Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Mei 2018 | 04.27 WIB

Diduga Lalai, Ketua Panitia Sembako 'Maut' Monas Dipolisikan Keluarga

Muhammad Fayyadh, kuasa hukum Komariah, ibu mendiang Rizki Saputra, korban sembako maut di Monas, usai melaporkan Ketua Panitia kegiatan bertema Forum untukmu Indonesia (FUI), Dave Revano Santosa - Image

Muhammad Fayyadh, kuasa hukum Komariah, ibu mendiang Rizki Saputra, korban sembako maut di Monas, usai melaporkan Ketua Panitia kegiatan bertema Forum untukmu Indonesia (FUI), Dave Revano Santosa

JawaPos.com - Acara bagi-bagi sembako di Monas pada Sabtu (28/4) terus menuai polemik. Ketua Panitia kegiatan bertema Forum untukmu Indonesia (FUI), Dave Revano Santosa dipolisikan oleh Komariah selaku orang tua Muhammad Rizki Saputra, 10, selaku korban tewas dalam acara itu.


Melalui kuasa hukumnya, Muhammad Fayyadh pelaporan ini didasari atas dugaan kelalaian Dave dalam mengelola acara tersebut sehingga berujung jatuhnya korban jiwa. Pelaporan ini tertuang dalam laporan polisi nomor: LP/578/V/2018/Bareskrim. Dave disangkakan dengan pasal 359 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).


"Saya di sini selaku kuasa hukum dari Ibu Komariah yang anaknya meninggal dunia pada acara pembagian sembako di Monas tanggal 28 April ini melaporkan tindak pidana kelalaian yang mengakibatkan matinya orang lain, diatur dalam pasal 359 KUHP yang mana ancaman pidananya 5 tahun. Terlapornya Ketua panitia penyelenggaraan FUI atas nama Dave Revano Santosa," ungkap Fayyadh di Bareskrim Polri, Rabu (2/5).


Kelalaian ini terlihat dari tidak adanya panitia yang membantu korban untuk mendapat pertolongan pertama setelah terinjak-injak oleh masa yang mengantri sembako. Bahkan Komariah sempat meminta pertolongan namun tidak digubris.


"Tidak (ada panitia yang bantu). Pada saat itu ada beberapa panitia laki-laki minta tolong tapi respon panitia yang ada disitu menyampaikan 'mohon maaf kami sedang sibuk mengurusi ini yang lain karena acara keos jadi gak bisa cari bantuan'. Sikap acuh dan sudah jelas korban tergeletak dalam kondisi muntah dan kejang," lanjut Fayyadh.


Pertolongan baru datang saat Komariah meminta bantuan kepada aparat TNI yang berada tidak jauh dari lokasi korban. Petugas itu kemudian membawa korban ke posko kesehatan di sekitaran Monas.


Namun nahas, karena tidak adanya peralatan memadai di posko tersebut, korban hanya dibuatkan surat rujukan ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit dan mendapat perawatan, korban akhirnya menghembuskan nafas terakhir.


"Kemudian Ibu (Komariah) ini melihat ada lewat dua orang TNI dan menolong. Kemudian dibawa ke posko kesehatan di area Monas. Di sana tidak dilakukan penanganan medis karena pihak dokter bilang infus dan peralatan medis lain gak ada, lalu dibuatkan surat rujukan ke RSUD Tarakan, (kemudian) meninggal di Tarakan," imbuh Fayyadh.


Fayyadh lantas menyesalkan sikap panitia yang terkesan acuh. Bahkan setelah korban dinyatakan tewas, hingga saat ini belum ada satupun dari panitia yang menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.


"Jangankan ke rumah sakit, ke rumah pun sampai saat ini tidak ada dari panitia, ke saya juga gak ada," pungkas Fayyadh.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore