Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Desember 2018 | 17.05 WIB

Pemilu Memanas, Gatot: Media Harus Jadi 'Cooling System' Masyarakat

Dua paslon yang bertarung dalam Pilpres 2019. Satgas Nusantara menyebut media memiliki peranan penting dalam menjaga kondusifitas Pemilu 2019. - Image

Dua paslon yang bertarung dalam Pilpres 2019. Satgas Nusantara menyebut media memiliki peranan penting dalam menjaga kondusifitas Pemilu 2019.

JawaPos.com - Jelang hajatan Pilpres 2019, konstelasi politik kian memanas. Hal itu diperparah dengan masifnya sebaran sejumlah informasi yang bersifat hoax, adu domba, hingga berbau SARA.


Media sebagai pilar keempat demokrasi memiliki peranan vital terkait hal ini. Terutama menjadi unsur yang menetralisir berita-berita yang berpotensi memecah belah bangsa.


Pesan tersebut disampaikan Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Nusantara, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono ketika berbicara dalam acara diskusi akhir tahun bertajuk 'Evaluasi Akhir Tahun, Pemilu di Tengah Menguatnya Politik Identitas, Rakyat Untung Apa Buntung?. Diskusi digelar Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI) di Cordela Hotel Senen Jakarta pusat, Kamis (27/12).


Hadir dalam acara ini sebagai pembicara kunci (keynote speaker) Kepala Satuan tugas (Kasatgas) Nusantara Irjen Pol Gatot Eddy Pramono, MSi. Selain itu hadir pula Akademisi Agus Hari Hadi dan Pengamat Media Ali Sadikin.


"Isu SARA paling harus diwaspadai dalam perkembangan informasi sekarang ini sebagai salah satu inflementasi dari pemilu yang akan kita hadapi di tahun 2019 nanti," jelas Eddy.


Menurut Asrena Kapolri itu, pemilu sekarang ini memiliki potensi kerawanan. Karena ada persaingan dalam internal partai antara caleg dalam parpol dan antar parpol. "Para caleg akan mencari pendukung suaranya sebanyak mungkin boleh saja. Asal jangan menggunakan berita hoax, politik identitas, money politic, dan cara-cara yang keluar dari koridor," tegas Gatot.


Dia menambahkan, analisa kerawanan pemilu 2019 dimana pileg dan pilpres diselenggarakan serentak dengan parliamentary threshold 4 persen, maka parpol akan bersaing keras merebut suara dalam pileg dan pilpres.


"Politik identitas, politisasi SARA, berita hoax, ujaran kebencian dengan pemanfaatan isu-isu yang dapat memecah belah, black campaign digunakan dengan sangat masif di tahun politik ini. Maka untuk menangani semua itu di bentuklah Satgas Nusantara Polri sebagai 'cooling system' (pendingin) di tengah masyarakat," beber Gatot.


Selain itu, ujar Gatot, Indonesia memiliki 715 suku bangsa dimana 117 juta penduduk Indonesia memakai alat HP digital dan menggunakan internet. Sehingga potensi penyebaran berita-berita hoax sangat besar terjadi tanpa filter, terutama di media sosial.


"Media sebagai Pilar Ke-4 demokrasi, memiliki tanggung jawab yang sama bersama TNI/Polri menciptakan cooling system karena kita mempunyai visi yang sama untuk menjaga NKRI Indonesia. Jangan sampai terpecah-belah. Indonesia adalah rumah keberagaman yang unik di dunia, media jangan menjadi kompor, tetapi hendaklah menjadi cooling system di tengah masyarakat," pungkasnya.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore