada langit batu, memburai warna pagi lembut bulu merak

kuning kemerahan merajah punggung kubahmu, usai getar azan merempahi udara

melenyapkan malam lain di setiap dada peziarah.

 

dua menara bersandar kabut tipis dalam dekap bayangan fajar

seperti tercipta dari tiga langkah Syaikhona –antara tanah Martajasah

dan Madinah.

 

burung-burung kecil mematri zikir pada lambung plafon

di antara tasyahud goresan garis-garis tribal dan tarian lampu kristal

di antara secawan akal dan selir mata yang ambal –semua di balik titah Syaikhona

kuntum buah durja habis jatuh bertunas cahaya; Ya Rabbana, Ya Rabbana

 

mihrabmu yang bermotif diagonal batik dan kaligrafi, searah gegas kaki peziarah

harapan ditanam, mengakar membelit pilar-pilarmu yang merampung siul karamah

bagi hari sesudah nafsu dikubur pada liang keyakinan.

 

Bangkalan, 2022

---

Masjid Cheng Hoo Surabaya


 

pintumu serupa pagoda, tanpa sesirap daun –tanda buka bagi setiap kunjung

iftitah rahasia dikalung seorang nujum

suhu bertamu di lindap subuh, arsiran butir embun mengendap pada relief naga

menguntai makna cinta bagi yang datang di pengujung azan

yang pada pipinya membutir sisa air wudu; berkilau jeruk limau

sebasah getah embalau –lalu dengan menyebut sebuah asma

ia temukan bulan di sungai dadanya.

 

patung singa dari lilin menampung detak hening, larut dalam diamnya

karat tatahan doa yang dibentang pada sebuah nama; Laksamana Cheng Ho

–orang Tionghoa dari Yunnan, yang menautkan benang Jalalah warna gandaria

di mori tua tanah Jawa.

 

maka pada dominasi warnamu yang merah, hijau, dan kuning –ada yang hidup kembali

berdiri di seberang puisi, mengulangi ikamah tiga kali, hingga matahari datang kembali

membawa waktu yang abadi.

 

Masjid Al Akbar Surabaya




A. WARITS ROVI

Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Ia mengabdi di MTs Al Huda II, Gapura Sumenep, Madura.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore