Masjid Al Akbar Surabaya
pengantin lima kubahmu yang biru
menggenapi keganjilan angin Pagesangan
yang habis gegas mencium subuh yang basah
;alun suara muazin meyakinkan bulan tanggal tua yang ceking
memahat bayangannya ke datar dinding –dingin dan hening
getar suara pembaca kunut jatuh ke lembah dada
sebagai bunga jingga dari lambung cakrawala
kilas sisa fajar turut menggaris menara tunggal
yang tak henti iktidal
–di antara cengkeram jemari suhu dan runcing kuku waktu
selempung waktu karib mengalahkan humus di bagian kiri dadaku
saat kutatap ornamen mimbarmu yang dijejaki sentuh halus perajin Madura
seperti tikai harakat fathah dan karah –damai dalam pelukan huruf hijaiah.
Surabaya, 2022
---
Masjid Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan
di ujung subuh, samar antara kedip mata, ujung daun-daun salak
menulis pecahan senyap di dada langit batu, memburai warna pagi lembut bulu merak
kuning kemerahan merajah punggung kubahmu, usai getar azan merempahi udara
melenyapkan malam lain di setiap dada peziarah.
dua menara bersandar kabut tipis dalam dekap bayangan fajar
seperti tercipta dari tiga langkah Syaikhona –antara tanah Martajasah
dan Madinah.
burung-burung kecil mematri zikir pada lambung plafon
di antara tasyahud goresan garis-garis tribal dan tarian lampu kristal
di antara secawan akal dan selir mata yang ambal –semua di balik titah Syaikhona
kuntum buah durja habis jatuh bertunas cahaya; Ya Rabbana, Ya Rabbana
mihrabmu yang bermotif diagonal batik dan kaligrafi, searah gegas kaki peziarah
harapan ditanam, mengakar membelit pilar-pilarmu yang merampung siul karamah
bagi hari sesudah nafsu dikubur pada liang keyakinan.
Bangkalan, 2022
---
Masjid Cheng Hoo Surabaya
pintumu serupa pagoda, tanpa sesirap daun –tanda buka bagi setiap kunjung
iftitah rahasia dikalung seorang nujum
suhu bertamu di lindap subuh, arsiran butir embun mengendap pada relief naga
menguntai makna cinta bagi yang datang di pengujung azan
yang pada pipinya membutir sisa air wudu; berkilau jeruk limau
sebasah getah embalau –lalu dengan menyebut sebuah asma
ia temukan bulan di sungai dadanya.
patung singa dari lilin menampung detak hening, larut dalam diamnya
karat tatahan doa yang dibentang pada sebuah nama; Laksamana Cheng Ho
–orang Tionghoa dari Yunnan, yang menautkan benang Jalalah warna gandaria
di mori tua tanah Jawa.
maka pada dominasi warnamu yang merah, hijau, dan kuning –ada yang hidup kembali
berdiri di seberang puisi, mengulangi ikamah tiga kali, hingga matahari datang kembali
membawa waktu yang abadi.
Masjid Al Akbar Surabaya
A. WARITS ROVI
Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Ia mengabdi di MTs Al Huda II, Gapura Sumenep, Madura.