Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 September 2017 | 00.46 WIB

Berperahu Menyusuri Denyut Nadi Kali Porong (4)

SAHABAT LAMA: Sudjari (kanan), 64, dan Abas, 60, memperagakan tari ujung di Dusun Balongmacekan, Desa Tarik, Kecamatan Tarik. Meskipun sudah berusia lanjut, mereka tetap tangkas. - Image

SAHABAT LAMA: Sudjari (kanan), 64, dan Abas, 60, memperagakan tari ujung di Dusun Balongmacekan, Desa Tarik, Kecamatan Tarik. Meskipun sudah berusia lanjut, mereka tetap tangkas.

Bila umumnya tarian identik dengan gerakan indah yang gemulai atau rancak, yang satu ini benar-benar berbeda. Pelakonnya justru saling pukul dengan kayu menjalin atau rotan. Kulit terluka sudah biasa.


Laporan


JOS RIZAL – ALLEX QOMARULLAH, Sidoarjo


MUALI sudah menunggu kami di halaman Balai Desa Tarik. Kakek berusia 99 tahun itu duduk di dipan. Bersebelahan dengan sepeda kayuhnya. Begitu melihat kami memasuki gerbang balai desa, dia langsung menyapa dan bersalaman.


’’Mulai jam empat (16.00 Red) saya di sini,’’ ujarnya Rabu sore (13/9). Kami pun menceritakan hambatan yang membuat kami tiba di Balai Desa Tarik pukul 17.00. Padahal, jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari Bendungan Lengkong Baru, titik kami berangkat. Mobil yang kami tumpangi harus berputar dua kali untuk mencari jalan alternatif menuju balai desa. Sebab, ada pesta pernikahan warga yang menutup jalan.


Dari balai desa, kami langsung menuju ke rumah Sudjari, 64, di RT 7, RW 2, Dusun Balongmacekan, Desa Tarik. Muali sudah mengatur tempat untuk bertemu dengan seniman Tari Ujung. Sudjari adalah koordinator Padepokan Tari Ujung Tarik. Menurut penuturan petugas kecamatan dan warga sebelumnya, hanya ada satu padepokan Tari Ujung di Kecamatan Tarik. Nah, padepokan itulah yang kami datangi. Pembesarnya saat ini adalah Sudjari dan Muali.


Sudjari tidak sendiri saat kami jumpai di rumahnya. Ada Abas, 60, penari Ujung lainnya. Kami sangat beruntung. Mereka berkenan menampilkan Tari Ujung. Seni tari itu mereka geluti sejak anak-anak. Sore itu Sudjari dan Abas yang tampil. Muali memilih istirahat di sekitar kediaman Sudjari. Ikut menyimak.


Langit mulai berwarna keemasan saat Sudjari dan Abas memperagakannya. Mengenakan celana panjang hitam dan udeng di kepala, masing-masing memegang kayu menjalin. Tarian tersebut dibuka dengan serangkaian gerakan. Lebih mirip gerakan melemaskan otot-otot. Terutama pada pergelangan tangan, bahu, dan pundak.


Sejurus kemudian, Sudjari mulai mencambukkan kayu menjalin itu pada Abas. Mereka berjibaku. Namun, Abas menangkisnya dengan memblokade pukulan tersebut. Dua kayu menjalin yang mereka pegang beradu. ’’Plas’’. Terdengar suara yang nyaring.


Sesaat kemudian, giliran Abas yang memukul. Dia, tampaknya, mengincar bagian pundak Sudjari. Dengan gesitnya, Abas meloncat sembari mencambukkan kayu menjalin itu. Meski sudah berupaya menangkis cambukan itu dengan kayu menjalin-nya, Sudjari masih terkena.


Belasan kali mereka saling bergantian memukul. Pundak dan punggung keduanya sudah banyak balur yang memerah. Ketika terdengar lamat-lamat suara azan magrib, mereka menyudahi pertempuran itu.


Menurut Sudjari, untuk menampilkan Tari Ujung secara komplet, diperlukan beberapa persyaratan. Salah satunya, ada penengah atau wasit. Fungsinya membagi pukulan setiap penari. Jika satu penari selesai memukul, kesempatan memukul selanjutnya diberikan pada penari lain. Wasit pula yang membatasi jam menari.


Syarat berikutnya adalah hadirnya lebih dari dua penari. Idealnya, Tari Ujung dipertontonkan sekitar 15 menit. Para penari yang terlibat di dalamnya akan saling memukul. Tentu butuh waktu untuk istirahat sebelum kembali berjibaku.


Perlengkapan lainnya adalah iringan musik gamelan, beras kuning, kemenyan, dan pisang hijau. Gamelan akan memeriahkan suasana tari. Beras kuning mewakili harapan pada Yang Mahakuasa agar para penari dan masyarakat di sekitarnya makmur. Kemenyan berfungsi untuk menghormati roh leluhur yang hadir menyaksikan pementasan tari tersebut. Sementara itu, pisang hijau berfungsi sebagai penghilang luka atau lecet pada kulit.


Muali merupakan mantan Kasun di era 80-an. Menurut dia, dulu banyak remaja yang mempraktikkan tradisi Ujung. Kini hanya segelintir orang yang masih mau melakoninya. Dia mengetahui tari itu dari gurunya, sesepuh desa setempat. Bagi Muali, tradisi tersebut harus dilestarikan sekalipun ayah dan ibunya bukan penari Ujung.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore