Dalam Bus Family Raya
di jalan pulang Jawa–Sumatera
aku kembali teringat Thendra
masih jalanan yang itu juga
tahun yang tak lagi sama
aku mengingatnya di antara bangku kosong,
Ramadan yang dipepet Lebaran,
padat jalanan sepasti kisah perjalanan kami
dengan pikiran dan hasrat yang menggebu:
pulang sebagai seorang yang merasa penting
yang kelak, di masa yang sekarang kini
kami jauh lebih penting lagi
tapi aku masih sendirian di bangku ini
tidak dengan minyak wangi
dan lirik kecil ke bangku manis
melainkan dengan minyak gosok,
obat masuk angin
dan masih bukan siapa-siapa.
April 2022
---
12 Mei 2022
malam ini seseorang merayakan hari lahirnya
aku mengingat dengan baik sebagai jarak
dan kehilangan
seseorang lain berbaring di sini
menunggu maut yang menjemputnya
tak lebih dari 24 jam lagi
kebahagiaan berdampingan dengan kesedihan
yang datang berebut tempat dengan yang hilang
aku kehilangan cara merayakan
aku juga tak ingin menangis karena kehilangan.
Keberangkatan
aku pulang, atau mungkin berangkat
dengan dada berlubang
pikiranku ikut terkubur
di makam belakang rumah yang masih basah
aku datang, atau sedang pulang
dengan kehilangan yang tak tertampung puisi ini
kosong yang belum cukup kata untuk dituliskan
lalu perkara-perkara lain yang membuatku
kehilangan cara untuk mengatakan apa pun
soal sawah dan sengketa, soal ladang dan tabungan
aku kembali atau mungkin pergi
dengan tangis yang terus diperam
air mata, aku tahu, tak selamanya bisa ditahan.
Mei 2022
---
Di Kaki Bukit
aku kembali pada tebing-tebing curam
halimun petang dan embun pagi
dan malam menyelimuti kita dengan gelap
sehingga yang tersisa hanya gemintang,
lampu, kunang-kunang, dan matamu
peluk aku dengan hangat
di antara suara hutan dan bunyi batu memukul kali
lolongan anjing di kejauhan dan jalanan mulai lengang
suara ombak jadi panggilan sayang untuk lekas pulang
malam membuat kita tak perlu memikirkan apa-apa
biarkan aku tidur di pangkuanmu
dengan mimpi yang tak pernah mampu
kita gapai ketika jaga
ketika pagi datang
di antara halimun, kita menunggu
matahari memecahkan kabut
dan segalanya tampak hidup dan bercahaya
aku kembali, kau sudah tak ada
aku ingin dan selalu ingin
kembali dan membaringkan diri sepuas-puasnya
hingga malam dan hutan lebat menelanku bulat-bulat
peluk aku sekali lagi ibu, sekali saja
bawa masuk ke hangat masa kecil
di mana kita, dan kesepian, kawan karib
yang tak sekali pun saling meninggalkan.
seperti pondok kita dan segala kenangan tentangnya
Kau lenyap dari pandangku,
tetapi akan kekal dalam doaku.
2022
---
INDRIAN KOTO
Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com dan Penerbit JBS. Buku puisi pertamanya yang sudah terbit adalah Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017). Sementara itu, Pusa-Pusa Orang Naik merupakan manuskrip cerpennya yang segera terbit.