candi dan batu prasasti itu menertawakan kalian
’’kami datang merayah belantara wonosalam
dan berhimpun dalam komando pasukan hayam wuruk
dan sebulan kemudian, di bawah langit cemerlang,
kami rayakan pergantian tahun dengan sorak kemenangan
di segitiga trawas, kutorejo, dan pacet’’
kau sangka tuah nama itu, tapi kau keliru, kau akan tahu kau keliru
’’12 februari 1949, tuah berubah tulah
separo dari tiga batalyon kami berakhir sebagai bangkai
dalam upaya mengarungi kali porong
dan peleton berisi 30 anak muda brangasan ini
mesti mengumpet di perbukitan selatan”
sesungguhnya kau mati sebagai sisa majapahit
dan dibangkitkan sebagai kukila kecil,
kukila yang ada, benar-benar ada
(dan bukan desas-desus belaka)
’’alap-alap, kami sekeropok alap-alap,
kami terbang lajak di ketinggian, dan menyahuti mangsa,
maka begitulah kami sergap pemilik pabrik gula, dua tentara
brigade mobil belanda, dan satu jeep milik saudagar china,
dan karena kami alap-alap, kami sanggup melating hingga sidoarjo,
ke tempat di mana tiga batalyon dalam komando hayam wuruk
gagal menembus”
dan alap-alap itu, as pelor,
adalah yang memaksa orang-orang eropa
untuk menyungguhkan kedaulatan republik di kota kecil itu
setelah perundingan yang tidak menguntungkan,
alap-alap itu, bukan sesuatu yang berasal dari
remah-remah kebesaran majapahit
---
kucing hitam
3 februari 1949, dini hari mengeras dan memanjang di kediristraat, dentum ledakan yang menggigil,
lalu gedoran pintu, lalu orang-orang yang menyaru kucing –300 jumlahnya– memerintahkan para
penghuni keluar
mereka datang dari lorong-lorong gelap pasar kliwon
seorang china bertanya ada apa, tapi tak ada waktu menjawab, fajar digegaskan semburat merah
yang bukan berasal dari terbitnya mentari, melainkan nyala api, juga kemarahan
***
ia belum pernah ke jakarta, atau jogjakarta, ia belum pernah bertemu soekarno, hatta,
soedirman, atau nasution
dan sore itu, sebelum dini hari nanti ia menyulut tumpukan kayu di belakang de zon,
seseorang bertanya, ’’kenapa kau ingin melakukan ini?’’
ia tidak tahu, ia tidak tahu,
ia bahkan tidak tahu apakah ia memang ingin
***
’’empat tahun, ahmad,’’ efendi berkata, ’’empat tahun setelah proklamasi, dan apakah kita
merasakan kemerdekaan itu?’’
’’jangan memberi pertanyaan sulit’’
’’di mojokerto, semua seperti sama belaka”
’’kita dipimpin orang sendiri, kini, bukan orang-orang eropa, kaum penjajah itu’’
’’penjajah bisa berwujud apa saja”
’’jangan menggembosi perjuangan, efendi, jangan’’
’’aku hanya mencari alasan untuk menguatkan diri sendiri”
’’kita hanya perlu menunjukkan bahwa republik ini masih ada dan belanda semestinya enyah
selamanya’’
***
pukul 06.00, kucing-kucing tak ada lagi, dan di reruntuhan de zon, moro seneng, juga toko emas
berlian, para pedagang china berkerumun dan menggerutu, ’’kenapa harus toko-toko kita? kenapa
harus? bukankah kita juga pribumi?’’
mereka tak tahu, tak jauh dari mereka, seorang pencatat tengah menulis narasi klise: perjuangan
selalu membutuhkan pengorbanan
***
tujuh hari setelahnya, orang-orang berkulit putih datang ke balong cok
’’kami mencari gerombolan kucing hitam’’
dan penduduk menunjuk seekor kucing kampung yang kurus dan korengan, dan para penanya
membalas dengan serentetan tembakan
ketika hari berakhir, lima belas orang, termasuk ahmad dan efendi, digelandang ke surabaya,
sedang di balong cok, dua penyaru kucing terkapar dengan dada berlubang
di jogjakarta, soekarno-hatta sedang mandi air hangat yang nyaman
---
pak ketupat
untuk status facebook-nya yang terakhir, tia menulis: sebab tak ada
pak ketupat di sini
ia pandangi linimasa lama sekali, rentetan unggahan tautan, foto-foto editan,
kalimat-kalimat pembenaran
seperti ada yang memanggil-manggilnya, dari lorong
masa lampau yang jauh, yang ia temukan dari sebuah
buku harian
ia ingin sejulang panggung di tengah alun-alun
dan seseorang yang membaca catatan dengan lantang
ia bayangkan tahun-tahun awal setelah proklamasi
dan ribuan pengungsi dari surabaya membanjiri mojokerto:
anak-anak, perempuan, laki-laki jompo
’’dan sejumlah pemuda pengecut,’’ ia mengeluh
seharusnya mereka ditembak, seperti lazimnya
pengkhianat hari itu, namun mereka selicin
belut, dan lidah mereka bercabang, dan mereka
acap berkata: kami tidak kabur dari palagan, kami
menyampaikan kabar pada para pengungsi
sesungguhnya, mereka membawa kabar dusta,
menambah atau mengurangi, seperti lazimnya
desas-desus
tapi di mojokerto, berdiri di atas panggung tinggi
di tengah alun-alun, pak ketupat menjelma nabi
yang meluruskan segala berita bias dengan
selembar kertas dari jawatan penerangan
tia menutup facebook-nya
’’sebab tak ada pak ketupat di sini’’
---
DADANG ARI MURTONO
Lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), Cara Kerja Ingatan (novel, 2020), Sapi dan Hantu (kumpulan puisi, 2022), serta Cerita dari Brang Wetan (kumpulan cerpen, 2022). Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai Buku Puisi Terbaik Indonesia 2019. Sapi dan Hantu mendapat juara III Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021.