Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 September 2017 | 13.35 WIB

Fenomena Klasik Hajatan hingga Menutup Jalan di Sidoarjo

PUTAR BALIK: Menjelang akhir pekan banyak warga Sidoarjo mengadakan hajatan maupun acara pernikahan. Masalahnya mereka memilih menutup jalan. - Image

PUTAR BALIK: Menjelang akhir pekan banyak warga Sidoarjo mengadakan hajatan maupun acara pernikahan. Masalahnya mereka memilih menutup jalan.

JawaPos.com- Bulan besar, sebutan untuk Zulhijah, diyakini sebagian masyarakat sebagai momentum yang pas untuk menggelar hajatan. Salah satunya adalah menikah. Momen yang diupayakan sekali seumur hidup tersebut menjadi kebahagiaan bagi keluarga pengantin. Karena itu, biasanya mereka mengundang banyak kerabat, teman, dan kolega untuk turut hadir dalam acara tersebut.


Lantaran keterbatasan tempat, dalam hal ini rumah, sedangkan jumlah tamu yang diundang banyak, pemilik hajat menggelar resepsi di jalan depan rumah. Bahkan hingga menutup rumah tetangganya. Sebagian orang akan maklum dengan kondisi tersebut. Toh, masih bisa lewat jalan yang lain. Selain itu, mau bagaimana lagi. Lha, enggak punya halaman luas. Ya, terpaksa menutup jalan. Namun, banyak pula pengguna jalan yang nggerundel. Apalagi saat kondisi terburu-buru.


Misalnya, pada Sabtu (16/9). Jawa Pos ingin mengamati seberapa banyak warga yang menutup jalan untuk acara pernikahan. Akhirnya ketemu. Salah satu rumah di Desa Pagerwojo menutup penuh jalan selebar 6 meter di depan rumahnya. Itu adalah jalan Perum Jenggolo Asri yang terhubung ke Jalan Randu Asri. Seluruh jalan ditutup. Bahkan, motor tak bisa lewat.


Jadi, pengguna jalan yang mau menuju arah Dusun Sono, Desa Sidokerto, atau sebaliknya harus berputar melalui Jalan H Ali Mas’ud. Tak apa lah, untung, masih ada jalan alternatif. Kami coba berhenti sebentar untuk melihat respons beberapa pengguna jalan.


Ternyata, ada pengguna motor yang memaksa melintasi tanda peringatan jalan ditutup. Hanya 4 meter dari papan tersebut, dia putar balik. Sebelumnya, dia sempat menyeletuk. ”Aduh, lewat endi iki,” katanya. Pagi-pagi sudah harus muter-muter.


Bukan hanya di situ, saat Jawa Pos ingin menuju ke arah kota, dari Jabon, kami berencana lewat Jalan Raya Ngaban, Kecamatan Tanggulangin, agar bisa tembus ke Jalan Raya Sumorame. Eh, apes. Jalan Raya Ngaban juga ditutup penuh. Pengguna jalan dari timur diberi papan petunjuk untuk belok ke utara.


Kami mengikuti petunjuk tersebut. Setelah belok kanan, kami belok kiri mengikuti jalan. Eh, lha kok buntu. Ternyata, jalan itu mengarah ke Pasar Ngaban. Kami nekat terus masuk ke lingkungan pasar. Untung siang. Jadi, banyak lapak yang kosong. Kami bisa melintas di pinggiran lapak walaupun sangat sempit. Cukup untuk satu motor.


”Sudah dari dulu begitu, nggak tahu pastinya kapan. Saya saja pernah nyasar gara-gara jalan ditutup,” ujar Bayu Purnama Putra, warga Desa Ngaban, Tanggulangin. Dia sih memaklumi. Namun, bagaimana jika pengguna jalan tersebut terburu-buru.


Misalnya, sedang sakit, mau melahirkan, atau buru-buru ke tempat kerja. Sementara itu, petunjuk menuju jalan alternatif tidak jelas. Sudah gitu, sempit pula. Tak jarang, hal tersebut menimbulkan kemacetan parah. Seharusnya saling pengertian. Bisa sewa gedung yang murah atau pakai halaman yang lapang. Bukan menutup jalan. ”Nanti kalau nikah, saya nggak mau nutup jalan,” tekadnya.


”Kalau di sini, kadang juga ada warga yang menikah dengan menutup jalan, tapi ya jalan kampung,” ucap Kepala Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Abdul Kodir. Dia menyatakan, sebenarnya ada beberapa warga yang mau jika harus sewa tempat. Sebab, halaman rumahnya tidak memadai. Sayang, belum ada persewaan tempat nikah yang memadai di sana. ”Kalau harus sewa gedung, harus ke Porong, jauh,” lanjutnya.


Karena itu, warga setempat mengusulkan agar Desa Bulang punya badan usaha milik desa (BUMDes) persewaan gedung serbaguna. Yang bisa digunakan untuk nikah warga. Tentu, harganya terjangkau. ”Tahun depan kami mulai bangun gedung tersebut di lingkungan balai desa ini,” jelasnya.


Sejauh ini, Desa Bulang sudah membangun ruang serbaguna di lantai 2 Balai Desa Bulang. Namun, peruntukannya masih sebatas ruang pelatihan warga desa, rapat PKK, pertemuan RW, dan tempat bimbingan belajar siswa. Belum memadai jika digunakan untuk perayaan pernikahan besar yang mengundang banyak tamu.




Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore