16 Oktober 2022, 15.16 WIB O, Malangnya Malang
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)
O, Malangnya Malang
Betapa malang kau, Malang
Malangmu melintang pukang
Kau lari tunggang-langgang
Panik dihadang digelandang
Betapa malang kau, Malang
Ratusan nyawamu melayang
Lunglai, roboh orang-orang
Tinggal nama yang pulang
Di Kanjuruhan malam Minggu
Jerit dan teriak jadi saksi bisu
Gegap gempita kembali fana
Yang abadi kini prasasti luka
Sejak diledakkan pada kita
Gas air mata jadi gas air mata
Meledak di rumah-rumah duka
Meledak pula di seantero dunia
Berguguran harapan-harapan
Telah mati muda masa depan
Terlalu muda ia dibatunisankan
Di rumput hijau taman kesedihan
Oktober 2022
---
Perayaan Kanjuruhan
Nak, ulang tahunmu ini perayaan
Disaksikan sorak-sorai Kanjuruhan
Semua mata yang mengarah bola
Niscaya serentak memandang kita
Nak, berteriaklah seseru-serunya
Katakan cita-citamu kepada dunia
Di sini, gas air mata menjadi saksi
Pintu ditutup agar kita buka hati
Di rumah, sudah disiapkan bapak
Tabungan doa untuk bekalmu kelak
Di rumah, telah tiba waktu bagi ibu
Menyapihmu dari duka masa lalu
Pulanglah gagah meski sendiri
Sirene akan menuntunmu kembali
Mulai hari ini kau harus dewasa
Berjiwa besar melampaui usia
Maafkan kaki-kaki yang menginjak
Tubuh-tubuh tak bisa mengelak
Mereka, seperti ibu, seperti bapak
Kenanglah abadi sebagai jejak
Sudah sebelas tahun umurmu kini
Harus berani kau menghadapi sepi
Nyanyi kita telah dikekalkan zaman
Pernah ada perayaan di Kanjuruhan
Oktober 2022
---
Bola, Matamu Berair
Bola, matamu berair
Disepak diinjak takdir
Bola mata kami juga
Dijejak didupak duka
Bola, matamu berair
Bau tangismu anyir
Dari tengah ke pinggir
Lebam dada dan gigi
Bola mata kami juga
Basah sekujur durja
Lalu gelap tiba-tiba
Selepas senja kala
Bola, apa kaudengar?
Teriakan ingar-bingar
Itu kami meneriakimu
Sebelum kami kaku
Bola, matamu berair
Bola mata kami juga
Inikah pertanda akhir
Kita takkan lagi jumpa?
Oktober 2022
---
Siapa Nyalakan Suar?
Suara letupan melenyap
Kematian dipaksa senyap
Tak didengungkan kabar
Siapa menyalakan suar
Mengapa merasa benar?
Berani dalih tanpa dasar
Mengapa memilih ingkar?
Meski kejadian ini tersiar
Siapa bertanggung jawab?
Ketika dada mereka pengap
Ketika raga mereka tersekap
Ketika mata mereka lindap
Tangan-tangan melepas
Setelah merenggut napas
Tangan-tangan menutupi
Bau hidungnya sendiri
Jika tak ada yang salah
Dan tak ada yang ngaku
Apakah lantas jadi lumrah
Dan sebentar lagi berlalu?
Pada jasad yang dihitung
Hati kehilangan jantung
Sekuat apa pun limbung
Berkubang dalam kabung
Pada nisan tanpa nama
Dan orang-orang hilang
Betapa banyak keluarga
Merindu mereka pulang
Pada doa-doa membisu
Yang dilisankan ke langit
Jiwa-jiwa kami disatukan
Meski hati teramat sakit
Oktober 2022
---
CANDRA MALIK
Penyair kelahiran Solo. Berkegiatan pula di Keraton Surakarta dengan nama lain KPHA Panembahan Pakoenegoro.Editor: Ilham Safutra