Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Mei 2025 | 02.45 WIB

Kelas Menengah ke Atas Lebih Resilien dari Goncangan Ekonomi, Pembeli Hunian Rp 2-5 Miliar Dominasi Penjualan Pakuwon

Maket proyek pengembangan Pakuwon City yang mencapai 600 Hektare. Saat ini tercatat ada 8.800 KK di kawasan Pakuwon City.  (Foto: Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos) - Image

Maket proyek pengembangan Pakuwon City yang mencapai 600 Hektare. Saat ini tercatat ada 8.800 KK di kawasan Pakuwon City. (Foto: Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pengembang Surabaya terus berupaya untuk bisa menggenjot kinerja penjualan pada 2025. Mereka merasa bahwa potensi insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPNDTP) masih menjadi senjata ampuh terutama untuk kelas menengah ke atas. Karena itu, mereka masih mengandalkan penjualan rumah ready stock dalam event seperti pameran.

Direktur Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi mengatakan, tantangan bagi perusahaan properti tahun ini memang cukup berat. Salah satunya, daya beli masyarakat yang sedang melemah. Hal tersebut otomatis juga membuat calon pembeli mengeremi belanja properti.

"Tapi, kondisi itu bisa disikapi sebagai kesempatan. Terutama, bagi konsumen," jelasnya di sela pameran produk properti Golden Age - Pakuwon Group Property Expo 2025 di Surabaya kemarin (8/5).

Dia menjelaskan, keadaan ini membuat pengembang akhirnya menahan kenaikan harga. Apalagi, perusahaan properti yang tak pernah berhenti membangun produk akhirnya juga harus memberikan gimmick agar produk terjual. Alhasil, semua keuntungan itu bisa menjadi momen calon pembeli untuk menjalankan aksi.

Dia mengatakan, harga yang masih tertahan itu bukan efek yang permanen. Di saat siklus naik, bisa jadi kenaikan harga properti lebih tinggi dari biasanya. Karena itu, dia berupaya untuk memperkenalkan semua produknya agar masyarakat menyadari momen tersebut.

Direktur Pakuwon Group, Fenny Loisa menambahkan, kinerja perseroan di kuartal I 2025 masih bisa menyerap sebesar 20 persen dari target tahun ini. Di sektor pengembangan, pihaknya mengatakan bahwa penjualan rumah tapak justru mendominasi dengan kontribusi 67 persen.

"Berbeda dengan tahun lalu di mana high rise justru banyak. Tahun ini sepertinya banyak pembelian landed house," jelasnya.

Pada kuartal II tahun ini, pihaknya masih mengandalkan insentif PPNDTP. Hal tersebut juga terlihat dari catatan penjualan selama kuartal I, 59 persen penjualan datang dari hunian ready stock yang otomatis memanfaatkan program tersebut. Tahun ini, mereka mempunyai 680 unit rumah stok baik landed maupun vertikal dengan total nilai Rp 1 triliun di Surabaya. Harapannya, nanti produk ready itu juga bisa menggenjot penjualan selama pameran.

Sementara itu, Head of Sales & Marketing Pakuwon Group, Liliani Harsono menjelaskan, pihaknya sendiri mengatakan masih optimistis dengan target pameran sebanyak Rp 250 miliar. Menurutnya, pihaknya akan mencoba mengincar properti segmen menengah.

Menurutnya, produk dengan kisaran harga Rp 2-5 miliar itu justru tak seberapa terdampak dengan goyangan ekonomi. Hal tersebut juga terlihat dari komposisi penjualan. Rupanya kontribusi rumah harga Rp 2 miliar-5 miliar mencapai 55 persen dari total penjualan. 

Sedangkan, rumah dengan di bawah Rp 1 miliar mencapai 15 persen. Rumah dengan harga Rp 1 miliar-2 miliar berkontribusi 16 persen. "Kami masih optimistis bisa mencapai target dengan strategi yang ada," terangnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore