Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Desember 2018 | 00.00 WIB

Politisasi Agama dari Sudut Pandang Romo Benny

Rohaniawan Romo Benny Susetyo berharap tak ada lagi politisasi agama dalam kehidupan bernegara. - Image

Rohaniawan Romo Benny Susetyo berharap tak ada lagi politisasi agama dalam kehidupan bernegara.

JawaPos.com - Minimnya gagasan dan program yang ditawarkan menjadikan agama sebagai komoditas untuk meraih simpati calon pemilih di pemilu 2019. Demikian disampaikan oleh rohaniawan Romo Benny Susetyo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (29/12).


Romo Benny mengatakan, sayangnya, saat ini masyarakat pun malah tampak lebih tertarik dengan isu yang menyentuh emosi, ketimbang memikirkan secara objektif program yang ditawarkan para calon.


"Karena sekarang orang lebih ke emosional daripada gagasan program," ujarnya.


Isu-isu yang menggugah emosi, apalagi yang bersinggungan dengan agama, kata Romo Benny, mudah sekali dimainkan untuk menarik simpati dari masyarakat. Bahkan kaum intelektual juga banyak yang percaya.


Inilah yang menurut Romo Benny menjadi alat ampuh politisasi agama. "Emosional mudah dibakar. Bayangkan, masyarakat dan doktor saja bisa percaya. Masyarakat (yang dimaksud adalah) yang melek teknologi (tapi) tidak diimbangi dengan (pemikiran) kritis dan ketajamam," ungkapnya.


Oleh sebab itu, Romo Benny berpesan supaya kedua pasangan capres-cawapres dan tim kampanye lebih mengedepankan gagasan program. Khususnya, mengenai cara mengatasi tantangan yang ada selama ini.


"Jadi, harusnya debatnya mengenai persoalan pemerataan. Bagaimana Pancasila mengatasi kemiskinan, mengatasi masalah kesenjangan, serta menciptakan pendidikan yang bermutu dan berkualitas," ungkapnya.


Sementara itu, Romo Benny, juga berpesan kepada masyarakat agar tidak langsung percaya akan kabar yang berseliweran di media sosial. Sebab, jika masyarakat langsung menyebarkan hoaks, maka rantai kegaduhan tidak akan pernah putus.


"Jadi, kebohongan masif yang terus-menerus dipercaya, (akan) menjadi kebenaran. Kebanyakan intelektual kita bukan pemutus kata, tapi pengiya kata," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore