Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Agustus 2022 | 16.46 WIB

Dalam Bus Family Raya

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Dalam Bus Family Raya


 

di jalan pulang Jawa–Sumatera

aku kembali teringat Thendra

 

masih jalanan yang itu juga

tahun yang tak lagi sama

aku mengingatnya di antara bangku kosong,

Ramadan yang dipepet Lebaran,

padat jalanan sepasti kisah perjalanan kami

dengan pikiran dan hasrat yang menggebu:

pulang sebagai seorang yang merasa penting

yang kelak, di masa yang sekarang kini

kami jauh lebih penting lagi

 

tapi aku masih sendirian di bangku ini

tidak dengan minyak wangi

dan lirik kecil ke bangku manis

melainkan dengan minyak gosok,

obat masuk angin

 

dan masih bukan siapa-siapa.

 

April 2022

---

12 Mei 2022


 

malam ini seseorang merayakan hari lahirnya

aku mengingat dengan baik sebagai jarak

dan kehilangan

 

seseorang lain berbaring di sini

menunggu maut yang menjemputnya

tak lebih dari 24 jam lagi

 

kebahagiaan berdampingan dengan kesedihan

yang datang berebut tempat dengan yang hilang

 

aku kehilangan cara merayakan

aku juga tak ingin menangis karena kehilangan.

 

Keberangkatan


 

aku pulang, atau mungkin berangkat

dengan dada berlubang

pikiranku ikut terkubur

di makam belakang rumah yang masih basah

 

aku datang, atau sedang pulang

dengan kehilangan yang tak tertampung puisi ini

kosong yang belum cukup kata untuk dituliskan

lalu perkara-perkara lain yang membuatku

kehilangan cara untuk mengatakan apa pun

soal sawah dan sengketa, soal ladang dan tabungan

 

aku kembali atau mungkin pergi

dengan tangis yang terus diperam

air mata, aku tahu, tak selamanya bisa ditahan.

 

Mei 2022

---

Di Kaki Bukit


 

aku kembali pada tebing-tebing curam

halimun petang dan embun pagi

dan malam menyelimuti kita dengan gelap

sehingga yang tersisa hanya gemintang,

lampu, kunang-kunang, dan matamu

 

peluk aku dengan hangat

di antara suara hutan dan bunyi batu memukul kali

lolongan anjing di kejauhan dan jalanan mulai lengang

suara ombak jadi panggilan sayang untuk lekas pulang

malam membuat kita tak perlu memikirkan apa-apa

 

biarkan aku tidur di pangkuanmu

dengan mimpi yang tak pernah mampu

kita gapai ketika jaga

ketika pagi datang

di antara halimun, kita menunggu

matahari memecahkan kabut

dan segalanya tampak hidup dan bercahaya

 

aku kembali, kau sudah tak ada

aku ingin dan selalu ingin

kembali dan membaringkan diri sepuas-puasnya

hingga malam dan hutan lebat menelanku bulat-bulat

 

peluk aku sekali lagi ibu, sekali saja

bawa masuk ke hangat masa kecil

di mana kita, dan kesepian, kawan karib

yang tak sekali pun saling meninggalkan.

 

seperti pondok kita dan segala kenangan tentangnya

Kau lenyap dari pandangku,

tetapi akan kekal dalam doaku.

 

2022

---

INDRIAN KOTO

Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com dan Penerbit JBS. Buku puisi pertamanya yang sudah terbit adalah Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017). Sementara itu, Pusa-Pusa Orang Naik merupakan manuskrip cerpennya yang segera terbit.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore