JawaPos Radar

Curhatan Lukman Hakim Ketika Ditanya Mahasiswa Sulitnya jadi Menag

21/04/2018, 14:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Curhatan Lukman Hakim Ketika Ditanya Mahasiswa Sulitnya jadi Menag
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin (kanan), saat rapat dengan DPR. (Charlie/Indopos (Jawa Pos Grup))
Share this image

JawaPos.com - Menjadi Menteri Agama (Menag) sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan terpilih kembali di pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, membuat Lukman Hakim Saifuddin semakin disegani masyarakat. Namun, ternyata tak mudah menjadi Menag di Indonesia, negara yang sangat majemuk.

Hal itu diakui Lukman ketika menjawab salah seorang mahasiswa ketika kunjungan ke Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Mahasiswa itu bertanya bagaimana rasanya menjadi Menag.

"Pak Menteri, apa yang tersulit dan dirasakan saat menjadi Menag?" tanya salah satu mahasiswa saat sesi dialog Ngaji Kebangsaan di Semarang, Jumat (20/4).

Dengan senyuman, Lukman pun menyampaikan sebenarnya bukan kesulitan yang dihadapi. Tetapi, lebih tepat dikatakan sebagai tantangan sejak awal menjabat sebagai Menag.

"Tantangan terbesar bagi saya itu bagaimana kita tetap mampu menjaga dan merawat paham dan pengamalan ajaran agama, untuk senantiasa berada pada jalur moderasi," kata Lukman.

Dia menjelaskan, saat ini hampir seluruh program Kementerian Agama memiliki keterkaitan dengan moderasi agama. Lukman meminta agar masyarakat tidak memiliki paham dan bentuk pengamalan agama yang cenderung ekstrem.

"Moderasi itu mengajak mereka yang ekstrem baik terlalu liberal maupun konservatif, kembali ke tengah," kata politisi partai berlambang kabah itu.

Kendati penuh tantangan, Lukman mengatakan, ia tetap berusaha mengajak masyarakat untuk mengenali dan tidak lupa jati diri bangsa. Menurutnya, Indonesia yang beraneka ragam suku dan agama harus terus dirawat dan jangan sampai mau diadu domba.

"Saya tekankan bagaimana bangsa sebesar Indonesia ini dengan karakteristik geograifsnya yang luas dan beragam itu tetap menempatkan agama pada tempat yang strategis dan khas," tuturnya.

"Inilah yang sulit didapatkan di belahan negara manapun di dunia. Semua ini harus kita syukuri dengan menjaga dan merawat nilai kebangsaa serta mengamalkan ajaran agama dan akidah demi menjaga kerukunan dan kedamaian," pungkasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up